15
Mar
12

Antara Resiko, Tanggungjawab dan BBM

Meskipun banyak masyarakat yang tidak setuju bahkan rela turun ke jalan melakukan demo penolakan yang seringkali berujung ricuh, pemerintah nampaknya tetap akan menaikkan harga premium dan solar untuk mengurangi beban anggaran negara yang selama ini digunakan untuk mensubsidi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) pada 1 April 2012.

Jika tidak salah ingat, keluhan pemerintah mengenai beratnya menanggung subsidi BBM sudah muncul sejak lama, bahkan sejak bertahun-tahun yang lalu. Mencermati kenyataan harga BBM yang harus naik, perlu kita sikapi dengan lebih menggunakan logika ketimbang emosi dan otot – tanpa melupakan kenyataan bahwa pemerintah masih punya PR untuk mengelola negara ini dengan lebih baik dan membersihkan diri dari banyak ketidak beresan.

Karena saya bukan ekonom, tapi hanya sekedar bagian kecil dari masyarakat yang belajar “nrimo” dengan keadaan, saya mencoba melihat kenyataan yang akan kita hadapi ini dari sudut pandang yang sederhana, yang bisa memicu saya untuk lebih belajar menjadi sosok yang tidak manja dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang sudah saya ambil.

Tentunya kita semua merasakan, bahwa belakangan jumlah kendaraan bermotor terus meningkat. Jakarta semakin macet, demikian juga kota-kota di daerah yang semula lengang sekarang sudah riuh dengan kendaraan bermotor. Cara berpikir sederhana saya menyimpulkan, peningkatan jumlah kendaraan otomatis akan memicu peningkatan konsumsi BBM. Efek domino dari peningkatan konsumsi BBM bisa jadi memicu peningkatan anggaran negara yang digunakan untuk mensubsidi BBM.

Jika demikian, sebenarnya kita masing-masing juga ikut berperan secara tidak langsung dalam menciptakan situasi sulit ini. Saya mencoba flash back ke beberapa tahun silam, tidak semua keluarga memiliki kendaraan bermotor – keluarga saya termasuk cukup beruntung karena waktu itu ayah mampu membeli sebuah sepeda motor bebek. Saat ini, tidak sedikit keluarga yang memiliki lebih dari satu sepeda motor, motor bapak, motor ibu, motor kakak, motor adil. Dulu, kita banyak menjumpai pelajar SMA berjalan kaki, naik sepeda atau angkutan umum saat berangkat sekolah – saat SMA saya berjalan kaki, dan menggunakan bis non AC saat pulang dari Jogja ke Magelang, bahkan tidak sedikit teman-teman saya yang bersepeda untuk ke sekolah dari Klaten ke Jogja. Sekarang setiap pagi menjelang jam 7 jalanan di kota dipenuhi oleh pelajar bersepeda motor. Tukang sayur yang dulu berjualan dengan gerobak dorong pun sekarang sudah menggunakan sepeda motor.

Dulu mau naik angkutan kota harus rela berjubel-jubel dan berlari mengejar angkot – saya masih ingat sering menggunakan jasa angkot di Purwokerto yang selalu penuh mengisi mobilnya dengan penumpang sampai untuk melangkah pun sulit 🙂 . Sekarang banyak angkutan kota yang sepi sehingga sopir angkot merasa perlu menunggu penumpang lebih lama dan akhirnya penumpang pun merasa banyak waktu yang terbuang kalau memilih menggunakan angkutan umum. Saya kadang berpikir, jika dulu kita mau naik angkutan umum kenapa sekarang harus menunggu adanya angkutan umum yang memadai baru kita mau menggunakan fasilitas ini? Kalau saya lihat angkutan umum di Indonesia – mulai angkutan kota hingga bus – dari jaman dulu ya sudah seperti itu – seadanya. Malah sekarang lebih enak karena banyak yang sudah dilengkapi pendingin udara. Lalu pertanyaan lain pun muncul, kendaraan adalah kebutuhan sekunder – dimana kita masih bisa hidup kala kebutuhan ini tidak terpenuhi. Apakah kita yang mampu memenuhi kebutuhan sekunder masih ingin digolongkan sebagai masyarakat yang tidak mampu yang masih harus disubsidi bahan bakar kendaraannya? Tentunya akal sehat akan berkata tidak.

Memang tidak ada salahnya jika saat ini banyak yang memiliki dan memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi. Justru patut disyukuri karena fenomena ini menandakan semakin meningkatnya kualitas hidup rakyat Indonesia. Namun sangat disayangkan jika kita tidak sadar dan protes keras saat diminta mengeluarkan dana lebih (harga BBM) untuk sebuah kenyamanan, kenikmatan, kemudahan, penghasilan dan bahkan mungkin prestige yang kita dapatkan saat menggunakan kendaraan pribadi. Bagi saya, akan lebih pas jika protes (tanpa ricuh) itu lebih ditujukan agar pemerintah bisa memastikan harga bahan makanan yang menjadi kebutuhan primer tidak naik, ongkos angkutan umum tidak naik plus menyediakan angkutan umum yang nyaman, meminta pemerintah menyalurkan subsidi dengan benar ke dunia pendidikan agar kita memiliki guru-guru yang lebih berkualitas sehingga anak-anak kita pun mendapat pendidikan yang baik, serta mendesak pemerintah untuk mengelola negara ini dengan sebenar-benarnya.

Dari gejolak yang terjadi belakangan hari ini, pelajaran yang bisa kita renungkan adalah bertanggungjawab atas resiko yang muncul dari keputusan (dalam hal apapun) yang kita ambil. Misalnya, pada saat kita memutuskan untuk membeli sesuatu kemudian menggunakannya demi kenyamanan, kecepatan kemudahan dan lain sebagainya, pada saat yang sama kita juga perlu menyadari adanya resiko biaya yang harus kita keluarkan berapapun besarnya. Jika kita enggan atau berat menanggung resikonya, kenapa kita berani mengambil keputusan tersebut? Saya rasa tidak ada satupun keputusan atau pilihan yang tidak mengandung resiko. Apapun keputusan kita, apapun pilihan kita semuanya beresiko – entah besar entah kecil, entah berat entah ringan. Pilihlah sebuah keputusan dengan resiko yang paling mampu kita tanggung, tanpa menjadi manja – mengeluhkan atau berharap ada pihak lain yang membantu kita menanggung resiko yang harus kita hadapi. Inilah yang kita sering sebut dengan bertanggungjawab.

Tulisan ini sekedar opini saya - yang masih terus belajar berani menanggung resiko dan sudah tidak menggunakan BBM bersubsidi sejak 2006 :)
Iklan

0 Responses to “Antara Resiko, Tanggungjawab dan BBM”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 561,752 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: