03
Jan
12

Belajar Siaran ala Raja George VI

Banyak teman-teman penyiar bertanya, bagaimana cara mengatasi salah ucap atau kesleo lidah saat siaran. Sepertinya, apa yang kita alami ini juga dialami oleh Raja George ke 6 yang menderita gagap jika berbicara di depan banyak orang. Penyakit ini menjadi kendala baginya, saat raja Inggris di era 1930an ini harus menyampaikan pesan melalui siaran radio ataupun saat berpidato didepan banyak orang. Perjuangannya untuk berlatih agar bisa berbicara lancar di depan mic dikisahkan dalam film The King’s Speech yang meraih piala Oscar ke 83 di tahun 2011 lalu. Klimax dari film ini adalah siaran radio pada tanggal 3 September 1939, dimana raja George ke 6 mengumumkan melalui radio bahwa pemerintah Inggris memutuskan untuk ikut terlibat dalam perang yang kemudian hingga sekarang kita kenal sebagai perang dunia ke 2.

Sebelum kita membicarakan apa saja yang dilakukan oleh Raja George ke 6 untuk mengatasi kesulitannya berbicara di depan mic, saya tertarik untuk mencuplik sedikit adegan awal dari film ini.

Dalam cuplikan film diatas bisa kita lihat, bagaimana seorang penyiar – dalam film ini adalah penyiar radio BBC – mempersiapkan diri sebelum siaran. Dia memastikan alat miliknya untuk menghasilkan suara, yaitu tenggorokannya tidak bermasalah sehingga suara yang dikeluarkan pun tidak terganggu. Kemudian mengukur jarak antara mulut dengan mic dan sedikit melakukan senam mulut sekaligus melatih lidah dan bibir mengucapkan suku kata yang susah bebebebebe….tetetetetete…agar suara tidak cacat, tidak menimbulkan suara beb beb beb karena mic menerima dorongan udara yang berlebihan dari mulut kita. Apakah penyiar kita melakukan hal yang sama? Kalau belum tidak ada salahnya jika kita mulai mencobanya.

Kembali ke tokoh yang kita bicarakan dalam tulisan ini, raja George ke 6. Untuk menyembuhkan demam mic yang dideritanya, raja George ke 6 memanggil seorang pelatih untuk mendampinginya. Latihan dilakukannya terus menerus, mulai dari latihan fisik untuk mengurangi ketegangan agar tubuh menjadi lebih rileks. Karena pada saat kita tegang, kemungkinan untuk salah ucap menjadi lebih besar, apalagi jika kita tergolong sebagai orang yang mudah gugup.

Selain latihan fisik, biasakan untuk melakukan latihan membaca naskah siaran, baik materi kata maupun iklan baca / adlibs. Saat menyampaikan isi naskah ke pendengar kendalikanlah emosi, jangan terburu-buru dan berkonsentrasi. Lakukanlah latihan ini terus menerus, meskipun kita tidak sedang akan siaran.

Supaya bisa siaran dengan tenang tanpa gangguan jangan datang ke studio pas saat akan siaran. Datanglah lebih awal 30 menit sebelum siaran sehingga kita bisa memiliki waktu lebih untuk melakukan persiapan, baik mempersiapkan diri maupun mempersiapkan bahan-bahan siaran. Dan yang terpenting, jauhkan dari hal-hal yang mengganggu, seperti handphone atau hal-hal lain yang bisa memecah konsentrasi kita.

Selain itu pada saat latihan atau sebelum siaran, kita juga perlu memberi tanda jeda atau titik dan juga intonasi disebelah mana nada kita naik atau turun sehingga apa yang kita sampaikan tidak monoton.

Yang tidak boleh dilupakan, adalah adanya pelatih atau trainer yang mendampingi, memandu, mengkoreksi dan membimbing penyiar agar bisa berbicara di depan mic dengan baik, baik pada saat latihan maupun siaran.

Semoga bermanfaat bagi anda yang selalu ingin belajar dan menjadi yang terbaik.

Iklan

4 Responses to “Belajar Siaran ala Raja George VI”


  1. 1 Erwin Bimasakti
    Januari 3, 2012 pukul 9:29 am

    Sangat menginspirasi ke arah yang lebih baik >>>> thank u mr alex….

  2. Januari 4, 2012 pukul 1:07 pm

    Ada suatu yang terpenting dalam film ini dimana seorang Raja dengan tulus mau belajar dari seorang guru yang tanpa gelar, jika di samakan dalam dunia kepenyiaran, memang rasa pasrah atau percya terhadap pelatih itu sangat-lah penting sehingga mekanisasi profesionalisme tetap terjaga sehingga dapat membuat result yang jelas. Seperti dalam King’s Speech Sang raja benar-benar profesional dalam berperan sebagai seorang murid/orang yang dilatih. Makanya jika ada penyiar kok bersikeras, ngeyel terhadap suatu SOP atau pelajaran siaran ya berarti dia tidak paham apa yang dimaksud dengan belajar lebih baik.

  3. 3 r14nul
    Februari 12, 2012 pukul 10:42 pm

    postingan ini membuat saya semangat kembali 🙂

  4. November 9, 2012 pukul 2:17 pm

    Ternyata streeching/pemanasan sebelum siaran itu penting….. 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 559,865 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: