07
Okt
11

Bisnis Pak Ogah, Bisnis Puluhan Juta

Di tengah sengatan sinar matahari dan riuhnya lalulintas kota besar, sering kita jumpai sekelompok orang di sejumlah titik putaran balik atau persimpangan padat lalulintas yang sibuk meniup priwitan / sempritan untuk menghentikan kendaraan dan menyeberangkan mobil. Sebagai imbalannya, pengendara mobil memberikan uang ribuan ke petugas sipil yang sering dipanggil polisi cepek atau pak Ogah itu.

Tertarik melihat kegiatan mereka, saya sempatkan sedikit menanyakan berapa sebenarnya penghasilan mereka, sehingga lebih suka bekerja di tengah jalan – yang bagi sebagian orang dirasa mengganggu – dibandingkan dengan mencari pekerjaan lain. Jawabannya cukup mengejutkan karena 1 orang pak Ogah hanya cukup bekerja selama 2 jam per hari untuk bisa mendapatkan penghasilan minimal Rp. 1.500.000,- per bulan bahkan lebih. Dan selanjutnya, seorang pak Ogah yang biasa beroperasi di daerah Kebraon Surabaya pun mengajari saya hitung-hitungannya.

1 titik persimpangan, biasanya digarap dari jam 05.00 – 21.00 atau 16 jam oleh 1 tim pak Ogah, yang berjumlah 16 orang. Mereka dibagi menjadi 8 shift kerja yang masing-masing terdiri dari 2 orang, dengan durasi kerja selama 2 jam per shift. Dalam kurun waktu 2 jam kerja itu, 1 shift di saat sepi – misalnya di malam hari – rata-rata bisa menghasilkan Rp. 100.000,- atau Rp. 50.000,- per orang. Bisa disimpulkan, dalam 2 jam ada sekitar 100 pengemudi mobil yang memberikan Rp. 1.000,- ke pak Ogah. Faktanya, yang tidak memberi uang atau hanya sekedar memberi rokok jauh lebih banyak. Namun tidak sedikit juga pengemudi yang menyodorkan pecahan Rp. 2.000,- untuk membayar jasa pak Ogah.

Lalu apakah memang semudah itu mendapatkan uang di jalanan? Sudah pasti tidak. Saat saya tanyakan apakah harus setor ke preman penguasa di daerah itu? Pak Ogah menggelengkan kepala. “Justru setor ke Polisi bos!”,begitu katanya. Ternyata setiap bulan para pak Ogah di jalanan harus setor ke oknum Polisi yang rutin datang untuk mengambil upeti. Besarnya uang yang harus diberikan oleh pak Ogah dan teman-temannya adalah Rp. 5.000,- per hari per orang. Jika 1 tim terdiri dari 16 orang, maka besarnya upeti adalah Rp. 5000,- x 16 orang x 30 hari = Rp. 2.400.000,- per bulan. Ini baru upeti dari 1 titik persimpangan. Tentunya jumlah upeti yang didapat oleh oknum itu akan menjadi lebih besar jika banyak titik persimpangan yang diharuskan memberikan setoran. Lalu, bagaimana jika para pak Ogah nekat tidak memberikan setoran? Dengan muka serius pak Ogah menjawab ,”Ya aku ditangkap, bos! Nggak boleh semprit-semprit di sini (persimpangan) lagi.”

Selain memberikan upeti, ada modal yang harus dibayarkan oleh mereka yang berminat menjadi calon pak Ogah baru. Istilahnya adalah membeli trayek. Trayek yang dimaksudkan adalah hak untuk menjadi pak Ogah selama 2 jam di waktu yang sudah ditentukan. Calon pak Ogah harus mencari pak Ogah lama yang ingin berhenti dan melepaskan trayeknya ke orang lain. Harga jual trayek, minimal Rp. 1.000.000,- tergantung pada ramai tidaknya persimpangan dan jam shift-nya. Sekali bayar dan berlaku seumur hidup. Saat ini katanya harga trayek itu sudah meningkat jauh lebih mahal. Iseng saya tanyakan, kalau ada yang mau membeli trayekmu berapa yang harus dibayar? Pak Ogah menggelengkan kepala,” 5 juta saja nggak saya lepas. Mau kerja apa saya kalau trayek ini saya jual.”

Ternyata tidak semua pak Ogah di persimpangan jalan adalah preman atau orang yang bisa dicap negatif. Banyak dari mereka yang hanya sekedar mencari nafkah di tempat-tempat yang tidak tertangani oleh aparat yang seharusnya bertugas. Bahkan mereka bisa menciptakan perputaran uang yang cukup tinggi, dimana jika dalam 2 jam saja ada 100 mobil yang memberikan uang Rp. 1.000,- maka dalam 1 bulan sebuah persimpangan jalan bisa menghasilkan Rp. 24.000.000,- bagi sekelompok polisi cepek (100 mobil x Rp. 1.000,- x 8 shift x 30 hari). Sebuah contoh kristalisasi keringat ditengah semakin sulitnya rakyat menikmati kemakmuran di negeri yang dahulu katanya subur dan makmur ini!

Catatan setelah berbincang dengan pak Ogah: Jangan biarkan kepala kita selalu mendongak ke atas, karena disamping leher jadi sakit, efek lain akan membuat kita merasa kurang. Sesekali perlu untuk menengok ke bawah karena dengan melihat mereka yang ada di bawah akan membuat kita mensyukuri apa yang kita miliki.
 
*foto hanya sekedar illustrasi
Iklan

0 Responses to “Bisnis Pak Ogah, Bisnis Puluhan Juta”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 565,119 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: