25
Sep
11

Bom Solo – Kesalahan Kecil Yang Mengganggu

Indonesia kembali berduka, saat Minggu 25 September 2011, sekitar jam 11 siang, sebuah ledakan yang diduga bom bunuh diri terjadi di Gereja Bethel Injil Sepenuh. Informasi pun mengalir cepat dari sejumlah media online, jejaring sosial dan radio. Selang beberapa saat televisi pun tidak ketinggalan menyiarkan berita menyedihkan ini.

Namun sayang, kecepatan dan aktualitas berita tidak disempurnakan dengan kemauan pemberita dilapangan dan penulis naskah di ruang redaksi untuk sedikit menahan nafsu menjadi yang tercepat, dengan sedikit mencari data tambahan atau melakukan koreksi silang.Dalam pemberitaan bom GBIS Solo ini – seperti juga terjadi dalam beberapa peliputan peristiwa besar sebelumnya, media seringkali melakukan kesalahan penyebutan / penulisan nama, baik tempat maupun orang. Ada sebuah stasiun televisi yang salah menyebut rumah sakit dr Oen (seharusnya dibaca un – ejaan lama, bukan o en), bahkan GBIS yang seharusnya merupakan singkatan dari Gereja Bethel Injil Sepenuh malah ditulis / disebut sebagai Gereja Bethel Injil Sepuluh. Kesalahan ini bahkan terjadi di sejumlah media besar, bahkan internasional yang selama ini dipercaya kredibilitasnya oleh konsumen media.

Sebenarnya, untuk mengantisipasi kesalahan ini ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh pemberita untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan baca / tulisan – selain dengan mencari tambahan informasi. Antara lain cukup dengan menyebutkan sebuah Gereja di Solo, atau dengan menambahkan nama daerahnya yaitu Kepunton, atau cukup menyebutkan GBIS Solo.

Kesalahan lainnya – terutama di media televisi – adalah kebiasaan memutar ulang klip berita apa adanya, tanpa melakukan updating / pembaruan berita. Sehingga saat terjadi ralat informasi dari narasumber berkaitan dengan jumlah korban – semula 2 orang (1 orang pelaku dan 1 orang jemaat Gereja) menjadi hanya 1 orang yaitu pelaku pemboman, klip berita yang tidak diperbarui justru menjadi informasi yang tidak kredibel karena menyebutkan jumlah korban yang salah. Hal ini tidak akan terjadi jika bagian produksi berita selalu mengikuti perkembangan peristiwa dan tidak nekat memutar informasi yang sudah basi. Perlu dicatat, bahwa saat ini tenggat waktu media berita digital dan elektronik (radio / tv) bukan lagi per hari atau jam, melainkan setiap saat.

Memang, kesalahan ini bukan kesalahan besar, namun bukan juga sebuah kesalahan yang tidak bisa dihindarkan jika pemberita mau sedikit meluangkan waktunya untuk memperbarui rekaman berita, mencari tambahan informasi dan melakukan koreksi ulang.

Iklan

0 Responses to “Bom Solo – Kesalahan Kecil Yang Mengganggu”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 565,239 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: