15
Mar
11

Think the Unthinkable

Persaingan media (termasuk radio) dalam memperebutkan income untuk saat ini dan masa depan, akan semakin ketat. Internet dan mobile gadget yang selama ini dianggap hanya sebagai alat atau bahkan sekedar mainan, diam-diam menggerogoti pasar sumber pemasukan utama bagi media konvensional, yaitu iklan.

Internet, untuk saat ini sudah tidak bisa kita artikan hanya sekedar situs berita atau radio / video streaming. Saat ini semakin banyak orang mengenal internet, didukung semakin murahnya harga berlangganan internet, murahnya perangkat komputer, dan semakin mudahnya untuk mendapatkan sambungan internet. Dalam strata paling sederhana, hampir semua orang, segala usia dari semua kalangan mulai dari bawah hingga atas memiliki akun sosial media di internet. Perkembangan fans di Facebook teman-teman radio dangdut tidak bisa dibilang sedikit. Bahkan ada ibu-ibu yang sudah berumur, mengikuti dan menjadi pemenang sebuah games di Fanspage radio. Saat berkutat dengan social media, otomatis kita melakukan apa yang
disebut dengan micro blogging.

Jika ada micro blogging, dalam strata yang lebih rumit kita akan menjumpai para blogger hingga mereka yang memiliki situs pribadi. Bahkan, untuk menemukan apapun saat ini reflex kita sudah beralih dari mencari di buku ke “cari saja di internet”. Semakin akrabnya manusia dengan internet membuat dunia maya semakin dilirik oleh pengiklan untuk mempromosikan produknya dengan harga yang lebih ekonomis dan cakupan yang lebih luas meskipun efektifitasnya masih perlu dipertanyakan.

Banyak orang bilang, era internet adalah era berbagi. Jika ada yang gratis, kenapa harus bayar? Maka lahirlah generation G (generosity). Mereka dengan suka rela membagikan apa saja secara gratis di internet, dengan harapan semakin banyak orang mengunjungi situsnya. Lalu apa yang mereka dapatkan? Diantaranya adalah popularitas dan tentu saja jumlah hit /
pengunjung yang semakin banyak. Jika situs dikunjungi semakin banyak orang, pada akhirnya situs mereka akan dilirik oleh pemasang iklan. Sebuah situasi yang win-win dimana pengunjung situs senang karena mendapatkan apa yang mereka inginkan secara gratis, pemilik situs senang karena banyak yang berkunjung, dan pengiklanpun tidak rugi karena beriklan di sebuah situs yang ramai pengunjung. Dan jika semuanya digratiskan, tidak ada lagi yang
namanya bajakan :).

Saya sempat browsing mencari lokasi hotspot gratis. Tanpa di sengaja, saya menemukan sebuah situs yang rupanya milik sebuah perusahaan penyedia jasa hotspot gratis.Dalam website itu saya bisa menemukan tempat-tempat di mana perusahaan tersebut bekerjasama dan menyediakan sarana internet gratisan. Lalu, apa keuntungannya untuk perusahaan itu? Rupanya, mereka
“menanam” iklan di dalam layanan internet gratis yang disediakan. Saat pengguna melakukan koneksi, sebelum dan saat browsing, akan muncul iklan-iklan titipan para pemilik produk. Apakah akan mengganggu pengguna internet? Tidak masalah, tinggal tekan “close” selesai masalah. Kalaupun tidak ada tombol “close” saya rasa masih sebanding dengan jasa internet gratis yang diberikan.

Lalu bagaimana dengan mobile gadget seperti smart phone hingga tablet yang belakangan ramai bermunculan? Mereka yang sekedar alat, bagaimana mungkin bisa menjadi pesaing media konvensional dalam berebut iklan?
Beberapa waktu lalu, saya sempat bertemu dengan Leonard Agustinus di Jakarta. Leo yang alumni PasFM Radio Bisnis ini, sekarang berkarir di Google sebagai Account Manager Mobile Advertising Indonesia. Secara umum dia bertugas untuk mencari klien yang mau beriklan di perangkat Google mobile – AdMob. Google kita ketahui gencar mensosialisasikan OS gratisan bernama Android dan didalamnya kita bisa menemukan dan meng-install berbagai macam aplikasi gratis. Hal yang serupa – meski tidak sama – juga bisa temukan di perangkat Blackberry, Iphone dan Ipad, hingga Ovi milik Nokia. Memang tidak semuanya gratis, namun tidak sedikit yang gratis.

Melalui perangkat mobile kita bisa menemukan berbagai aplikasi, mulai aplikasi tempat jajan hingga aplikasi-aplikasi yang dibuat oleh produk pengiklan. Sebagai contoh, produsen mobil memiliki aplikasi gratis yang menyediakan info lokasi SPBU, bengkel, tips mengemudi hingga tentunya demo mobil dimana kita bisa memilih dan memunculkan jenis mobil dengan model dan warna yang kita inginkan lengkap dengan simulasi kreditnya. Sekali lagi aplikasi semacam ini bisa diunduh dengan gratis. Pemilik produk tinggal membayar ke Google / Apple / Blackbbery agar bisa menempatkan aplikasi gratisnya untuk diunduh konsumen. Pemilik produk tidak perlu beriklan ke media, mereka cukup membayar ke pemilik OS dan ..boom..! aplikasi promosinya bisa tersebar ke mana saja.Dengan aplikasi yang menarik, interaktif dan memiliki manfaat bagi penggunanya, bukan hal yang mustahil jika strategi ini mampu menarik konsumen.

Ada lagi situs penyedia berbagai macam kupon diskon. Cara ini juga bisa menjadi strategi promosi tersendiri bagi klien-klien yang memiliki outlet / toko. Mereka akan bisa merasakan langsung efek dari promosi, karena begitu mendapatkan kupon diskon melalui situs tersebut konsumen bisa segera datang berbelanja ke outlet yang diinginkan. Dari beberapa contoh
tadi – saya yakin masih banyak ribuan kreatif promosi di dunia maya, terlihat bahwa saat ini ancaman bagi media konvensional semakin besar. Semakin maju, semakin banyak pula cara-cara kreatif yang bisa dimanfaatkan oleh produsen untuk beriklan.

Ancaman? Ya! Namun ancaman ini bisa kita rubah menjadi peluang asal kita memahami cara yang benar untuk menunggangi kuda bernama tekhnologi internet dan mobil gadget ini. Mencoba untuk keluar dari belenggu media konvensional adalah sebuah keharusan. Berpikir kreatif dan mencoba merubah mindset, bahwa radio saat ini adalah tidak sekedar radio, namun menjadi jembatan untuk mempertemukan produsen dan pendengar kita, apapun itu medianya – bisa lewat gelombang fm, bisa juga lewat off air ataupun internet.

Think the unthinkable….mencoba memikirkan apa yang tidak terpikirkan, memanfaatkan keunggulan yang kita miliki dan tidak dimiliki oleh internet atau mobile gadget, yaitu komunitas pendengar radio kita.

Iklan

1 Response to “Think the Unthinkable”


  1. Juni 3, 2012 pukul 6:19 pm

    Salam happy Listening dari M radio 102,7 fm samarinda
    setuju memang kalau radio di zaman sekarang harus move on alias harus mengikuti perkembangan zaman. walaupun ada beberapa hal yang mesti dikorbankan tapi kalau tidak radio sendiri yang akan mati. 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 559,865 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: