04
Jan
11

radio feat. new media part.2

Dalam tulisan sebelumnya, saya mencatat paling tidak ada 3 hal yang harus dilakukan oleh radio konvensional agar tidak tergerus oleh new media. Best content yang mengacu kepada kebiasaan dan kebutuhan pendengar, best talent yang menjadi ujung tombak dari siaran kita, serta memanfaatkan tekhnologi – dalam hal ini new media – yang belakangan melaju semakin pesat.

Dengan memanfaatkan new media, kita tidak hanya sekedar memuaskan keinginan pendengar untuk mendapatkan lebih dari sekedar suara yang biasa mereka dengarkan melalui gelombang AM / FM kita. Melalui new media kita bisa berkomunikasi langsung dengan pendengar kita dan mengetahui siapa mereka sebenarnya. Sudah saatnya kita menyadari bahwa bisnis radio di saat ini tidak hanya sekedar bisnis siaran, namun sudah mulai bergeser menjadi bisnis mediasi antara pengiklan dengan sekelompok pendengar tertentu yang menjadi target market dari produk yang beriklan tersebut. Hal ini bisa terjadi karena media online memungkinkan pengiklan memilah siapa yang menjadi target mereka di internet, yang selanjutnya bisa kita hadirkan di alam nyata melalui kegiatan-kegiatan yang kita selenggarakan. Pada point inilah radio yang satu akan beradu kejelian dengan radio yang lain.

Dalam memanfaatkan tekhnologi internet, sebuah radio tidak perlu memiliki segala macam model new media yang ada. Belum tentu sebuah stasiun radio harus melakukan siaran streaming, website, blog, account social media dan lain sebagainya. Bisa jadi cukup dengan sms online, sebuah radio sudah bisa memenuhi kebutuhan pendengar dan pengiklannya. Untuk menentukan strategi yang tepat, kita perlu mengetahui kebutuhan dan kebiasaan pendengar kita.

Akan menjadi sia-sia jika kita membangun radio streaming, sementara pendengar kita lebih banyak bermain facebook atau twitter melalui telpon selular yang tidak memiliki kemampuan untuk mengakses radio internet, misalnya. Sebuah radio dangdut mungkin cukup memanfaatkan tekhnologi sms untuk berkomunikasi dengan pendengarnya. Untuk radio  berita akan lebih baik jika memanfaatkan websitenya sebagai situs berita online, dimana pendengar bisa membaca naskah berita atau mendengarkan kembali siaran berita melalui tekhnologi podcast / on demand broadcasting ditambah dengan update headline melalui twitter dan facebook. Sebuah radio dengan target audience teens atau radio dengan format hiburan selain memaksimalkan komunikasi dengan pendengar melalui situs social media, juga bisa melengkapi websitenya dengan feature chatting, forum diskusi, upload foto, blog dan berbagai macam feature menarik lainnya.

Dari beberapa contoh yang saya sampaikan di atas, bagi radio yang merasa memerlukan untuk memiliki website, banyak hal bisa kita tambahkan di dalam situs radio kita. Usahakan agar pendengar bisa melakukan dan mendapatkan apa yang mereka inginkan di situs kita. Mulai dari siaran streaming, berbagi berita dan informasi, fasilitas obrolan dan diskusi, mendengarkan hanya lagu atau acara atau bahkan penyiar yang mereka ingin dengarkan, melihat foto-foto penyiar hingga pendengar yang lain, membuat halaman pribadi, menonton video seputar radio dan kiriman pendengar, hingga bisa membuka halaman situs media sosial mereka hanya dari situs radio kita.

Buatlah pendengar betah berlama-lama di situs mereka dan melakukan apa yang mereka mau. Akan lebih baik lagi, jika situs kita (termasuk siaran kita) sebisa mungkin dapat dinikmati di manapun dengan alat apapun, mulai perangkat dengan platform symbian, blackberry, apple, windows, linux, hingga android. Manfaatkan kompleksitas new media untuk menjalin interaksi sebaik-baiknya dengan pendengar.

Kita perlu mempermudah pendengar kita untuk menemukan radio kita, karena pada akhirnya, layanan yang kita berikan ke pendengar ini bisa kita tawarkan ke pengiklan. Sekali lagi, semua ini kita lakukan karena bisnis radio di saat ini telah bergeser, menjadi sebuah media bertemunya pengiklan (produk) dan konsumen mereka yang kebetulan menjadi pendengar radio kita melalui alat apapun (radio konvesional hanya salah satunya).

Yang terakhir dan terpenting, jangan lupa bahwa di mana pun radio kita berusaha eksis, content is the king.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 559,865 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: