03
Nov
10

Meneropong Liputan Bencana

Tulisan ini adalah pandangan subyektif saya pribadi saat menonton pemberitaan mengenai bencana di televisi. Performance sejumlah reporter dalam memberikan laporan bencana, khususnya bencana letusan Gunung Merapi, seharusnya bisa lebih dimaksimalkan. Apakah mungkin reporter-reporter yang diturunkan untuk meliput bencana adalah reporter yunior? Ada beberapa hal yang seharusnya segera dievaluasi dan bisa di jadikan contoh bagi jurnalis radio agar hal yang sama tidak terulang.

1. Tidak runtut dalam menyampaikan laporan
Laporan yang dituturkan tidak rapi atau kadang penuturan berulang-ulang menyampaikan sesuatu yang sudah disampaikan dalam 2 – 3 kalimat sebelumnya. Penuturan semakin berantakan saat reporter harus menyampaikan laporan disaat yang bersangkutan mengalami kepanikan. Hal ini seharusnya bisa dihindari jika reporter mau meluangkan waktu beberapa saat sebelum waktu siaran langsung yang sudah disepakati bersama untuk menulis naskah laporan atau sekedar point-point penting yang perlu disampaikan. Demikian juga dengan penyiar di studio, kadang menanyakan hal-hal yang kurang penting untuk saat itu atau juga pertanyaan yang sulit sehingga reporter di lapangan kesulitan menjawab karena belum memiliki data. Di sinilah pentingnya koordinasi dengan news editor, penyiar di studio tidak diperkenankan bertanya semaunya. Jika ada pertanyaan yang dianggap menarik, seharusnya dibicarakan dengan news editor dan bisa ditanyakan pada sessi laporan berikutnya.

2. Salah menyebutkan istilah
Sempat terjadi reporter menyebutkan “awan panas” padahal yang dimaksud oleh yang bersangkutan adalah “abu vulkanik”. Seringkali juga salah menggunakan kata, misalnya: kota x mengeluarkan abu vulkanik padahal seharusnya kota x dilanda atau diterpa abu vulkanik. Hal ini bisa dihindari dengan menenangkan diri dan berusaha fokus pada saat memberikan laporan. Selain itu kesalahan bisa diminimalisir dengan membuat catatan. Saya juga pernah mendengar, gaya reporter menggunakan istilah Satlantas: Situasi Merapi saat ini “landai”, maksudnya “tenang”.

3. Tidak detail dalam menyebutkan nama daerah.
Ada kemungkinan, reporter tidak memahami struktur pemerintahan di lokasi peristiwa, atau memang tidak terpikir oleh mereka bahwa di Indonesia banyak kotamadya dan kabupaten yang memiliki nama sama. Bahkan Jogja selain dikenal sebagai nama kota juga merupakan sebuah propinsi (DIY). Seharusnya, reporter menyebutkan nama desa atau dusun yang terletak di kabupaten X. Pernah disebutkan awan panas mengarah ke Jogja yang akhirnya mengakibatkan kepanikan warga KOTA Jogja. Padahal kejadian sebenarnya, awan panas menuju sebuah dusun yang memang masih terletak di propinsi DIY / Jogja. Pernah juga disebutkan, awan panas mengarah ke Boyolali padahal jarak antara puncak Merapi dengan kota Boyolali mencapai 17km. Alangkah baiknya jika reporter cukup menyebutkan arah, apakah timur, tenggara dan seterusnya. Ketidakpahaman reporter juga nampak saat menyebutkan Bandongan dan Muntilan di kota Magelang. Padahal, Bandongan dan Muntilan adalah nama kecamatan di kabupaten Magelang. Ketidak-tepatan laporan ini, terkesan sepele namun bisa menimbulkan kepanikan bagi warga kota, atau kerabat yang memiliki saudara di kota yang disebutkan. Yang menyedihkan, meskipun sudah berhari-hari meliput di daerah tersebut, nampaknya reporter televisi kita tidak berusaha mencari tahu atau bertanya kepada masyarakat di sekitarnya. Kalau kita mampu, mengapa tidak berusaha memberikan laporan yang lebih benar?

4. Re-run klip berita tanpa memberikan update terbaru
Harus disadari, pada saat sebuah berita telah berlangsung berjam-jam yang lalu, terutama saat meliput berita bencana yang bisa setiap saat terjadi perkembangan peristiwa, seharusnya pada saat menyiarkan ulang klip tersebut media perlu menyertakan informasi terbaru atau minimal membubuhkan tulisan “Recorded” atau “Rekaman” atau “Siaran Ulang” pada saat klip ulangan ditayangkan. Selain membosankan, klip yang ditayang ulang beberapa jam kemudian setelah kejadian bencana bisa menimbulkan salah pengertian di penonton.

5. Dramatisasi berita
Point ini mungkin pandangan saya yang paling subyektif dibanding point-point diatas. Jika di saat bencana yang genting laporan yang disampaikan urgency-nya kurang alhasil berita tersebut terkesan hanya sekedar membuat laporan untuk mengisi slot yang ada. Padahal pendengar atau penonton berharap mendapatkan informasi jauh melebihi apa yang tersaji. Atau…ya…memang mencoba mendramatisir, seperti mempertontonkan jasad korban berulang-ulang, berkepanjangan membahas almarhum mbah Marijan, mendesak Sultan untuk memberitahu siapa yang akan menjadi juru kunci Merapi (apa urusannya?), memberitakan Poniman yang diduga akan menggantikan mbah Marijan sebagai juru kunci Merapi, menyiarkan potongan film dokumenter Krakatoa buatan BBC, hingga menyiarkan reporter yang paniknya melebihi kepanikan pengungsi. Selain itu sejumlah talkshow yang diangkat pun masih seputar mengapa bencana terjadi, kronologi terjadinya bencana dan teori-teori apa yang seharusnya dilakukan pemerintah. Mengapa media tidak menjalankan fungsi kontrolnya terhadap proyek penyelamatan warga jika sebuah bencana terjadi, latihan evakuasi, sistem pengamanan dan lain sebagainya tentunya tanpa mengesampingkan informasi terbaru dari lokasi bencana. Memang ada beberapa liputan mengenai hal ini, namun nampaknya masih sebatas pada pembahasan teoritis dari narasumber dan tidak mendapat porsi penyiaran yang lumayan banyak. Padahal media juga menyebutkan banyak sekali daerah yang kondisinya rawan bencana. Apa hanya untuk membuat issue ini menggelembung dengan mengendarai kekhawatiran masyarakat? Semestinya hal ini mendapat perhatian yang lebih dari media sebagai sarana sosialisasi ke masyarakat agar daerah-daerah rawan bencana itu, baik warga maupun pemerintah siap menghadapi bencana dan korban yang tidak diinginkan bisa diminimalisir.

Diluar ini semua, jika terjadi sebuah peristiwa, saya sangat setuju jika media segera melakukan laporan pandangan mata, agar masyarakat mengetahui perkembangan berita yang terjadi namun sekali lagi, tidak perlu didramatisir. Apa yang telah terjadi seharusnya bisa menjadi bahan evaluasi bagi tim pemberitaan media, baik radio maupun televisi. Evaluasi akan lebih baik jika dilakukan secepat mungkin segera setelah reporter selesai memberikan laporan, sehingga kekurangan bisa segera ditutup, kesalahan bisa diminimalisir dan tidak terjadi berulang-ulang. Laporan bencana, menyangkut kehidupan manusia, jadi layak digarap dengan benar tanpa mentolerir kesalahan. Menugaskan reporter yunior yang belum berpengalaman meliput bencana besar, saya rasa bukan keputusan yang tepat

Iklan

2 Responses to “Meneropong Liputan Bencana”


  1. November 4, 2010 pukul 7:12 am

    Bagus sekali pak tulisannya, setuju sekali. Good reporting perlu dibiasakan. Terlalu sering media hanya memaksakan efek sensasi dan kurang balance dalam membuat pemberitaan. Mulai dari TV, Radio, Koran, harus membiasakan melaporkan dengan lebih cermat, cerdas, dan runut. Salam hormat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 565,119 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: