30
Okt
10

Radio feat. New Media part.1

Berbagai data yang tersebar di internet menunjukkan bahwa belakangan ini, pengguna internet di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan. Dari hasil riset yang dilakukan oleh Nielsen pada akhir tahun 2009, jumlah pengguna internet non mobile di Indonesia mengalami peningkatan hingga 2 kali lipat menjadi sekitar 17% dari jumlah penduduk Indonesia. Diperkirakan pada tahun 2010 ini pengguna internet pun bisa melonjak hingga 40 – 50 juta orang lebih. Jika ditambah dengan jumlah pengguna data melalui telpon selular, tentunya angka itu akan menjadi semakin besar, karena sampai saat ini saja tercatat 150 juta orang menggunakan telpon selular.

Data lain mengenai penggunaan internet di Indonesia bisa dilihat pada laporan dari Mobile Web Association atau di laporan Yahoo! South East Asia

Tingginya jumlah pengguna internet telah mempengaruhi kebiasaan pendengar radio. Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini mereka lebih sering membuka internet dan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berinternet. Ditambah lagi dengan wabah social media yang popularitasnya didukung oleh promosi telepon selular dan operator selular, sehingga saat ini manusia memanfaatkan internet tidak hanya untuk browsing, download upload, chatting, tetapi juga memanfaatkan internet untuk mencurahkan pemikiran hingga memperkuat eksistensi diri. Akibatnya, radio yang memiliki karakteristik casually – bisa dinikmati sambil melakukan kesibukan lain (sambil lalu), akan benar-benar didengar sambil lalu jika isi siarannya biasa-biasa saja. Radio harus menyadari bahwa di era banjir informasi saat ini, loyalitas pendengar radio amat sangat mudah menghilang. Perlu diwaspadai adanya tren bahwa pendengar tidak lagi sekedar mendengarkan radio yang mereka suka, tapi mereka akan mendengarkan radio yang disuka oleh teman-teman atau kerabatnya.

Faktor utama agar radio konvensional tidak ditinggalkan oleh pendengarnya, tetap terletak pada content. Karena pada saat radio berkolaborasi dengan new media, content juga akan menjadi hal terpenting yang perlu dipikirkan. Jadi, baik melalui gelombang radio maupun internet, content tetap memegang peranan penting dan content yang saya maksudkan disini adalah content yang berbeda, bukan hanya sekedar merubah siaran melalui gelombang radio menjadi radio streaming yang bisa didengar melalui internet. Jika selama ini content radio kita hanya berdasarkan kreatifitas penyiar, sudah saatnya cara berpikir ini dirubah. Kita harus membuat content sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pendengar kita, bahkan kalau bisa buatlah content untuk memenuhi kebutuhan pendengar kita.

Selain content, yang harus dimiliki oleh radio saat ini adalah best talents – crew terbaik. Harus disadari, bahwa crew yang kita miliki tidak mungkin bisa digandakan dan dimiliki oleh pesaing kita, karena masing-masing crew adalah sosok yang unik. Untuk mendapatkan best talents pun bukanlah hal yang mudah di era sekarang, terutama untuk rekan-rekan yang berada di daerah. Saya sendiri merasakan sulitnya mendapatkan pekerja yang benar-benar radio person karena sebagian besar yang datang mendaftar ke radio adalah sekedar pencari kerja. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi radio masa kini.

Hal berikutnya yang perlu kita perhatikan adalah, memanfaatkan tekhnologi. Pergeseran tekhnologi ini sangat bisa dirasakan, dulu radio menggunakan formulir “pilihan pendengar” dan laku keras menjadi incaran pendengar yang ingin mengirim salam bagi rekan-rekannya atau hanya sekedar meminta lagu. Saat ini, nampaknya formulir itu sudah tidak tersentuh lagi, karena hampir semua pendengar dari semua kalangan lebih memilih cara yang lebih praktis, yaitu melalui jalur sms online yang disediakan oleh radio. Layanan pesan singkat / sms / text message, adalah tekhnologi yang paling sederhana yang saya rasa sudah banyak dimanfaatkan oleh radio sebagai media bagi pendengar untuk berkomunikasi dengan penyiar kita. Namun tidak cukup sampai disitu karena tekhnologi terus berkembang. Sudah saatnya kita berkolaborasi dengan new media yang akan kita bahas lebih mendalam dalam tulisan saya ini.

Selain agar tidak ketinggalan tekhnologi, dengan memanfaatkan new media radio bisa menjadi lebih dekat dengan pendengarnya, lebih mengetahui siapa pendengar kita, apa yang mereka inginkan hingga apa kebiasaan mereka. Banyak data yang bisa kita dapatkan jika kita memanfaatkan new media dengan benar. Hal ini menjadi penting, akan menjadi sebuah kesia-siaan jika kita merasa didengarkan oleh ratusan ribu pasang telinga namun kita tidak mengetahui siapa mereka bahkan tidak bisa membuat mereka  menjadi pendengar kita yang loyal, yang bisa kita tawarkan ke pemasang iklan.

Fish where the fish are, itulah yang harus kita lakukan saat ini. Pada saat ikan-ikan yang akan kita pancing sedang berkumpul di kolam bernama “internet” atau new media, kita harus ikut memasang kail di kolam yang penuh ikan itu. Social media menjadi tren, kaillah pendengar di social media. Dengan memanfaatkan social media banyak hal yang bisa kita dapatkan dan kita akan bisa membina relationship secara langsung dengan pendengar. Pendengar akan merasa puas karena bisa langsung berkomunikasi dengan radio dan penyiar yang mereka suka. Mulai nampak bukan, bahwa radio sebagai new media tidak hanya sekedar radio streaming. Radio 2.0 bukanlah sekedar membawa format siaran konvensional ke siaran radio internet. Banyak orang merasa puas dan menganggap tidak ketinggalan jaman hanya dengan memiliki radio streaming.

Menciptakan Radio 2.0 yang merupakan kolaborasi antara radio konvensional dengan new media, adalah memikirkan content yang tidak bisa didapat oleh pendengar dari siaran radio kita. Sebagai contoh bagaimana memvisualkan radio kita? Apakah visualisasi itu penting? Diluar penting atau tidaknya visualisasi, tidak bisa dipungkiri bahwa sesuatu yang visual tentunya lebih menarik daripada sekedar audio. Hal ini tentunya tidak mengesampingkan bahwa audio adalah kekuatan radio yang mampu menciptakan theater of mind pendengar. Cara sederhana untuk memvisualkan radio adalah dengan menampilkan foto atau video kegiatan radio dalam situs atau account social media kita. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memenuhi apa yang pendengar harapkan. Namun perlu diperhatikan juga, bahwa kita tetap perlu memilah new media seperti apa yang dibutuhkan oleh target pendengar kita. Apakah mereka sudah saatnya memerlukan radio streaming? Komunikasi melalui social media? Blog? Atau Situs interaktif radio kita? Chatting? Atau cukup hanya sekedar melalui sms online? Jangan sampai kita menginvestasikan dana yang besar untuk membangun new media, sementara pendengar kita sebenarnya belum memerlukan.

Sedikit mengulang tulisan diatas, bahwa sebelum bertransformasi ke new media, content siaran kita harus disuka terlebih dahulu oleh pendengar, serta memahami apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh pendengar kita, agar apa yang kita lakukan tidak sekedar untuk memenuhi keinginan kita sendiri dan akan menjadi sebuah kesia-siaan.

Bersambung…Radio feat. New Media part.2 klik di sini

Tulisan ini telah saya presentasikan secara singkat di VOA Affiliates Conference 24 Р26 Oktober 2010 di Bandung

Iklan

3 Responses to “Radio feat. New Media part.1”


  1. 1 Djolly H. WUngow (RADIO CWSFM FM MANADO)
    November 23, 2010 pukul 10:48 am

    Dear Mr. Alex santosa.
    Luar biasa, Tulisan anda.. seharusnya di mengerti oleh semua insan radio…
    Oh ya.. sambungannya kapan ya..ha ha
    Terima kasih, salam dari Manado
    GBU
    Djolly Wungow
    0852 400 19001


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 551,968 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: