27
Okt
10

Digital Convergence

Tahun ini, Voice of America – VOA kembali menyelenggarakan Affiliates Conference, sebuah konferensi bagi radio, televisi dan online yang menjadi mitra dalam menyiarkan acara-acara VOA.

Konferensi yang kali ini diselenggarakan di Bandung, mengangkat topik yang belakangan menjadi trend di kalangan media seluruh dunia, Digital Convergence 101: The Challenge of New Media.

Undangan dari VOA yang mengajak saya untuk berbagi pengalaman dengan teman-teman media, mengingatkan saya dengan tren yang terjadi beberapa tahun silam saat era internet mulai mewabah di Indonesia. Saat itu tarif berlangganan internet masih mahal, namun pendengar di sejumlah radio jaringan kami berharap bisa mendengarkan siaran radio melalui internet / live streaming. Saat itu management belum merasakan urgency dari permintaan tersebut dan saya juga masih belum memiliki gambaraan yang jelas, serta apa manfaat bagi radio dan mayoritas pendengar jika radio kita sekedar memiliki siaran online yang dinikmati melalui internet.

Keinginan kecil sebagian pendengar dan rasa gengsi dari penyiar saat melihat kompetitor memiliki radio internet dan website, tidak cukup meyakinkan saya untuk ikut menggunakan internet sebagai media siaran. Bahkan sejumlah teman wartawan dan narasumber IT di radio kami pun menanyakan ke saya,” kapan siaran online? Sudah era digital lho.” Saya selalu menekankan kepada teman-teman, bahwa saat kita memasuki dunia internet, kita tidak cukup hanya sekedar memindahkan siaran konvensional yang biasa kita lakukan melalui gelombang AM / FM ke internet. Tidak cukup jika kita hanya sekedar memiliki website berisi profil perusahaan, tarif iklan, foto penyiar dan jadual acara saja.

Pertanyaan berikutnya adalah,”radio harus bagaimana menyikapi era internet?” Kebingungan kedua kembali menyerang pikiran saya, belum terpikirkan apa yang harus dilakukan oleh radio menyikapi tren ini, meskipun banyak radio-radio di Amerika yang sudah online streaming. Kita tidak hanya bisa sekedar melakukan copy – paste apa yang dilakukan oleh radio-radio tersebut waktu itu, karena pendengar di Indonesia karakteristiknya tentu berbeda dengan pendengar di negara lain. Kita harus memikirkan 3 manfaat, yaitu manfaat bagi station kita, manfaat bagi pendengar dan manfaat bagi pemasang iklan. Apakah pengiklan akan puas saat kita mengatakan,”pasang iklan di radio dapat bonus di internet karena kita juga memiliki radio streaming ?” Tentu saja tidak.

Waktu terus berjalan, tekhnologi semakin maju, orang radio yang semula berencana menggunakan internet untuk meyiarkan siaran mereka secara online, belakangan justru khawatir pasarnya tergerus oleh internet. Memang, radio tetap eksis, namun gelombang internet yang mulai menenggelamkan koran, membuat orang radio semakin khawatir akan keadaan ini. Jumlah pengguna internet yang meningkat serta semakin banyak menghabiskan waktu untuk berinternet, baik melalui komputer maupun telpon selular. Harga layanan internet, laptop dan ponsel yang murah, maraknya warnet, serta tren jejaring sosial sangat mendukung terjadinya fenomena ini.

Keterdesakan ini membuat saya kembali berpikir, apa yang harus dilakukan oleh radio, jika tidak cukup hanya sekedar menyajikan website profile radio dan siaran melalui internet? Era new media, tetap harus dimanfaatkan dengan baik oleh radio. Namun jangan lupa mempertimbangkan, seperti apakah new media yang pas dengan target audience kita. Masalah inilah yang dicoba untuk dipetakan melalui konferensi yang diadakan oleh VOA kali ini. Dari perbincangan menarik yang berlangsung selama konferensi, saya mencatat beberapa point penting yang disampaikan oleh sejumlah pembicara:

Sessi 1: Digital Media and Digital Convergence: Challenges and Opportunities

– Irving Hutagalung (ISV Lead Developer and Platform Group, Microsoft Indonesia)

  • Konsumen menginginkan media yang interaktif / dua arah
    • red. dengan demikian, radio harus lebih berpikir untuk menciptakan program acara interaktif dan jika memiliki website atau account jejaring sosial, harus aktif melibatkan pendengar
  • Konsumen lebih menyukai sesuatu yang visual
    • red. tentunya hal ini tidak dapat dilakukan saat kita siaran di radio. namun bisa kita lakukan melalui situs radio atau account jejaring sosial kita. dalam tulisan mendatang, saya akan mencoba membahas “visualisasi orang radio”

– Hasnul Suhaimi (President Director PT XL Axiata Tbk.)

  • Pengguna internet di Indonesia akan terus meningkat, dan diperkirakan mencapai 100.000.000 pengguna pada tahun 2014
    • red. tidak bisa dipungkiri, radio harus masuk ke dunia internet, namun tidak cukup hanya dengan memiliki radio streaming dan situs profil station saja
  • Manusia lebih bisa bersosialisasi di dunia maya dibandingkan saat berada di dunia nyata
    • red. melalui dunia maya, manusia lebih bebas berekspresi. yang pendiam bisa menjadi talk active di internet.
  • Manusia menjadi lebih multitasking dengan adanya new media
    • red. membalas email sambil menonton tv, mendengarkan teman berbicara sambil chatting dengan teman yang lainnya dsb.
  • Radio do you know your listener?
    • red. dengan memanfaatkan new media, radio bisa lebih memahami psikografis dan sosiografis pendengarnya
  • Tekhnologi adalah urusan kami (red. industry tekhnologi), Radio pikirkanlah content
    • red. seringkali orang radio terjebak memikirkan terobosan-terobosan tekhnologi, padahal ada hal yang lebih penting yang harus kita pikirkan, yaitu content siaran dan content situs kita.

– Jerry Justianto (President Director Masima Contents and Channel)

  • Radio dipersepsi sebagai media pasif, lokal, hanya mengandalkan audio, dan seringkali tidak mengetahui siapa pendengarnya
    • red. kelemahan-kelemahan inilah yang harus kita tutup. Untuk point “lokal” ini hanya masalah jangkauan siaran. Bagi saya masih bisa dijadikan sebagai kelebihan, asal kita memahami bagaimana memanfaatkan kelokalan radio kita.
  • Trend konsumen media saat ini berharap bisa menikmati media secara on demand, at any time, at any place dan at any device
    • red. pendengar akan memilih untuk mendengarkan hanya apa yang mereka suka. tekhnologi – termasuk internet, akan membuat mereka mampu melakukannya di mana saja, kapan saja dan dengan menggunakan alat apa saja, entah itu radio transistor, komputer, handphone, ipad atau apapun yang disediakan oleh tekhnologi. Radio harus bisa mengimbanginya.

Sessi 2: New Media and Broadcasting Industry in Indonesia

– Alex Santosa (PASFM Radio Bisnis / CPP Radionet)

  • Saya akan membahas presentasi saya lebih dalam di tulisan saya berikutnya 🙂

– Amin Azman (Managing Director, Group M Interaction – Mindshare)

  • Media harus bisa mendeskripsikan lebih detail siapa konsumennya.
  • Pendengar akan menjadi semakin bebas memilih apa yang ingin dinikmatinya
  • Trend Media akan menjadi lebih protable, lebih sosial, lebih interaktif, akan menjadi bagian dari rantai transaksi jual beli, dan akan bisa dijumpai di mana saja – seperti misalnya: ponsel dengan radio, kulkas bisa untuk browsing internet dsb

– Enda Nasution (Bapak Blogger Indonesia)

  • Pengguna internet tumbuh 40% setiap tahun, saat ini tercatat 150.000.000 orang menggunakan telpon seluler
  • Indonesia, termasuk pengguna facebook dan twitter terbanyak di dunia, dan memiliki sekitar 3.000.000 blogger
  • Social media adalah media yang sangat aktif dan memiliki kekuatan. Beberapa aksi masyarakat, berhasil digerakkan melalui social media, seperti koin untuk prita, tolak RPM konten, kami tidak takut, indonesia unite, cicak dan buaya, dan belakangan #prayforindonesia semua digerakkan melalui social media.
  • Saat ini siapapun bisa membuat media yang dia mau dan menjadi pewarta .Dalam social media, pembicaraan dan relasi menjadi hal penting terutama diantara teman dan keluarga.
  • Media konvensional mulai bergerak ke new media

Sessi 3: Critical Issues in New Media

– Nezar Patria (Viva News, AJI Chairman)

  • Yang dihadapi oleh media di Indonesia saat ini adalah over regulation, over criminalization, over limitation.
    • red. self sencorship tetap diperlukan, berhati-hati karena situasi saat ini tidak begitu menguntungkan media
  • Kekuatan jurnalistik online adalah: bisa disimpan dan diralat dengan mudah, tidak terbatas tempat (halaman / airtime), interaktif, bisa dilengkapi dengan multimedia
  • Prinsip jurnalistik harus tetap dipegang: seeking truth, act independently, minimize harm, be accountable

– Budiono Dharsono (CEO Detikcom)

  • Saat ini (red.era internet) siapapun bisa menjadi publisher
  • Implikasi dari jurnalisme warga: kredibilitas, akuntabilitas, kualitas, akurasi dan seringkali anonimitas (red.tidak jeals siapa pembuatnya)
  • Media organization should adapt and adopt
    • red.jika tidak ingin terlibas era internet media konvensional harus segera berubah dan menyesuaikan dengan perkembangan jaman.
  • Media konvensional tidak akan mati, yang berubah hanya device / alat penerimanya.
    • red. koran bertransformasi menjadi koran online

Banyak hal yang perlu kita cermati dan bisa kita lakukan bersama New Media. Dan sekali lagi, untuk memasuki era New Media, radio tidak cukup hanya sekedar merubah siarannya dari FM/AM ke internet. Semoga bermanfaat!

Thanks to VOA yang sudah ikut serta memajukan media radio dan televisi di Indonesia.

Iklan

0 Responses to “Digital Convergence”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 565,119 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: