01
Okt
10

Dream to be number 1

Hampir 1 bulan yang lalu, tepatnya 5 September 2010, dunia balap motor dikejutkan dengan meninggalnya Shoya Tomizawa, pembalap muda Jepang. Kecelakaan maut yang terjadi dalam Grand Prix Moto2 250cc di sirkuit Misano San Marino merenggut nyawa Tomizawa pada usia 19 tahun. Tragis! Karena beberapa waktu sebelumnya, nama Shoya Tomizawa terukir sebagai juara dalam seri pertama Moto2 di sirkuit Losail Qatar.
Apakah kegagalan dan kecelakaan yang dialami oleh Shoya Tomizawa karena dirinya tidak piawai dalam mengendarai motornya? Ataukah motornya yang tidak memadai? Ataukah Tomizawa dan team-nya ada yang tidak mengikuti Standard Operating Procedure yang sudah ditentukan? Atau….sirkuitnya yang salah? Ataukah keadaan yang membuatnya terlempar dari motor kemudian terlindas motor ┬ápembalap dibelakangnya: Alex De Angelis dan Scott Reading?
Ketua Divisi Keselamatan MotoGP mengatakan, pihaknya telah menyediakan jaket kulit dan helm yang kuat untuk melindungi para pembalap. Namun, dari kejadian ini MotoGP akan lebih meningkatkan keamanan bagi pembalap, termasuk menciptakan sistem yang bisa mencegah gerakan pembalap yang bisa membahayakan dirinya atau pembalap lain.
Dari peristiwa tragis yang menimpa Shoya Tomizawa, kita bisa belajar bahwa untuk menjadi sang juara, untuk menjadi nomor 1 yang kita butuhkan lebih dari sekedar kemampuan.
  • Kemampuan Tomizawa, tentunya tidak diragukan sebagai juara seri pertama di Qatar.
  • Sarana dan prasana, motor terbaik berpacu di sirkuit kelas dunia
  • Strategi, tentunya dari titik start dan setiap milisecond yang terlewati Tomizawa selalu berkonsentrasi dan berstrategi untuk mengalahkan lawan-lawannya.
  • Pengalaman, Tomizawa mengukir prestasi sebagai juara ke 2 dalam All Japan Road Race Championship di tahun 2006 dan berkali-kali mengikuti lomba hingga akhirnya masuk dalam jajaran pembalap dunia.
  • SOP, sangat tidak mungkin Tomizawa menyepelekan SOP dan mempertaruhkan nyawanya diatas kecepatan tinggi.
Lalu kalau semuanya sudah OK, mengapa sesuatu yang tidak kita harapkan, masih bisa terjadi? Mengapa kita tidak – atau tepatnya belum bisa menjadi yang nomor 1? Harus kita sadari bahwa banyak hal yang ikut menentukan jalan kita. Ada yang jalannya mudah, seperti Jojo dan Sinta yang dengan begitu saja bisa booming di Youtube. Namun, hal ini hanya terjadi pada sebagian kecil orang. Sebagian besar lainnya harus berusaha keras untuk bisa menjadi nomor 1. Bahkan sebagian lain yang lebih besar dari kedua kategori tadi sudah berusaha keras namun belum juga berhasil.
Di radio, kita juga mengalami hal yang sama. Mengikuti aturan yang benar, menjalankan SOP dengan benar bukan mantera ajaib bim salabim yang bisa membuat kita menjadi nomor 1. Banyak faktor yang mempengaruhi, misalnya faktor internal: kesiapan SDM, sistem yang baik, infrastruktur, kreatifitas, kemampuan berpikir, strategi dan lain sebagainya yang tentunya masih banyak sekali. Juga faktor external, seperti misalnya kekuatan kompetitor, perilaku pendengar, trend, bahkan suara dari responden survey serta masih banyak faktor lainnya.
Kalau bicara strategi, hukumnya wajib dalam perjuangan menjadi nomor 1. Namun jangan lupa, strategi merupakan rangkaian dari pengalaman ditambah dengan prediksi yang akhirnya dituangkan sebagai acuan dalam melangkah. Jadi belum tentu 1 strategi bisa mencapai 1 keberhasilan. There is no GIANT step that does it. It’s a lot of little steps.
Meraih nomor 1 memang perlu perjuangan, namun jangan kemudian kita menjadi seorang pesimistis. Coba renungkan, kita sudah melakukan semuanya dengan baik – menurut penilaian kita “baik” – saja masih belum bisa menang. Apalagi kalau kita kehilangan motivasi untuk melakukannya dengan baik.
Jika terlalu berat, tidaklah kita perlu memkikirkannya sampai pusing. Sederhana sekali yang perlu kita lakukan. Pastikan semuanya berjalan dengan benar sesuai dengan tatanan yang ada, dan biarlah “nomor 1” menjadi hadiah dari kerja keras kita. Just make it simple!
..::tribute to Shoya Tomizawa (December 10, 1990 – September 5, 2010)::..
Iklan

0 Responses to “Dream to be number 1”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 561,702 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: