16
Jun
10

Bola 2010

Media tidak bisa lepas dari pemberitaan Piala Dunia 2010 yang digelar di Afrika Selatan. Kejuaraan sepak bola sedunia ini memang diminati oleh banyak orang, seperti yang diungkap dalam survey Nielsen:

“In the Asia Pacific region, Indonesians declares themselves the most avid followers of football with more than half (54%) saying they are fans of the game, followed by Vietnamese (52%) and Indians (47%).  But the appeal of the World Cup finals appears to reach far beyond football’s usual fan base – the Nielsen figures reveal that in all Asia Pacific countries, intent to follow the World Cup is much higher than the traditional football fan base.  Countries with the highest level of intent to follow the finals were South Korea (76%), Vietnam (68%) and China (65%).”

Tingginya minat untuk mengikuti perkembangan peristiwa yang terjadi sepanjang Piala Dunia, diharapkan bisa diimbangi dengan kecepatan dan keakuratan berita yang disampaikan oleh media. Sangat disayangkan jika informasi yang telah diproduksi dan disiapkan secara baik menjadi kurang sempurna saat proses eksekusi karena penyiar yang kurang memahami isi dari informasi tersebut.
Beberapa kali sempat terdengar baik di televisi maupun di radio, penyiar kurang tepat dalam mengucapkan nama para pemain bola yang berasal dari berbagai negara. Misalnya Dirk Kuyt dari Belanda, ada yang menyebut Kuit, Kit atau Kut.  Ada yang berpendapat: Ah tidak apa-apa selama tidak melenceng terlalu jauh. Toh yang memiliki nama tidak keberatan.
Bagi saya, kalau kita bisa melakukannya dengan benar, mengapa kita tidak lakukan yang terbaik? Jika penyiar mau meluangkan waktu untuk melakukan re-check, entah bertanya, entah mencari tahu, saya rasa kita bisa menghindari salah pengucapan. Disamping itu, secara psikologis masyarakat yang menjadi konsumen media selalu ingin mendapatkan yang sempurna. Bagi mereka tentunya penyiar tidak boleh salah, karena jika penyiar salah akan mengurangi kredibilitas penyiar yang bersangkutan. Hal ini tentunya akan merugikan image sang penyiar dan lembaga media yang diwakili.
Saya sendiri selalu berusaha mencari cara pelafalan nama-nama asing, baik nama tokoh ataupun tempat dengan memanfaatkan situs pencari di internet. Ada beberapa alamat yang bisa dijadikan sebagai referensi, seperti INOGOLO; The Name Engine atau FORVO. Saya rasa masih banyak lagi yang bisa kita dapatkan di internet, asal kita mau berusaha mencarinya.
Selain penyiar, saya rasa akan lebih baik jika para scriptwriter / penulis naskah melakukan pencarian cara pelafalan nama yang benar, dan kemudian pelafalan tersebut dicantumkan dengan jelas dalam naskah berita yang dibuat untuk mempermudah penyiar saat siaran.
Bersusah susah sedikit tidak mengapa, daripada melakukan kesalahan saat siaran.
Semoga bermanfaat dan kendalikan rasa malas.
Iklan

0 Responses to “Bola 2010”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 561,702 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: