07
Apr
10

Radio 2.0 is NOW!

Facebook, nama yang tidak asing lagi. Di awal mengenal situs jejaring sosial ini sekitar 2 hingga 3 tahun lalu, Facebook masih beranggotakan mereka dari kalangan usia dewasa muda sekitar usia 20an tahun keatas. Sedangkan mereka yang dari kalangan remaja, masih bermain di Friendster. Seiring dengan waktu, jumlah anggota Facebook semakin bertambah banyak dan pasarnya pun semakin luas, mulai dari anak SD hingga kakek-nenek, mulai dari penjual koran hingga pemilik perusahaan besar.
Perkembangan ini didukung dengan semakin mudah dan semakin murahnya akses internet, membanjirnya handphone murah buatan China dan tentunya promosi gencar dari hampir semua operator selular yang memasukkan feature facebook sebagai salah satu nilai jual dalam program bundling yang mereka tawarkan.
Banyak orang tertarik dengan Facebook, karena Facebook berhasil menyatukan beragam fasilitas yang sebelumnya disajikan oleh sarana dan situs yang berbeda. Mengirim message yang sebelumnya biasa dilakukan melalui email bisa kita lakukan melalui facebook message (inbox), demikian juga dengan chatting (selama ini melalui YM, GT, ICQ dsb), sharing foto (selama ini melalui flickr, picasa dsb), menulis note (selama ini melalui blog), bermain game online, mengoperasikan berbagai aplikasi, serta tentunya yang paling khas adalah menulis status dan mengomentari status teman.
Keberhasilan Facebook, mendongkrak popularitas Twitter – situs micro blogging yang melesat mengalahkan (paling tidak di Indonesia) popularitas Plurk, Google Buzz, Jaiku dan lainnya. Meskipun dalam bentuk yang lebih sederhana, melalui situ micro blogging kita juga dapat berinteraksi dengan teman-teman kita, mengupload foto dan video, memberitahu lokasi dan berbagi link informasi.
Baik Facebook, Twitter, dan berbagai situs sejenis telah memanfaatkan pergeseran kebiasaan orang berinternet, perkembangan internet yang pada awalnya hanya bisa dinikmati secara pasif dan sekarang bisa melibatkan penggunanya untuk berinteraksi – yang kita kenal dengan era Web 2.0, serta yang perlu diwaspadai oleh media tradisional termasuk radio adalah perubahan fungsi dari hanya sekedar situs Social Network menjadi situs Social Media.
Satu hal yang saya cermati dari keberhasilan situs jejaring sosial adalah kejelian mengamati dan memberikan apa yang diinginkan oleh manusia pada umumnya, yaitu kebutuhan untuk selalu bersosialisasi. Pengguna bisa melakukan apa yang mereka inginkan untuk mengekspresikan ide, mulai dari yang paling sederhana melalui status, foto, video, hingga menuangkannya dalam tulisan.
Lalu apakah mereka akan menggilas media tradisional – radio? Menurut saya, yang akan menggilas kita bukanlah situs Social Media, tapi kemapanan dan keengganan kita untuk mengikuti perkembangan.
Radio, pada dasarnya adalah sebuah social media yang jauh lebih social jika dibandingkan dengan televisi atau media cetak. Sejak ditemukannya radio, telpon, kemudian telpon seluler dan budaya ber-sms, manusia sudah memanfaatkan radio untuk berinteraksi langsung, baik dengan penyiar maupun teman-teman mereka secara real time kapanpun mereka mau.
Namun, karena sudah menjadi sesuatu yang biasa dilakukan, fungsi sebagai social media menjadi kurang tergali dengan baik. Kebanyakan dari radio terjebak pada perlombaan membuat acara terbaik, lagu terbaru dan terlengkap serta berbagai masalah tekhnis baik sistem maupun hardware. Kita harus bisa memfungsikan radio kita sebagai media bersosialisasi para pendengar. Perlu direnungkan, apakah kita sudah menjadi media bagi si A dan teman-temannya, apakah kita sudah menjadi media bagi komunitas x dan sebagainya. Belajar dari radio komunitas, tidak pandang bagaimana acara dan bentuknya, radio komunitas memiliki pendengarnya sendiri, yaitu mereka yang ada dalam komunitas tersebut.
Tidak hanya radio hiburan. Radio berita juga akan mampu meraih lebih banyak pendengar jika bisa memfungsikan diri sebagai Social Media. Banyak rekan-rekan dari radio berita yang sudah merasakan dampak dari hal ini, misalnya dengan memberikan kesempatan bagi pendengar untuk saling berbagi informasi mengenai apa yang sedang mereka alami atau lihat. Bisa juga dengan memberikan wadah bagi pendengar untuk saling memberikan pendapat atau bahkan solusi bagi sesama pendengar yang sedang mengalami kesulitan atau masalah, dan masih banyak hal lain yang bisa dilakukan oleh radio untuk mewadahi keinginan pendengarnya berinteraksi dan bersosialisasi.
Lalu bagaimana dengan jejaring sosial yang ada di internet? Manfaatkanlah untuk mendukung siaran kita. Ikuti apa yang sedang menjadi trend selama hal tersebut membawa dampak positif bagi kita dan pendengar.
Riset dari Doverwood Communicatios – konsultan social media, PR dan WOM Marketing di Amerika menunjukkan, bahwa 56% radio memanfaatkan apa yang terjadi di situs jejaring sosial – termasuk berbagai informasi dari “citizen journalists” sebagai bahan siaran mereka. Saya sendiri banyak mendapatkan informasi lebih awal dari Twitter dibandingkan dari media-media tradisional yang ada. 45% dari radio yang disurvey oleh Doverwood diketahui memiliki Facebook dan Twitter untuk menjaga komunikasi dengan pendengarnya. 30% diantaranya bahkan meyakini bahwa social media di internet telah memperkuat loyalitas pendengarnya.
Radio adalah juga social media dengan karakteristik yang sama dengan social media yang ada di dunia maya: personal, interactive dan reactive. Jadi, manfaatkanlah blog, Facebook, Twitter dan berbagai social media lainnya sebagai kepanjangan tangan dari siaran radio kita. Biarlah pendengar membaca informasi dan berpartisipasi dalam blog radio, mem-follow Twitter kita untuk mendapatkan informasi acara atau berita terbaru, serta menjadi fans di Facebook kita untuk bersosialisasi dengan radio, penyiar dan komunitas mereka.
Radio 2.0 is not about future Radio but about present Radio! Find listener’s needs, not just what they want.
Iklan

4 Responses to “Radio 2.0 is NOW!”


  1. 1 dwi
    Mei 20, 2010 pukul 12:01 am

    menarik tulisanny… salam kenal

  2. Oktober 25, 2010 pukul 6:55 pm

    Asyik…tulisannya keren Pak Alex…Sayang sekali kita belum sempat ketemu di Best FM Balikpapan…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 551,968 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: