24
Jan
10

Be Popular

Radio kita lebih baik dari kompetitor, tapi mengapa masih saja tidak bisa mengalahkan kompetitor? Keadaan seperti ini yang sering membuat bingung saat kita melihat hasil survey pendengar.
Kita merasa acara-acara kita lebih baik, pilihan lagunya juga lebih bagus, terbukti respon pendengar saat kita membuka kesempatan dalam acara interaktif tidak pernah sepi. Dari sisi tekhnis, kualitas audio dan daya pancar juga tidak kalah. Bahkan penyiar kita lebih berkualitas dan berpengalaman karena kita sudah jauh lebih dahulu mengudara dibandingkan dengan kompetitor.
Lalu mengapa kompetitor yang penyiarnya siaran asal-asalan dan acaranya begitu-begitu saja, saat disurvey memiliki pendengar yang jauh lebih banyak dibandingkan radio kita? Apakah kita harus meniru gaya siaran mereka yang asal-asalan? Atau menduplikasi acara mereka? Bukan jaminan!
Selama ini, sebagian besar dari kita hanya berpikir bagaimana meningkatkan kualitas acara dan kualitas penyiar. Satu hal yang kita lupa adalah: apakah radio kita lebih populer dibandingkan dengan kompetitor. Karena radio terdiri dari berbagai elemen, tentunya selain acaranya, penyiarnya juga harus populer di target pendengar kita. Semakin populer seorang penyiar, maka semakin banyak pendengar yang akan mendengarkan siaran penyiar tersebut.
Sebegitu pentingkah popularitas seorang penyiar? Saya katakan YA, karena kita bekerja di media radio, karena kita bekerja di dunia hiburan. Ambil contoh: sebuah band yang tidak dikenal, bisa disebut sebagai band yang tidak laku. Begitu juga seorang penyiar yang pendengar / fans-nya sedikit, sering kali dianggap bukan penyiar handal. Pada saat pendengar sudah menjadi teman dan penggemar, mereka akan mengikuti kita dan tidak menutup kemungkinan kualitas siaran akan menjadi nomor dua. Itulah sebabnya mengapa kompetitor yang siarannya asal-asalan bisa lebih banyak pendengarnya, karena penyiarnya jauh lebih popular dibandingkan kita. Karena penyiarnya memiliki banyak teman, karena penyiarnya jauh lebih gaul, karena penyiarnya jauh lebih dikenal.
Popularitas seorang penyiar tidak hanya bisa dibangun pada saat dia siaran yang hanya 2 – 4 jam per hari. Kehidupan kesehariannya yang memiliki waktu jauh lebih banyak dibandingkan dengan saat siaran, akan membawa pengaruh penting bagi peningkatan popularitasnya. Bayangkan apa yang akan terjadi jika selesai siaran kita pulang dan menghabiskan hari di dalam kamar, sementara penyiar kompetitor setelah siaran mereka aktif dengan kegiatan keseharian mereka, misalnya kegiatan kampus, organisasi, olah raga, band, mc atau bahkan hanya sekedar beredar dari tempat satu ke tempat lainnya untuk bertemu dengan teman-temannya.
Popularitas juga tidak selalu berkaitan dengan penampilan fisik. Seorang penyiar yang tampan atau cantik akan menjadi tidak populer jika dia tidak supel atau ramah dengan pendengar. Selama kita bisa menjaga penampilan yang rapi dan menarik, saya rasa tidak akan menghambat keinginan kita untuk menjadi sosok yang populer.
Penyiar harus bisa membangun popularitasnya di target pendengar dengan membina pertemanan yang efektif. Jangan puas jika kita hanya mengenal, tapi kita harus dikenal oleh mereka. Manfaatkanlah setiap kesempatan yang ada atau moment of truth untuk menunjukkan eksistensi kita dan kemampuan kita. Semakin kita dikenal, semakin banyak teman kita diharapkan saat siaran pendengar kita juga akan bertambah. Manfaatkan juga tekhnologi yang ada. Sebagai penyiar jangan ragu untuk narcist / ng-eksis di berbagai situs jejaring sosial. Selalu berkomunikasi dengan teman-teman dan pendengar agar relasi yang terbina terus terjaga.
Bagaimana dengan mereka yang merasa sudah populer, sudah dikenal dan memiliki banyak teman? Karena kita orang radio, karena kita penyiar, kita harus bisa mengajak mereka untuk mendengarkan siaran kita. Tidak harus selalu, paling tidak saat mereka ingin mendengarkan radio, mereka mendengarkan radio kita. Atau mereka bisa merekomendasikan radio kita dan siaran kita ke teman-temannya. Akan menjadi hal yang percuma jika kita selama ini memiliki komunitas yang besar namun tidak kita manfaatkan untuk mendukung popularitas kita sebagai seorang penyiar.
Bagaimana dengan penyiar yang merasa sudah out of date? Jangan jadikan usia sebagai alasan, karena siapapun kita pasti memiliki teman dan komunitas. Bawalah mereka untuk mendengarkan siaran kita. Meskipun sedikit, penambahan jumlah pendengar tetap memiliki arti bagi radio kita.
Hal terakhir yang perlu diperhatikan, adalah menjaga popularitas kita. Jangan sampai kita bernasib sama dengan artis yang sedang turun pamornya. Memang tidak mungkin selamanya kita akan berada di atas. Yang perlu kita lakukan adalah berusaha memperlambat penurunan itu selama mungkin.
Siaran yang baik dan menjadi seorang penyiar andalan adalah keharusan. Namun saat ini tidaklah cukup. Kita harus menjadi penyiar handal dan populer! Saat kita semakin populer, yang merasakan hasilnya tidak hanya radio kita. Tapi kita sendiri pun secara pribadi juga akan merasakan pengaruhnya.
So, Be Popular!

© 24 Januari 2010

Iklan

8 Responses to “Be Popular”


  1. Februari 1, 2010 pukul 1:55 pm

    Saya penasaran dng Pak Alex, apakah ini Pak Alex yang saya kenal ya hehe sok kenal ya

  2. Februari 1, 2010 pukul 2:54 pm

    bagaimana ya pak mengecek kepopuleran penyiar, 2. kalo radio bikin survey, penyiar dikash hasilny dong biar punya keinginan bersaing dng acara yg lebih populer dari acara mereka sendiri. 3. metode surveyny seperti ap sh. terima kasih

    • Februari 1, 2010 pukul 4:59 pm

      Dalam tulisan ini yang saya maksud adalah kepopuleran si penyiar, bukan acaranya. Nah tentunya yang paling tau apakah saya sudah populer baik sebagai seorang penyiar ataupun seorang pribadi, adalah diri kita sendiri. Kita yang tau berapa banyak orang yang mengenal kita, berapa banyak teman kita, berapa banyak orang mengikuti trend gaya berpakaian kita (misalnya), dan lain sebagainya.

  3. 5 nugie
    Maret 9, 2010 pukul 8:55 pm

    pak alex….sebenarnya berapa persen kontribusi penyiar (populer) dalam membesarkan sebuah radio. soalnya hal ini berbeda hasil dengan di jogja, ada radio GCD FM di patok gunun kidul….. mungkin anda pernah dengar…hampir saya katakan tidak memiliki penyiar radio tetapi rating survei nya tinggi……

    • Maret 9, 2010 pukul 9:26 pm

      Tidak ada angka pasti berapa persen kontribusi penyiar terhadap membesarkan sebuah radio. Namun, sebagai orang radio, sebagai penyiar kita paham bahwa penyiar yang bagus, yang populer pasti ada kontribusinya terhadap radio di mana dia siaran di mana pun entah di Jogja atau di kota-kota lain, bahkan di negara manapun.
      Mengenai GCD atau mengamati sebuah hasil survey, sebenarnya amat banyak faktor yang mempengaruhinya. Kemungkinan mengenai GCD adalah faktor usia, dimana GCD kita kenal sebagai radio lama. Selain itu jika kita lihat dari segmentasinya, bisa jadi siaran lagu-lagu dari GCD menyerang pangsa pasar general dengan SES menengah – menengah bawah yang memang jumlahnya jauh lebih banyak. Bicara soal “banyak” kita juga tidak akan bisa membandingkan GCD misalnya, dengan radio teens yang bisa dipastikan porsi pendengarnya lebih sedikit.
      Lalu apakah kita bisa mengalahkan GCD dengan menjiplak sama persis siaran GCD? Belum tentu juga, karena sekali lagi banyak faktor misalnya seperti kekuatan merk, fanatisme pendengar dan lain sebagainya.
      Nah, daripada pusing ingin menyaingi jumlah pendengar GCD, lebih baik kita berpikir bagaimana caranya kita unggul di segmen kita.

  4. 7 nugie
    Maret 10, 2010 pukul 10:11 am

    terimakasih bang alex berbagi ilmunya……

  5. Maret 22, 2011 pukul 5:41 pm

    Kang, saya aris reporter dari radio Pikiran Rakyat (107,5 PRFM News Channel). saya ingin bapak mendengarkan siaran radio kami, dan memberikan masukan yang baik untuk siaran kami. siaran kami berformat citizen journalism…

    terima kasih banyak atas tulisannya Kang… memberikan saya banyak masukan…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 561,702 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: