06
Okt
09

Eksklusifitas: emosi atau kebutuhan

Paruh kedua tahun 2009, media di Indonesia banyak mendapat makanan empuk berupa berita-berita besar yang terjadi di negeri ini. Mulai dari peledakan bom JW Marriott dan Ritz Carlton Jakarta hingga penangkapan teroris, berbagai kasus korupsi hingga intrik KPK yang tak kunjung usai dan gempa bumi yang mengguncang Sumatera Barat di akhir September – awal Oktober 2009.

Radio, televisi, media cetak dan internet berlomba menyajikan berita paling cepat dan paling eksklusif. Eksklusifitas sebuah berita yang kita peroleh kadang membuat kita – secara emosional – ingin menunjukkan bahwa kita ‘lebih’ dibandingkan media kompetitor. Hal ini tidak salah dan merupakan kebanggaan yang perlu kita bagikan kepada pendengar / penonton. Harus diakui bahwa kecepatan dan eksklusifitas berita yang kita peroleh dipastikan dapat membantu meningkatkan jumlah pendengar / penonton kita.

Yang jadi masalah bukan pada kecepatan atau eksklusifitas berita. Yang perlu diwaspadai, sebuah informasi istimewa yang kita dapatkan bisa menjadi bumerang jika tidak tereksekusi dengan baik saat diudarakan. Dari banyak standar eksekusi berita, saya ingin menyoroti frekwensi penyiaran sebuah berita. Sebagai contoh, pada saat terjadi peristiwa besar: aksi terorisme, penangkapan teroris atau bencana alam, setelah mendapatkan rekaman gambar eksklusif, televisi menayangkan informasi ini berulang-ulang dalam selang waktu berdekatan, mungkin sekitar 15 menit sekali sepanjang hari, bahkan hingga beberapa hari. Belum lagi rekaman eksklusif itu digunakan sebagai “cue” atau diberi musik latar dan diputar berulang-ulang.

Saat pertama, kedua atau ketiga kalinya menonton rekaman berita eksklusif tersebut, kita sebagai pemirsa mendapatkan jawaban dan dipuaskan rasa keingin tahuannya. Namun, jika terus menerus diminta menonton hal yang sama dan diulang-ulang, kekaguman penonton atas keberhasilan kita mendapatkan sesuatu yang eksklusif dalam waktu yang singkat akan sirna dan sebaliknya justru akan muncul kebosanan, atau bahkan terkesan mendramatisasi sebuah berita.

Tidak hanya di televisi, di radio pun demikian. Untuk menghindari kebosanan penonton / pendengar kita harus mempertimbangkan titik jenuh dari audience kita. Kemampuan audience untuk menikmati siaran kita, dalam dunia radio dikenal sebagai Time Spent Listening (TSL) – lamanya waktu yang dihabiskan oleh pendengar untuk mendengarkan radio atau acara kita. Otomatis antara 1 radio dengan radio lain bisa berbeda, antara acara yang 1 dengan acara yang lain pun bisa berbeda.

Secara umum dapat saya gambarkan, jika TSL pendengar kita adalah 60 menit, akan sangat berlebihan jika sebuah berita kita siarkan 10 menit atau 15 menit sekali sepanjang hari. Saya rasa pengulangan berita 30 menit sekali selama beberapa jam kedepan dengan pertimbangan untuk memberikan informasi bagi pendengar yang baru “tune-in” sudah cukup. Semakin lama, kita bisa mengurangi frekwensi penyiaran berita tersebut untuk menghindari kebosanan pendengar.

Selain dari penempatan berita dengan mempertimbangkan TSL, sangat dianjurkan untuk bisa memberikan perkembangan atas berita yang kita ulang-ulang tersebut. Jika belum mendapatkan perkembangan berita terbaru, kita bisa mengangkat berita yang sama dari sudut pandang yang berbeda atau dari obyek / sumber yang berbeda. Menyajikan sesuatu hal yang berbeda dalam setiap updating news akan membuat pendengar tidak bosan dan yang penting, audience akan terus menerus mendapatkan berita baru dari radio kita.

Jika radio / televisi sebagai media konvensional masih berkutat mengekspos eksklusifitas tanpa memperhatikan kebutuhan audience yang sebenarnya, kita bisa terlibas media internet (portal berita, koran online, radio online, televisi online) yang menjanjikan berita terbaru bagi para pengakses situs mereka. Jangan lupa, masyarakat mendengarkan atau menonton kita bukan untuk menikmati eksklusifitas berita yang kita peroleh, melainkan untuk mencari perkembangan informasi.

pic: warta kota
Iklan

2 Responses to “Eksklusifitas: emosi atau kebutuhan”


  1. Oktober 6, 2009 pukul 8:14 pm

    menurut saya TV-One paling baik, disusuk Metro-TV untuk berita yg hot2 saat ini ….

    silahkan ke blog saya richocean =”http://richocean.wordpress.com” tentang gempa lagi di Pariaman tadi malam

    atau blog saya lainnya
    “http://richmountain.wordpress.com” tentang hutan

    salam …


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 552,124 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: