30
Des
08

Membantu Newscaster

Tentunya kita pernah mendengarkan seorang penyiar salah dalam membaca berita. Bisa jadi yang bersangkutan kurang berkonsentrasi, menghadapi gangguan atau kesalahan baca justru terjadi akibat naskah yang tidak jelas.

Naskah berita yang tercetak dengan baik dalam tulisan yang jelas akan sangat membantu pembaca berita / newscaster dalam menyampaikan informasi kepada pendengar tanpa harus tersandung-sandung. Sebagai bagian dari sebuah newsroom, seorang newscaster memiliki hubungan yang erat dengan scriptwriter dan editor. Jika terjadi salah-salah baca oleh newscaster, maka editor harus bertanggungjawab. Unuk itu editor harus memeriksa naskah berita yang dibuat scriptwriter sebelum diserahkan ke newscaster. Editor juga harus siap menjawab dan menjelaskan segala pertanyaan newscaster berkaitan dengan berita yang akan disiarkan. Mulai dari runtutan berita yang terjadi, pengucapan bahasa asing dan lain sebagainya.

Tidak menutup kemungkinan, seorang newscaster memberikan masukan-masukan atas naskah yang akan dibacanya, agar bisa dicapai output yang maksimal. Dengan demikian bisa kita ketahui bahwa pembaca berita yang baik selalu mempersiapkan diri dengan benar, yaitu membaca naskah berita terlebih dahulu sebelum menyiarkannya. Newscaster yang membaca berita dadakan, harus menempuh kemungkinan salah baca yang lebih besar.

Bagaimana menulis naskah berita yang memudahkan penyiar?

  • Semua naskah berita harus diketik / dicetak.
  • Pengetikan idealnya dilakukan dalam dua atau tiga spasi .
  • Hindari mencetak berita dalam 2 sisi kertas / bolak-balik. Cetakan huruf yang tembus akan mengganggu tulisan yang ada di baliknya.
  • Jangan memenggal kata di ujung baris. Jika tidak cukup, lebih baik tekan enter dan tulis kata tersebut di baris berikutnya.

contoh salah:
Tiga orang narapidana Rutan Sumenep, Madura ka-
bur dari kamar nomor 16.

seharusnya:
Tiga orang narapidana Rutan Sumenep, Madura
kabur dari kamar nomor 16.

  • Setiap kalimat ditulis dalam alinea sendiri, untuk mempermudah penyiar dalam melihat dan memahami maksud dari setiap kalimat.

contoh:

Tiga orang narapidana Rumah Tahanan Negara (Rutan) Sumenep, Madura kabur dari kamar nomor 16.

Ketiga narapidana kasus pencurian kendaraan bermotor dan hewan ini diduga kabur, dini hari tadi.

Ketiga orang napi yang kabur itu yakni, Bayyin, warga Desa Baragung, Kecamatan Guluk-Guluk, Ahmad MUhammad, warga Desa Gadu Timur, Kecamatan Ganding, dan Matrawi, warga Batuputih, Sumenep.

Kepala Rutan Kabupaten Sumenep Mudji Widodo mengatakan, ketiganya diduga kabur melewati jendela kamar nomor 16 dengan ketinggian 2 meter, dan merusak kawat jendela kamar.

  • Layout / tata letak naskah berita
    • Pada bagian kanan atas kertas, bisa dicantumkan nama acara, tanggal, jam penyiaran dan hal / point berita. Judul berita cukup ditulis 1-2 kata saja. Misalnya: narapidana kabur, rapat DPR, bensin, dan lain sebagainya. Jangan lupa menjelaskan ke penyiar – terutama mereka yang baru pertama membaca berita, agar tidak menyiarkan catatan ini.
    • Berikan jarak yang agak lebar, sekitar 3 spasi, untuk memulai menulis berita. Ruang inilah yang harus dibaca oleh newscaster. Usahakan berita selesai ditulis dalam satu halaman yang sama. Jika terpaksa lebih dari satu halaman, kalimat terakhir pada halaman tersebut harus selesai. Jangan berganti halaman dengan memenggal kalimat, karena akan merepotkan pembaca berita. Jangan lupa menuliskan catatan: “bersambung”, “balik”, atau tanda panah di pojok kanan bawah kertas.
    • Setelah berita selesai ditulis, di dalam tanda kurung cantumkan inisial scriptwriter di pojok kiri bawah, lengkap dengan sumber beritanya. Ada baiknya, jika diperlukan cantumkan nomor telepon atau kontak yang dapat dihubungi, untuk mempermudah jika diperlukan melakukan konfirmasi atau menindak lanjuti sebuah informasi. Jangan lupa menjelaskan ke penyiar – terutama mereka yang baru pertama membaca berita, agar tidak menyiarkan catatan ini.
    • Jika di tengah berita ada sisipan audio wawancara atau reportase, berikan jarak sekitar 3 spasi kemudian tuliskan catatan, apa isi sisipan, dimulai dari suara apa dan diakhiri dengan suara apa. Cantumkan juga durasi dari sisipan agar penyiar / operator tidak kebingungan. Sangat dianjurkan penyiar / operator mendengarkan terlebih dahulu isi sisipan sebelum menyiarkannya.

contoh:

Kepala Rutan Kabupaten Sumenep Mudji Widodo mengatakan, ke tiganya diduga kabur melewati jendela kamar nomor 16 dengan ketinggian 2 meter, dan merusak kawat jendela kamar.

Berikut ini penjelasan Mudji Widodo:

Audio Mudji Widodo, durasi 30 detik.

In : “Untuk memanjat ke atas ……

Out: ” ….15 orang masih diperiksa”

Sementara, untuk menangkap para narapidana yang kabur ini, pihak rutan bersama personel Polres Sumenep langsung melakukan pengejaran.

Pengejaran sementara difokuskan ke rumah masing-masing tersangka.

  • Serahkan naskah dalam keadaan bersih. Kemungkinan salah baca akan semakin besar jika naskah yang harus dibaca tidak jelas dan penuh coretan koreksi dari editor.
  • Jangan meninggalkan tulisan, berita, catatan yang rancu / membingungkan penyiar.
  • Jangan menggunakan tanda baca yang aneh-aneh seperti ( ) & 1/2 : $ * @ % dan lain sebagainya. Jika diperlukan, terjemahkanlah tanda baca itu dalam kata-kata seperti: dan, persen, setengah, atau dan seterusnya.
  • Tanda baca yang diperlukan dalam penyiaran adalah titik, koma, tanda tanya dan dash / strip ( – ) untuk menunjukkan jeda sesaat (pause). Ada juga yang menggunakan slash ( / ) untuk menunjukkan jeda dan double slash ( // ) untuk menunjukkan titik atau pergantian kalimat.
  • Untuk kata-kata yang tidak lazim atau kata-kata asing, tuliskanlah cara bacanya di dalam kurung. contoh: advertising (baca: ad ver TAI sing). Tugas editor adalah memastikan penyiar tidak melakukan kesalahan membaca istilah asing. Untuk itu, wajibkanlah penyiar yang kemampuan bahasa asingnya meragukan, untuk mempresentasikan bagaimana mereka membaca istilah asing dalam berita tersebut dihadapan editor sebelum mereka mengudara.
  • Kata atau suku kata penting yang perlu mendapatkan perhatian penyiar, bisa ditulis dalam huruf besar.
  • Jika kita menginginkan penyiar memberikan penekanan pada saat membaca kata-kata tertentu, kita bisa memberikan tanda dengan menggaris bawahi kata-kata tersebut.
  • Biasakan hanya menggunakan maksimal dua digit dalam menuliskan angka atau jumlah. Jika lebih dari dua digit, lebih baik ditulis dalam huruf

Contoh:

35.000 = 35 ribu

375.000 = Tiga ratus tujuh puluh lima ribu

75.035.000 = 75 juta 35 ribu

pecahan selalu ditulis dalam huruf: setengah, tiga perempat dan seterusnya

gunakan pembulatan untuk menulis jumlah yang rumit, misal: 345.567.897 = hampir mencapai tiga ratus lima puluh juta. Pembulatan tidak berlaku untuk menyampaikan informasi harga saham, nilai tukar mata uang dan besaran lain yang perlu disampaikan secara detail.

angka romawi harus ditulis dengan huruf. Misal: Ratu Elizabeth II = Ratu Elizabeth kedua; Sri Sultan Hamengkubuwono X = Sri Sultan Hamengkubuwono kesepuluh.

  • Setelah naskah selesai ditulis, scriptwriter harus membaca ulang dengan bersuara layaknya penyiar, agar diketahui bahwa naskah yang ditulis benar-benar sudah enak dibaca dan enak didengar. Demikian juga editor, harus membaca ulang setelah melakukan koreksi. Penyiar / pembaca berita / newscaster harus membaca terlebih dahulu sebelum menyiarkan naskah berita, sehingga jika menemukan sesuatu yang janggal atau tidak dimengerti bisa segera mengkonsultasikannya dengan editor.
  • Untuk radio dengan struktur organisasi sederhana, tugas editor bisa dilakukan oleh produser atau program director / manager siaran.
Iklan

5 Responses to “Membantu Newscaster”


  1. Januari 8, 2009 pukul 12:37 am

    Waah..pengalaman pribadi salah nih, mas….
    kadang [bahkan sering] “belibet mata” yang akhirnya jadi “belibet lidah”…, gara2 salah baca.

    kadang [banyak] script writer yang tidak mengedit ulang kalimat script yang harus disampaikan kepada audience ataupun listeners [dalam hal ini, berlaku bagi penyiar TV maupun radio]

    mungkiiiin..ada scriptwriter yang berpikiran..”aaah..masa baca kaya gitu aja ga becus…, payah aja penyiarnya tuuh…”

    tapi ada baiknya, pada saat si scriptwriter itu menulis/ meringkas content script yang akan di bacakan oleh para penyiar…, maka ada baiknya..DIBACA TERLEBIH DAHULU oleh si scriptwriter tersebut.

    Dalam arti kata,..di baca by oral…bukan by eyes!! apalagi dibacanya ‘by heart’..alias dibaca dalam hati” 😀

    Karena beda ‘taste & soul” nya pada saat kita membaca langsung dengan membaca dalam hati.

    coba saja kita baca koran, majalah, novel..[atau apaun yang bisa di baca oleh mata kita]..
    tapi di bacanya dengan suara yang lantang, bukan baca dalam hati.

    beda kan?????….

    Justru kesalahan [belibet lidah & mata] sering terjadi pada saat membaca dengan bersuara.
    Karena pada saat penyiar membacakan script yang di berikan oleh scriptwriter…hal2 lain [selain kegiatan membaca script] yang harus para penyiar itu persiapkan pada saat On Air, adalah :
    – theatre of mind
    – improve
    – bridging
    – intonasi / artikulasi
    – body language
    – eye contact
    – touching dengan audience/ listeners
    – informasi yang diberikan ‘nyampe’ ke audience/ listeners.
    – etcetera….

    Jadi penyiar [radio ataupun TV] itu…susah2 gampang….multitasking adalah wajib di miliki oleh semua penyiar!!….

    Begitu juga halnya dengan scriptwriter yang harus cari info kesana kemari…, tapi semua itu tentutan pekerjaan, bukan?…

    Semuanya akan terjadi efek domino..
    karena si penyiar salah baca.., trus si penyiar dimarahi producer,…eh sipenyiar bela dirinya sendiri…”janagn salahin gw doong..tuh baca sendiri gimana script nya!!”…, trus si producer tegur si scriptwriter..’kok lu jelek amat sih nulis script..redaksionalnya sangaat buruk!”…, trus si scriptwriter balik sewot…”lu jadi producer jangan asal marah2 kaya gitu doong, jangan bisanya cuma ngatur2 orang mulu!!,..cobain aja lu bikin script untuk 12 program dalam sehari!!”..
    ..and so on..on…on..and on…sampe akhirnya..sang station manager kasih SP 3 buat semuanya…”

    huuuuuh….*exhaling…*

    Curhat colongan nih, mas…

    piss aahh :))

    hahaha..pusing kalau sudah pada berantem..semuanya bisa teratasi kalau masing-masing selalu berusaha memberikan yang terbaik. bukan cuma minta yang terbaik..PISS….V

  2. Januari 8, 2009 pukul 12:40 am

    Bagus…bagus…bagus..helpfuuuuulllll!!!

  3. 3 Pangeranhant
    Februari 8, 2010 pukul 8:46 pm

    keren …
    jadi dapet ilmu jurnalistik baru ini .
    sangat bermanfaat bangets dah !!
    anaknya siapa sih ?? wkwk

  4. 4 reza kayana
    April 13, 2010 pukul 9:22 pm

    Keren Mas!!! Ni dia yang dibutuhkan penyiar dan (terutama) reporter…. karena bagaimanapun… ujung tombak (yang berhadapan langsung dengan pendengar) adalah penyiar/newscaster/reporter… dan radio itu sendiri.

  5. 5 caecilia Siwi
    September 3, 2010 pukul 12:59 pm

    Bagus. Apakah ada tempat kursus “menjadi pembaca yg baik” ?
    minta info….
    Tks.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 565,119 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: