10
Des
08

Menjual kejujuran

Saya mengakhiri hari yang melelahkan dengan mengajak berbincang mas Rane melalui fasilitas ‘chatting’ yang disediakan oleh Facebook. Obrolan pun mengalir ke pembicaraan seputar jurnalisme infotainment – yang tumbuh menjamur di televisi – yang kadang menerobos masuk ke ranah pribadi dari tokoh yang sedang hangat-hangatnya di’gosip’kan, etika jurnalistik, perlu tidaknya mengungkapkan urusan pribadi seseorang hingga membuatnya menjadi konsumsi publik dan manfaat dari informasi yang disampaikan bagi masyarakat.

Obrolan mengenai etika membuat saya teringat pada sebuah acara reality show yang sempat saya tonton di salah satu channel televisi. Acara kuis yang diberi nama The Moment of Truth ini memberikan hadiah jika peserta yang berani jujur dihadapan orang-orang dekatnya yang ikut hadir satu panggung dalam acara tersebut.

Semakin banyak jawaban jujur, hadiah yang didapat semakin meningkat. Dan gilanya, hadiah akan berlipat semakin besar jika peserta berani menerima pertanyaan-pertanyaan yang sangat pribadi yang tentunya semakin sulit dijawab. Bisa jadi melalui acara ini suami, istri atau keluarga dari si peserta jadi tahu bahwa selama ini ada yang disembunyikan. Diluar etis atau tidak etis, acara ini berani menerobos area paling pribadi, paling rahasia dan paling ditutup-tutupi oleh seseorang. Dari besarnya hadiah yang ditawarkan – hingga ribuan dollar Amerika – melalui acara ini ditunjukkan betapa mahalnya harga sebuah kejujuran.

Mas Rane yang sudah membaca buku ‘DPR Undercover’ membayangkan serunya jika ada production house atau televisi yang menyiarkan sebuah reality show mengungkap kehidupan anggota dewan. Namun ada pertanyaan yang tidak terjawab: Apa ada yang berani? Ide yang menarik mas….. Apalagi menjelang pemilu 2009 akan lebih seru jika para calon wakil rakyat atau para calon pemimpin bangsa ini harus melalui tes kejujuran yang ditonton secara langsung oleh bangsa Indonesia. Hadiahnya bagi mereka yang terbukti jujur, tentu saja adalah kursi kepemimpinan. Pertanyaan yang sama kembali muncul: Apa ada yang berani? Pertanyaan makin kompleks, bagaimana kalau jujur tapi kurang mampu atau ada yang mampu tapi tidak jujur? 8) Makin pusing….

Kembali ke ‘The Moment of Truth’….

Pelajaran lain yang bisa didapat dari acara ini, menurut saya adalah ‘kegilaan kreativitas’ media di Amerika. Seringkali mereka menelorkan ide-ide yang genuine – yang selama ini bagi sebagian kita tidak terpikirkan. Mereka tidak hanya ‘see it happen’ atau ‘wonder it happen’. Tapi mereka benar-benar serius untuk ‘make it happen’!

Di dunia jurnalistik, tidak disadari kita dipicu untuk berpikir kreatif melalui teori 5 W 1 H yang selalu diterapkan untuk melakukan pendekatan, dan menentukan sudut pandang dalam pembuatan sebuah berita.

1. Who? (Siapa) Siapa yang terlibat, siapa yang terkena dampaknya, siapa yang melakukan, siapa yang akan melakukan, siapa yang akan mendapat keuntungan, siapa yang menjadi korban, dan lain sebagainya.

2. What? (Apa) Apa yang terjadi, apa akan tuntas jika sesuatu terjadi, apa yang salah, apa hasil dari kegiatan ini, dan lain sebagainya.

3. When? (Waktu) Kapan terjadinya, kapan akan dilaksanakan, akankah ditunda, dapatkah dipercepat, dan lain sebagainya.

4. Where? (Dimana) Dimana terjadinya, adakah tempat lain yang memungkinkan hal tersebut terjadi, dimanakah pernah terjadi hal yang serupa, adakah tempat yang akan terkena dampak, terkait, atau terangkat dari kejadian ini, dan lain sebagainya.

5. Why? (Mengapa) mengapa hal ini terjadi, diijinkan, dan bisa menimbulkan masalah, mengapa yang bersangkutan melakukan hal ini, mengapa muncul aksi, aturan, ide, solusi, masalah, bencana dan mengapa di lokasi tertentu, waktu tertentu, orang tertentu dan lain sebagainya.

6. How? (Bagaimana) bagaimana bisa terjadi, bagaimana mungkin, bagaimana pencegahan, bagaimana cara membuatnya, bagaimana cara mencegahnya, bagaimana pengembangannya, bisakah dipahami, bagaimana pemaparannya, bagaimana alur ceritanya hingga sampai terjadi demikian dan lain sebagainya.

Dari teori dan pengalaman, ada beberapa tips yang bisa kita gunakan untuk berpikir kreatif dan meningkatkan kreatifitas kita:

  • membaca, melihat dan mendengar, serap semua ilmu dan pengetahuan di sekeliling kita secara terus menerus
  • jangan mematikan ide / gagasan kecil yang muncul
  • jangan membatasi diri dengan berkata tidak mungkin
  • luangkan waktu untuk membebaskan pikiran kita, dan menangkap apa yang selama ini tidak terpikirkan
  • thinking out of the box, keluarlah dari kotak dan lihatlah dari atas agar kita bisa melihat lebih luas
  • selalu ajak otak untuk berpikir
  • mencoba untuk berpikir menggunakan segala macam cara pandang, dengan mencoba membayangkan apa yang akan dipikirkan orang lain terhadap suatu hal

Tips berpikir kreatif antara lain bisa dilihat di:

Semoga bermanfaat, dan selamat mencoba.

Iklan

0 Responses to “Menjual kejujuran”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 555,546 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: