14
Nov
08

Words Power

Gejolak finansial belum juga kunjung usai dari bumi Indonesia. Setelah index saham di Bursa Efek Indonesia terhujam lebih dari 10% pada 8 Oktober 2008, sebluan kemudian (4 November 2008) nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika merosot hingga menembus 11.000. Sore tadi 13 November 2008 terdengar kabar bahwa salah satu bank swasta dinyatakan kalah kliring.

Berita ini sempat membuat masyarakat khawatir musibah yang dialami dunia perbankan Indonesia pada tahun 1998 terulang lagi. Bagaimana tidak, hampir semua orang mempercayakan dananya untuk disimpan di bank. Saat mereka mau menarik dananya, ternyata tidak bisa. Beberapa saat kemudian terdengar berita bahwa banknya mengalami kalah kliring. Otomatis kita langsung terbayang pada kejadian buruk di dunia perbankan 1998.

Menurut sejumlah pengamat, kalah kliring adalah hal yang biasa di dunia perbankan. Ketua Perbanas Sigit Pramono meminta masyarakat untuk tidak panik. Kalah kliring seperti yang terjadi hari ini terasa ‘heboh’ karena terjadi ditengah situasi ekonomi Indonesia dan dunia yang tidak menguntungkan. Kondisi kalah kliring bisa terjadi karena likuiditas yang terganggu dan sulitnya pihak bank mendapatkan pinjaman antar bank.

Hal senada juga disampaikan oleh Tony Prasetiantono Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM yang juga menjabat sebagai Chief Economist BNI. Menurutnya, hal biasa kalau ada satu bank kalah kliring. Karena kadang-kadang menang, kadang-kadang kalah. Namun hal ini tidak bisa dibiarkan terjadi berkali-kali dan terlalu lama. Pemerintah dan Bank Indonesia harus segera mengambil tindakan.

Disisi lain Corporate Secretary bank tersebut mengatakan, insiden yang terjadi adalah keterlambatan melakukan setoran kliring sebesar 5 miliar rupiah seiring dengan meningkatnya mutasi transaksi di kalangan perbankan akhir-akhir ini.

Terlambat kliring. Begitulah yang ingin disampaikan oleh pihak bank. Diluar apakah istilah ‘terlambat kliring’ dapat dengan tepat digunakan untuk mewakili ‘kalah kliring’ atau sebaliknya, peristiwa ini bisa dijadikan sebagai contoh pentingnya pemilihan kata-kata dalam membuat sebuah berita radio. Dari berita ini bisa kita rasakan betapa kuatnya kata-kata. Penggunaan istilah ‘kalah kliring’ langsung ditangkap dengan konotasi negatif oleh masyarakat, yang bisa menyebabkan ketakutan dan kekhawatiran. Bandingkan dengan ‘terlambat melakukan setoran kliring’ yang terasa lebih halus untuk mewakili sebuah kegagalan.

Kata-kata yang kita gunakan untuk menyampaikan sebuah berita, memiliki kekuatan untuk mempengaruhi perasaan dan pikiran pendengar kita. Pemilihan kata-kata yang tepat tidak hanya akan membuat berita kita menjadi lebih menarik bagi pendengar, tetapi juga akan membuat berita kita bernyawa! Namun kita tetap harus menghindari pemilihan kata-kata yang berlebihan, atau bahkan sampai merubah makna dari berita yang ingin kita sampaikan.

Lalu, apakah benar kalah kliring selalu berarti negatif? Berikut ini penjelasan Soedrajad Djiwandono – Guru Besar tetap Ilmu Ekonomi, Universitas Indonesia:

Setiap hari bank-bank perserta kliring harus mencek bagaimana posisinya pada waktu kliring. Suatu bank yang pada waktu kliring, pencocokan hak dan kewajiban bayar membayar tadi akan mengetahui apakah posisinya positif atau negatif. Bagi suatu bank, kalau hak tagihnya lebih kecil dari kewajiban membayarnya menurut dokumen yang dimasukkan proses kliring dikatakan mengalami kalah kliring. Seperti di atas dikatakan suatu bank, termasuk yang kondisinya sehat, suatu hari bisa saja mengalami kalah kliring. Ini suatu istilah yang banyak disalah artikan di masyarakat, seolah-olah suatu bank yang kalah kliring itu otomatis menghadapi masalah hidup matinya bank. Ini tidak benar. Kalah kliring adalah suatu hal yang biasa, karena posisi netto dari hak dan kewajiban harian tadi tidak selalu persis sama besar, tergantung dari transaksi yang dilayani hari tersebut. Tentu saja kalau dalam periode yang berkepanjangan bank terus menerus mengalami kalah kliring, ini memang menandakan adanya masalah yang lebih dalam dari posisi likuiditas, mungkin secara struktural bank ini bermasalah.

Iklan

3 Responses to “Words Power”


  1. 1 iki.aiam
    November 14, 2008 pukul 9:12 am

    oh gitu mas…
    gini sebenernya saya masih SMA kelas 3
    sebentar lagi saya kuliah
    tentunya saya tidak mau terlalu menganggur waktu kuliah nanti
    mungkin saya merasa sedikit punya minat dan juga bakat dalam berkomunikasi
    sehingga saya ingin bekerja sambilan menjadi penyiar radio
    hasil (gaji) yang diterima bukan hal yang penting
    yang penting saya dapat pengalamannya gitu mas…
    kira – kira ada saran apa untuk saya yang
    mencoba mengawali karier di bidang ini?
    tentunya agar kuliah dan kerja tidak bertabrakan gitu mas…

    saran saya, coba terus dan pantang menyerah

  2. November 14, 2008 pukul 7:56 pm

    Artikel-artikel di blog ini bagus-bagus. Coba lebih dipopulerkan lagi di Lintasberita.com akan lebih berguna buat pembaca di seluruh tanah air. Dan kami juga telah memiliki plugin untuk WordPress dengan installasi mudah.
    Kami berharap bisa meningkatkan kerjasama dengan memasangkan WIDGET Lintas Berita di website Anda sehingga akan lebih mudah mempopulerkan artikel Anda untuk seluruh pembaca di seluruh nusantara dan menambah incoming traffic di website Anda. Salam!

  3. 3 JaF
    November 17, 2008 pukul 4:08 am

    Mas, bantuin ngisi Survei Blogger Indonesia dong di: http://tinyurl.com/survei

    siap mas! sudah dilaksanaken hehehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 552,371 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: