21
Okt
08

Krisis Amerika

Belakangan, seiring dengan krisis ekonomi yang berawal dari Amerika dan akhirnya melebar melanda dunia, di media sering sekali didengar istilah “Subprime Mortgage”. Makhluk inilah yang disebut-sebut sebagai cikal bakal munculnya krisis keuangan di Amerika. Sayangnya, media hampir tidak ada yang memberikan penjelasan, apakah yang dimaksud dengan “Subprime Mortgage”. Sehingga masyarakat sebagai konsumen informasi terpaksa menelan mentah-mentah atau menduga-duga apa yang dimaksud dengan istilah asing itu.

Menurut teori pemberitaan, agar informasi yang disampaikan tidak sia-sia, media perlu memberikan penjelasan singkat apa arti istilah asing yang mereka beritakan. Media tidak boleh menganggap, konsumennya sudah memahami apa yang akan disampaikannya. Sebaliknya, media juga jangan menganggap audience-nya tidak mengetahui apa-apa. Dengan demikian memang diperlukan insting yang mampu mengkomposisikan informasi secara pas dan benar.

Dalam posting kali ini, saya akan mencoba membagikan apa yang saya ketahui mengenai “Subprime Mortgage”. Bila saja kurang lengkap, mohon ada yang bisa menambahkan.

Subprime Mortgage

Kata “Mortgage” berasal dari bahasa Perancis yang artinya ‘matinya sebuah ikrar’. Melalui mortgage, kita bisa mendapatkan kredit untuk membeli rumah. Sebagai gantinya, sebelum kredit terlunasi, kepemilikan rumah kita serahkan kepada pihak pemberi kredit. Sehingga, meskipun kita bisa menempati rumah tersebut, kita belum berhak memiliki rumah tersebut sampai angsuran kita lunas. Sejak awal perjanjian mortgage, ada ikrar bahwa rumah yang kita beli belum bisa menjadi rumah kita. Sehingga saat kita tidak mampu membayar cicilan, ikrar itupun dianggap mati dan otomatis kita harus angkat kaki dari rumah tersebut.

“Subprime Mortgage” secara harafiah bisa diartikan sebagai ‘Kredit kepemilikan rumah beresiko tinggi’. Disebut beresiko tinggi, karena pinjaman diberikan kepada mereka yang kurang memenuhi syarat, tanpa melihat bagus atau tidaknya sejarah kredit si peminjam dan kemampuannya membayar hutang. Lawan kata Subprime adalah Prime, dimana si penerima kredit memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

Mortgage di Amerika

Sekitar tahun 1920an, pemerintah Amerika menerbitkan UU Mortgage, dimana bagi warga yang memenuhi persyaratan tertentu, bisa mendapatkan mortgage. Mereka yang berpenghasilan sekian juta pertahun diperbolehkan membeli rumah senilai sekian juta dan bisa mengangsur pembayaran hingga 30 tahun dengan bunga ringan hanya sekitar 6% pertahun.

UU Mortgage menggairahkan bisnis properti dan memberikan peluang bagi bisnis lain yang terkait dengan industri perumahan, seperti industri keuangan. Hingga akhirnya sampailah pada era 80-an, di saat sebagian besar warga sudah memiliki rumah, pemerintah melakukan reformasi pajak untuk memacu minat warganya membeli rumah. Mereka yang membeli rumah, diberi keringanan pajak. Karena tarif pajak di negara maju yang tinggi, tentunya kebijakan ini mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat.

Bisnis rumah terus meningkat drastis menjelang 1990 hingga era 2000-an. Budget mortgage yang biasanya hanya USD 150 miliar setahun, terus meningkat hingga USD 700 miliar pada 2004.

Apa kaitan Mortgage dengan kebangkrutan lembaga investment banking

Pertumbuhan bisnis perumahan yang menggairahkan dilihat sebagai peluang bisnis bagi perusahaan keuangan untuk meningkatkan laba. Mereka berlomba beriklan dan bersaing memberikan fasilitas kredit. Masyarakat-pun terpancing untuk berlomba membeli rumah. Mereka yang sudah memiliki rumah atau sudah lunas KPR-nya, melakukan mortgage lagi untuk membeli rumah yang lainnya. Mereka yang tidak memenuhi syarat membeli rumah pun, bisa dengan mudah mendapatkan kredit. Lembaga keuangan termasuk ‘investment banking’ sebagai pemberi kredit tidak takut terjadi kredit macet. Mereka beranggapan masih akan mendapatkan keuntungan meskipun ada yang kreditnya macet karena harga rumah terus meningkat.

Investment banking, berbeda dengan bank. Investment banking adalah lembaga keuangan yang mirip dengan bank. Jika bank terikat banyak peraturan, investment banking tidak terikat dengan peraturan. Aktivitas investment banking juga serupa dengan bank. Mereka bisa menerima deposito, meminjamkan uang, meminjam uang, membeli perusahaan, membeli saham, menjadi penjamin, membeli rumah, menjual rumah, dan lain sebagainya. Lehman Brothers, dan Bear Stern termasuk sebagai perusahaan keuangan jenis investment banking.

Karena memiliki kebebasan yang lebih dalam mengatur aliran dananya, investment banking menjadi pemberi pinjaman yang agresif. Mereka bisa memberi pinjaman tanpa ketentuan pembatasan apa pun. Bisa membeli perusahaan dan menjualnya kapan saja. Kalau uangnya tidak cukup, ia bisa pinjam kepada siapa saja. Ke bank lain, ke sesama investment banking, atau dengan menawarkan program investasi kepada orang-orang yang memiliki banyak uang.

Karena terlalu bebas memberikan mortgage, dalam waktu kurang dari 10 tahun jumlah subprime mortgage yang gagal bayar melesat cepat. Pemberi kredit banyak melakukan penyitaan rumah, sehingga semakin banyak juga rumah yang dijual. Akibatnya, harga rumah yang di era sebelumnya meningkat, sekarang justru merosot drastis. Harga rumah yang makin merosot membuat nilai rumah tersebut sebagai jaminan tidak cocok dengan nilai pinjaman. Gagal bayarpun semakin banyak terjadi.

Lembaga keuangan yang memberikan pinjaman, juga sudah menjaminkan rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking lainnya. Terjadilah efek domino, dimana 1 perusahan bangkrut akan menarik perusahaan lainnya ke jurang kehancuran.

Seperti diberitakan, nilai uang yang terbelit dalam krisis subprime mortgage ini mencapai sekitar USD 5 triliun. Angka yang jauh berada di atas program bantuan keuangan yang diajukan presiden Bush yang hanya senilai USD 700 miliar. Menurut hitung-hitungan, angka USD 700 miliar sama dengan pendapatan seluruh bangsa dan negara Indonesia dijadikan satu. Itupun masih belum cukup untuk menutup kerugian subprime mortgage di Amerika.

(dirangkum dari berbagai sumber)
Iklan

0 Responses to “Krisis Amerika”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 555,670 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: