16
Sep
08

berita yang membosankan

Saya teringat masa sekolah, saat mendapat tugas merangkum siaran berita radio dari guru bahasa Indonesia. Yang pertama muncul di pikiran adalah rasa malas dan enggan mendengarkan berita. Aduh…masa harus mendengarkan orang berbicara membaca berita sih! Membosankan!

Nampaknya ketidak-sukaan mendengarkan berita di saat sekolah menjadi bumerang, karena saat ini saya justru harus membuat berita. Tidak hanya itu, berita yang dibuat tidak boleh membuat orang bosan agar radio yang menyiarkan berita itu tidak ditinggalkan pendengar.

Dari pengalaman membuat naskah radio bisa disimpulkan bahwa pada saat siaran, kita menuturkan (mendongengkan / menceritakan) sesuatu ke pendengar, bukan membacakan. Menurut teori, kalimat-kalimat yang disampaikan oleh penyiar radio harus menggunakan bahasa tutur. Bahasa yang digunakan adalah bahasa sederhana dan menghindari kalimat yang panjang. Perlu diperhatikan, semakin sering kita menggunakan kalimat yang bertele-tele dan sulit dimengerti, akan semakin cepat pendengar meninggalkan kita.

Hal-hal lain yang perlu diperhatikan agar berita kita tidak membosankan:

01. Sampaikan informasi dalam urutan yang logis. Dalam pembuatan naskah berita, susunannya harus diupayakan seruntut mungkin, sehingga tidak membuat bingung pendengar. Antara lain dengan meletakkan fakta baru dari informasi yang kita sampaikan di bagian awal berita dan jika kita memasukkan kalimat tanya, segeralah memberikan jawabannya pada kalimat berikutnya.

02. Gunakan pengulangan yang cerdik. Tentunya kita pernah mengalami ketinggalan mendengar sebuah berita dan merasa jengkel ketika ingin mengetahui siapa atau apa yang sedang diberitakan, namun rasa keingin tahuan kita tidak segera mendapat jawaban karen reporter atau si penyampai berita hanya berulang-ulang menyampaikan: “Dia mengatakan…” tanpa menyebutkan siapa nama tokoh yang dimaksud. Hal ini juga bisa terjadi pada pendengar kita, dimana mereka terlewat mendengarkan bagian awal dari informasi yang kita sampaikan, sehingga ada beberapa data penting yang kemungkinan tidak tertangkap. Agar pendengar tidak kebingungan dan menduga-duga apa yang sedang didengarnya, kita bisa kembali menyampaikan informasi-informasi penting, misalnya kita sampaikan kembali lokasi kejadian, nama narasumber atau pelaku atau tokoh yang diberitakan. Tekhniknya, pengulangan ‘informasi penting’ dari sebuah berita bisa dilakukan pada kalimat-kalimat akhir. Kesempatan kedua ini kita berikan, setelah pendengar mendapatkan sebagian besar isi berita.

03. Hindari penggunaan singkatan, istilah, inisial dan jargon tanpa memberikan penjelasan. Kita bisa membayangkan, apa yang kita rasakan saat mendengarkan sebuah berita, kita tidak memahami apa arti istilah-istilah yang disampaikan oleh penyiar atau reporter. Tentunya kita akan berharap penyiar atau reporter bisa menjelaskan apa istilah asing yang dimaksud dalam berita tersebut. Pendengar akan kecewa atau bahkan jengkel jika sampai berita selesai belum juga mendapat penjelasan dari penyiar atau reporter.

04. Hindari penempatan kalimat yang tidak tepat. Penempatan kalimat yang tidak tepat dan terlalu panjang, akan membuat pendengar tersandung saat mendengarkan sebuah berita. Bayangkan jika saat kita mendengarkan sebuah berita, tiba-tiba muncul kalimat panjang dan sulit dipahami. Yang terjadi adalah, seluruh momentum cerita dari berita yang disampaikan seolah terinterupsi. Bukan berarti penggunaan kalimat panjang tidak diperbolehkan, tetapi variasikan dengan kalimat-kalimat pendek. Selain itu, untuk membantu kelancaran alur cerita agar sebuah berita bisa dinikmati oleh pendengar, penulis berita juga harus membantu pembaca berita dengan memilih bentuk huruf yang jelas serta menghindari penggunaan istilah asing dan aneh yang tidak diperlukan.

05. Gunakan kata penghubung untuk memperlancar alur berita. Kata-kata yang biasa digunakan untuk memperlancar alur cerita antara lain:

  • ‘tetapi’ atau ‘namun demikian’ untuk menunjukkan bahwa sebuah fakta yang berlawanan akan disampaikan.
  • ‘sementara’ digunakan bila terdapat hubungan erat antara masalah dan waktu dari sebuah peristiwa yang terjadi simultan / bersamaan. Perlu diperhatikan, kata ‘sementara’ seringkali digunakan sebagai penghubung pada situasi yang tidak tepat.
  • ‘disisi lain’ atau ‘terkait dengan’ bisa digunakan untuk memberikan penjelasan dari makna dua buah peristiwa
  • dan lain sebagainya.

Semoga bermanfaat, dan bisa mengikat pendengar dengan berita yang kita sampaikan.

Iklan

3 Responses to “berita yang membosankan”


  1. September 16, 2008 pukul 9:14 am

    tips yang sangat berguna dan bisa dipergunakan untuk menulis posting di blog, terima kasih mas

    sama-sama mas

  2. 2 JaF
    September 16, 2008 pukul 11:32 pm

    Nambahin mas. Ada satu unsur penting yang menurut saya sering terlewati, yaitu sense of urgency dalam membaca berita. Sense of urgency ini lebih dari sekedar berturur. Dia adalah seni bertutur dengan sedemikian rupa sehingga setiap kata, setiap penekanan, setiap ekspresi suara semua berperan dalam memberikan pemahaman dan gambaran di benak pendengar. Saya paling malas dengar berita yang dibacakan dengan datar-datar saja tanpa ada unsur emosi, apalagi sense of urgency.. 🙂

    Bener mas.. jadi inget jam sekolah dulu, disuruh nyatet berita hehehe. Asli males banget. Saya sampe minta tolong orang lain untuk nyatetin hihihi

    o iya…SENSE OF URGENCY! Thanks sudah dilengkapi mas! Sense of urgency dan emosi membuat berita yang kita sampaikan ada roh-nya.

  3. 3 linda
    Oktober 18, 2011 pukul 10:40 am

    bagi saya orang awam, berita adalah seorang teman, yang mampu bersuara dikala kita sedang kesepian, menyanyi dikala kita senang, dan benbicara dikala kita membutuhkan jawaban. nah buatlah ‘suara’ di dalam radio mampu menginspirasi kita, disegala kondisi apapun. Radio menciptakan ‘kita’, tanpa memusnahkan ‘saya’. 🙂 thk u


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 552,371 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: