14
Agu
08

The Others

Sedikit menyontek dan memelintir pepatah lama yang sangat kita kenal, “Gajah dipelupuk mata tak nampak, apalagi kuman diseberang lautan.” Jika kita tidak mampu ‘melihat’ diri kita sendiri, bagaimana kita bisa membawa radio kita menjadi lebih baik, mulai dari sisi crew secara pribadi hingga organisasi kita secara keseluruhan.

Seringkali seorang station manager, program director, hingga produser mengeluhkan sulitnya menghindarkan staff, crew dan air talent dari kesalahan. Di lapangan kesalahan demi kesalahan terjadi, semakin lama menjadi masalah yang terus menggunung. Hal ini akan terus terjadi jika kita hanya bisa menyalahkan bawahan.

Yang perlu kita lakukan adalah mencari solusi agar kesalahan-kesalahan tersebut tidak terus berulang. Solusi yang paling manjur adalah memikirkan APA yang harus kita lakukan agar kesalahan tidak terjadi. APA yang harus kita lakukan agar crew tidak berbuat salah lagi. Penggunaan kata “APA” disini menunjukkan “ACTION” yang harus kita lakukan.

Kesalahan tidak akan berhenti hanya dengan BICARA marah-marah, memberikan peringatan, punishment, hingga mengkotak-katik sistem dan aturan. Yang diperlukan adalah TINDAKAN kita agar team kita tidak melakukan kesalahan. Ingat, tugas kita bukan menemukan kesalahan crew tapi MENCEGAH agar crew tidak berbuat salah.

Apakah sulit? TIDAK jika kita mau melakukannya. Sebagai contoh misalnya, pada saat mengeksekusi sebuah program baru, sebaiknya kita langsung mendampingi penyiar yang bertugas mengeksekusi acara di dalam ruang siaran. Dengan demikian, langkah demi langkah yang harus dilakukan oleh penyiar bisa kita bimbing dengan sempurna sesuai dengan Standard Operating Procedur yang kita tentukan.

Untuk hasil yang memuaskan, saya rasa tidak ada ruginya jika kita sedikit kerepotan diawal. Memang tidak efisien, tapi langkah ini efektif untuk menghindari terjadinya kesalahan. Setelah show pertama kita melakukan pengawasan melekat, untuk show berikutnya jika dirasa aman, kita bisa menyerahkan tanggungjawab eksekusi acara ke produser atau penyiar. Sedangkan tugas kita cukup memonitor jalannya acara.

Mereka yang ada dijajaran manajerial, seringkali bertindak seperti pilot pesawat tempur – Fire and Forget. Setelah menembakkan peluru, mereka berbelok meninggalkan sasaran tembaknya begitu saja. Setelah memberikan order dan melakukan briefing, banyak bos yang tidak melakukan pengawasan dan pendampingan terhadap proses eksekusi. Yang terjadi, jika result tidak sesuai dengan yang diharapkan, hanya bisa marah dan menyalahkan anak buah.

Ada beberapa point yang perlu direnungkan bagi mereka yang memiliki bawahan:

  • Kegagalan bawahan adalah kegagalan kita.
  • Antisipasi lebih baik daripada recovery.
  • Jangan Fire and forget.
  • 2 hal yang mungkin terjadi jika murid mengalami kegagalan: muridnya yang bodoh atau gurunya yang tidak bisa mengajar
  • Lebih baik merubah diri kita untuk mengerti orang lain daripada memaksa orang lain untuk berubah karena kita tidak memiliki koneksi langsung untuk mengendalikan orang lain baik secara fisik apalagi kepribaidannya.

Lalu apa kaitan semua ini dengan judul posting? Ada film menarik yang bisa mengingatkan kita untuk “bercermin diri”. Selain pesannya, alur cerita film ber-genre horor ini juga menarik untuk diikuti dan yang terpenting adalah ending-nya yang diluar dugaan. “The Others” dirilis pada Agustus 2001 bercerita tentang Grace (Nicole Kidman) bersama kedua anaknya pindah ke sebuah rumah besar di Jersey di penghujung perang dunia kedua. Karena menderita sebuah penyakit langka, kedua anak Grace tidak bisa terkena sinar matahari.

Semuanya berjalan damai hingga kedatangan 3 pelayan misterius yang bekerja di rumah itu. Peristiwa-peristiwa aneh dan mengejutkan terus mengalir hingga akhirnya terbongkarlah rahasia misteri yang dialami oleh keluarga Grace. Siapa yang menghantui keluarga Grace? Siapa sebenarnya hantu-hantu itu? Gajah dipelupuk mata memang tak nampak. Unpredictable! 8)

Sinopsis lengkap klik di sini.

Iklan

2 Responses to “The Others”


  1. 1 yoghi
    Agustus 14, 2008 pukul 5:51 am

    Memang kita seringkali melakukan tindakan yang menurut kita itu positif dan demi kebenaran, namun ternyata kita sadar kalau kekeliruan itu terjadi justru karena kealpaan kita sendiri. Kita hanya butuh kecepatan untuk mengantisipasi semua ini…atau yang lebih hebat…mengcover dari semua kealpaan itu sehingga kita tidak perlu melakukan sesuatu yang sesungguhnya tidak perlu kita lakukan…kalau makan pedas membuat kita mules janganlah berhenti baru setelah kita diare, karena kita toh bisa menghindari makanan bercabe tersebut. Mudah tapi perlu tekad yang bagus untuk memulainya.

  2. Oktober 29, 2008 pukul 9:17 pm

    Yup harus berubah sebelum terlambat ketika menemukan kesalahan. Kalo enggak kita kaya Grace merasa dihantui padahal….ya nonton sendiri.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 555,670 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: