07
Agu
08

Big Fat Liar

Very Idam Heryansyah alias Ryan – tersangka sejumlah pembunuhan – beberapa kali menjalani uji kebohongan di Mapolda Jawa Timur. Cara ini ditempuh setelah berkali-kali Ryan memberikan keterangan yang berubah-ubah saat diperiksa oleh polisi.

Kebohongan, tidak hanya dilakukan oleh kriminal. Koruptor, politikus, pengusaha dan siapapun bisa saja menjadi seorang pembohong. Ada yang belum pernah berbohong?

Saat kita berbohong, selalu dilakukan dengan sadar dan mengandung unsur kesengajaan. Misalnya, seseorang yang mengetahui sesuatu namun mengaku tidak tahu. Namun situasinya berbeda jika misalnya ada seseorang mengatakan bahwa si A pergi dengan si B, padahal sebenarnya si A pergi dengan si C. Bisa jadi hal ini hanya sebuah kesalahan karena ketidak tahuan, sehingga tidak bisa dikatakan sebagai sebuah kebohongan kecuali jika dilakukan dengan sengaja.

Selama ini, jika media “salah” dalam menginformasikan sesuatu bisa dikatakan telah melakukan kebohongan terhadap publik. Namun mengacu teori diatas, selama dilakukan tanpa kesengajaan, kesalahan memberikan informasi tidak bisa dikatakan sebagai kebohongan. Meskipun demikian, media tetap harus cek dan ricek agar dapat menyajikan berita dan informasi yang bisa dipertanggungjawabkan.

Dalam buku “What is Compulsive Lying?”, Derek Wood membeberkan bahwa ada beberapa alasan mengapa seseorang berbohong. Alasan yang pertama adalah ketakutan. Karena takut menghadapi hukuman atau resiko dari kesalahan yang telah dia perbuat.

Yang kedua adalah karena kebiasaan. Karena selalu mengalami ketakutan dihukum, seseorang secara otomatis akan terus menerus berbohong. Bahkan jika sudah parah, bisa jadi dia akan mengalami lying by reflex, sehingga meskipun sudah dihadapkan sebuah bukti kebenaran, dia tetap berkeyakinan bahwa kebohongannya-lah yang benar.

Yang ketiga adalah karena mencontoh orang lain. Jika seseorang melihat orang lain berbohong, terutama jika dia terlibat dalam kasus yang sama, maka kecenderungan untuk berbohong akan semakin besar.

Dari ketiga hal tersebut diatas, pada intinya bisa diketahui bahwa seseorang akan berbohong pada saat mereka merasa tidak akan mendapatkan apa yang mereka inginkan jika mereka berbicara jujur.

Menurut pengalaman, yang paling berbahaya dan susah diatasi adalah berbohong yang sudah menjadi kebiasaan. Tanpa mereka sadari, kebohongan sudah membuat mereka kecanduan. Sekali berbohong mereka akan berbohong dan berbohong lagi untuk menutupi kebohongannya yang sebelumnya. Dan semakin sering berbohong, dia akan semakin terasah, baik secara kemampuan maupun keberanian. Jika diawal berbohong masih takut-takut lama-lama akan makin berani dan semakin pandai berkilah. Mereka lalai bahwa dengan berbohong, mereka sudah melakukan kesalahan ganda yaitu berbuat sesuatu yang salah dan seharusnya tidak dilakukan dan berbohong.

Cerita tentang seorang pembohong besar bisa kita tonton dalam sebuah film komedi BIG FAT LIAR (2002). Dalam film ini diceritakan pengalaman seorang anak muda yang memiliki kebiasaan berbohong. Kadang dia berhasil namun tidak jarang juga kebohongannya terbongkar.

Bagaimana dengan radio atau kantor kita?

Jika ada crew yang seperti ini, apa yang harus kita lakukan? Dasar dari relationship dalam hal apapun adalah kejujuran. Perilaku atau attitude adalah bagian dari diri kita. Mereka yang attitudenya buruk, apakah harus dipertahankan? Skill masih bisa diperbaiki bahkan ditingkatkan. Namun untuk attitude, tidak akan ada yang bisa memperbaiki, kecuali yang bersangkutan memang memiliki niat kuat untuk berubah menjadi lebih baik.

Tugas kita hanyalah mengingatkan, mengarahkan dan memberikan penilaian. Namun semua kembali ditentukan oleh yang bersangkutan. Yang perlu kita pertimbangkan adalah, jangan sampai waktu dan energi kita terkuras untuk menyelamatkan seseorang, sementara pekerjaan dan anggota team kita yang lain justru terbengkalai.

Iklan

4 Responses to “Big Fat Liar”


  1. 1 adhoen
    Agustus 7, 2008 pukul 11:49 pm

    ya…memang siapa sih yang tidak pernah bohong,bohong itu salah satu perbuatan tercela.. tapi kadang kita tidak menyadari dalan kehidupan sehari-hari sering berbohong…makanya hati ini harus kita ajak untuk mengontrol nafsu kita agar jangan nampai berbohong..

  2. Agustus 11, 2008 pukul 6:14 am

    Quite sure that being a cold-blooded serial killer is hell lot worse than just being a liar; but the worst liar ever is one who would lie to one self. I am the Queen of England, by the way.

    Salam kenal. 😀

    hahaha…salam kenal juga!

  3. Agustus 12, 2008 pukul 10:28 am

    Kadang kebiasaan berbohong itu terbentuk sadar/tanpa sadar sejak si anak masih kecil… misalnya melihat perilaku ibunya kepada ayahnya yg sringkali berbohong demi menutupi sesuatu, misalnya… dan si anak, hadir disana sebagai saksi… menyaksikan betapa kebohongan itu kemudian “menyelamatkan” posisi si ibu… atau sebaliknya.,

    dan itu membekas dalam alam bawah sadar si anak yg kemudan di recall cembali ketika dia dewasa…

    penyimpangan kepribadian yg dialami tersangka menurut aku sebagian besar kebentuk dari pola asuh ketika dia kecil sampai cukup besar… lalu lingkungan mengambil alih pembentukan kepribadiannya hingga dewasa…

    ini makanya penting juga buat kita ngejaga dengan siapa kita bergaul… kasus sheila marsyela yg ketangkap karna shabu2 itu misalnya mas… anak ini tadinya baik, tapi karna pergaulan, dia jadi lupa kalo shabu2 itu bisa menghancurkan masa depannya…

    duhhh, jadi takut saya, punya anak perempuan semata wayang gini, gimana ntar masa-masa remaja dia yahh, pasti jamannya dah berubah lagi…

    setuju! untuk anak-anak menurut saya tidak ada cara lain, yaitu membina komunikasi yang baik antara anak dan orangtua, pendidikan agama saya rasa juga tidak bisa diremehkan. dan jangan lupa, be a good model for our children

  4. Agustus 12, 2008 pukul 3:24 pm

    yahh, ketagihan deh bolak balik sini… 😛

    btw, playlist ternyata gak di update tiap hari toh mas, hehehe (kuciwa dotkom, hahaha… brharap siang2 mampir dengerin lagu2 baru 😛 )

    anyway, soal pendidikan anak… iya banget, saya selalu berfikir gini, ketika anak saya brkelakuan yg tidak2, atau berkata2 kasar, instead of get angry to her… I’d say to my self, “Hey, she is mirroring you”… jadi mungkin aja tanpa sadar saya pernah brekata2 kasar, sehingga dia merasa itu bukan satu hal yg salah. ahh, saya jadi ingat dulu saya pernah bikin list PR saya untuk ngajarin anak jadi pribadi yang menyenangkan… kaloa da waktu kapan2 baca yah, aku tulis disini

    thanks yach, update lagi playlistnya dongggg… 😀

    hihihihi…lagunya memang tidak aku update tiap hari, biar nggak pada bosen. sabar ya. tapi kalau posting saya selalu usahakan setiap hari mengisi blog ini. ehm…tugas orangtua, khususnya ibu memang berat ya…pffffff….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 555,661 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: