05
Agu
08

“Jangan kemana – mana…”: Saya mau mandi masak ga boleh…

Ditulis oleh: Ary Bangli

Suatu pagi, Ibu tetap di depan televisi – nongkrongin acara kesayangannya. Ia tetap terpekur menunggu iklan, setelah Si Pembawa Acara mengatakan, “ Jangan kemana – mana. Kami akan segera kembali, setelah yang satu ini……” [yang dimaksud ‘yang satu ini’ adalah iklan] Aku pun segera mengingatkannya, agar ia segera belanja karena hari terburu siang.

Pagi itu, aku memang sedikit santai. Pekan ini, aku masuk shift siang. Bosan melihat acara televisi yang penuh gosip, aku beralih mendengarkan radio. Ada talk show mingguan yang sayang kalau dilewatkan. Acara diskusi di radio itu memang menarik. Selain topiknya hangat, pembicara yang hadir pun keren – keren. Menjelang jeda, Si Moderator berucap, “ Jangan kemana – mana. Kami akan segera kembali, setelah yang satu ini……” . Lho, kok sama dengan pembawa acara di televisi.

Ya, begitulah. Rupanya moderator diskusi di radio itu mengikuti gaya televisi untuk mengantarkan jeda iklan. Sekilas, memang tak ada yang salah dengan kalimat tersebut. Namun, jika kita cermati aneh juga ya…| Ini dikarenakan radio dan televisi mempunyai karakter yang berbeda. Radio bersifat kilas dengar, sedangkan televisi kilas pandang [dan kilas dengar]. Dengan karakter ini, orang menonton televisi memang menyediakan waktu untuk menontonnya. Di sisi lain, kita juga tidak menafikan perkembangan teknologi. Ini dikarenakan, sekarang menonton televisi bisa dilakukan di hampir setiap tempat, bahkan di mobil sekali pun. Melalui HP atau layar slim siaran televisi bisa dinikmati sambil menikmati junk food di mall atau di mobil dalam perjalanan menuju tempat kerja. Meski demikian, menonton televisi tetap ‘mamaksa’ mata dan telinga untuk tetap tertuju di layar. Jika menonton televisi di mobil, Si Pengendara juga dituntut lebih waspada agar tidak bertumbukan dengan pengendara lain. [Polda Metro Jaya mewacanakan untuk menilang pengandara mobil yang menonton televisi].

Lain televisi, lain pula radio. Radio – yang juga dikenal sebagai intimate media – siarannya nyaris dapat dinikmati sambil berapa saja. Adik saya – dulu – belajar sambil mendengarkan radio. Kini, setelah dia kerja, juga mendengarkan radio kalau sedang rehat. Di Jakarta, pengendara mobil yang melintas di jalan tol sambil memantau Elshinta atau Sonora untuk menghindari kemacetan. Sedangkan, di Surabaya memantau SS untuk keperluan yang sama. Radio pun menjadi media yang lebih ‘mobile’ dibandingkan media lain, karena bisa diajak kemana – mana. So, dengan karakter ini, tak perlulah mengikuti kebiasaan para presenter televisi.

Tanpa terasa, diskusi di radio yang menarik itu tuntas. Hari pun beranjak siang, saya harus bersiap untuk ke kantor. Di penghujung acara, Si Moderator kembali berucap, “ Jangan kemana – mana. Tetaplah bersama kami, kebersamaan kita akan dilanjutkan bersama Rekan…[sambil menyebut penyiar]. Selamat Siang.. “ Saya pun segera mematikan radio – bukan untuk kemana – mana – melainkan segera mandi agar tidak terlambat nyampai di kantor. Lagian, saya tidak mandi sambil mendengarkan radio.

Iklan

1 Response to ““Jangan kemana – mana…”: Saya mau mandi masak ga boleh…”


  1. 1 yoghi
    Agustus 5, 2008 pukul 4:51 pm

    “bukan untuk kemana – mana, melainkan segera mandi agar tidak terlambat nyampai kantor. Lagian, saya tidak mandi sambil mendengarkan radio….” hahaha lucu, tulisan yang bagus…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 565,119 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: