15
Jul
08

Hukum rimba atas nama rakyat

I editRakyat susah, radio yang jadi korban. Itulah yang banyak dihadapi oleh rekan-rekan pengelola radio di daerah. Belakangan sejumlah radio yang sudah belasan tahun berdiri dengan tenang dan beroperasi dengan ijin resmi, bisa didemo “warga”. Kalau sudah begini, tidak ada kata lain bagi pengelola radio kecuali memenuhi tuntutan warga. Mungkin ada diantara pengelola radio yang berpikir,”Mau bagaimana lagi…posisi serba susah. Tidak tahu akan kuat sampai kapan”. Aparat keamanan yang seharusnya mengamankan lingkungan pun kadang kurang mengantisipasi keadaan. Lembaga yang mengeluarkan ijin siaran pun sontak berbalik menempatkan radio di posisi yang salah. Mungkin daripada tidak dipilih oleh “rakyat” dalam pemilihan mendatang.

Modus operandinya biasa diawali dengan mengangkat permasalahan klasik yaitu keamanansegel I resize edit tower / antena. Sekali lagi, meski ijin dan IMB sudah dikantongi, lengkap dengan asuransi dan sudah bertahun-tahun beroperasi tanpa masalah, kejadian seperti ini masih memungkinkan untuk terjadi. Ya, kalau memang sudah maunya dijadikan masalah, mau bagaimana lagi. Biasanya, mereka tidak akan mau berlama-lama menunggu jalur pengadilan dan sebagainya. Mereka akan ambil tindakan sendiri, mungkin akibat sering menonton berita mengenai demo. Tuntutannya macam-macam, mulai dari penghentian siaran hingga minta bagian duit.

Menurut pengalaman saya, hal ini sebenarnya bisa diredam, dengan melakukan antisipasiĀ  seperti:

  • membina hubungan baik dengan warga sekitar, terutama dengan tetangga yang tinggal bersebelahan dengan kantor kita dan tokoh masyarakat.
  • membiasakan crew untuk ramah dengan masyarakat sekitar. Seringkali kita temui crew radio yang angkuh dan tidak bersahabat dengan warga sekitar.
  • biasakan untuk aktif menyumbang, ikut dalam kegiatan kemasyarakatan yang diadakan di lingkungan kantor kita.
  • lakukanlah pendekatan-pendekatan sosial lainnya

Di sejumlah radio yang hubungannya terjalin akrab dengan warga sekitar, biasanya konflik lebih jarang terjadi. Apalagi kalau masyarakat sudah merasa ikut memiliki radio kita, mereka tidak akan mudah terbakar provokasi.

Jika kita sudah melakukan berbagai macam upaya untuk menciptakan situasi lingkungan yang kondusif namun yang terjadi justru diluar apa yang kita harapkan, apa boleh buat. Ingat, radio yang selama belasan atau bahkan puluhan tahun tenang damai saja, bisa jadi tiba-tiba di demo warga. Dalam kondisi susah dan lapar, apapun memang bisa terjadi di Indonesia saat ini. Kita harus hadapi masalah ini dengan arif dan bijak, serta jangan lupa untuk menyiapkan dana. Begitulah kenyataan yang terjadi.

Hidup makin susah. Waspadalah…waspadalah…

Iklan

0 Responses to “Hukum rimba atas nama rakyat”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 552,371 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: