28
Mei
08

Yang sepele dalam wawancara radio

Sebenarnya sepele, dan pasti rata-rata kita sudah mengerti, paham bahkan sudah pernah melakukan. Tapi karena sepelenya, seringkali kita melupakannya. Melalui tulisan ini saya ingin sedikit melakukan reminding agar wawancara yang dilakukan oleh reporter kita tidak gagal berantakan hanya masalah sepele. Secara detail kita perlu memperhatikan apa yang harus dilakukan reporter kita sebelum, pada saat dan sesudah melakukan wawancara:

Sebelum wawancara:
  • Cek perlengkapan wawancara: mic, alat rekam (tape, cd atau digital voice recorder), alat komunikasi (handphone termasuk pulsanya)
  • Lakukan uji coba, baik saat di studio maupun saat sudah bertemu dengan narasumber
  • Siapkan alat tulis untuk mencatat pertanyaan-pertanyaan spontan yang muncul ditengah wawancara
  • Ice breaking, untuk mencairkan suasana yang kaku dengan pertanyaan ringan. Setiap ada kesempatan, saat sedang tidak recorded/ on air, lakukan ice breaking untuk menjaga mood dan kedekatan dengan narasumber. Jangan melakukan ice breaking pada saat sudah siaran, seperti bertanya “apa kabar?” yang secara umum pasti dijawab “baik!”.
  • Have a chit chat, jangan ragu minta pendapat narasumber tentang pertanyaan yang sudah kita siapkan.
Saat wawancara:
  • Straight to the point, perlu dingat bahwa waktu yang kita miliki terbatas. Air time di radio kita terbatas, waktu pendengar untuk mendengarkan radio kita juga terbatas, dan waktu narasumber untuk diwawancarai juga terbatas. Jadi langsung saja ke pokok permasalahan.
  • Perhatikan mutu audio, karena jika mutu audio dari hasil wawancara jelek, bisa dipastikan tidak akan layak siar. Untuk itu ajak narsum ketempat yang lebih sepi, posisi mic membelakangi sumber keramaian, dan kenakan headphone saat merekam wawancara agar kita dapat memantau kualitas audio dari suara yang kita rekam.
  • Jaga jarak mic dengan sumber suara kira-kira 1 jengkal. Jika suasana ramai, bisa lebih didekatkan, namun harus dijaga agar tidak sampai terjadi popping (suara tebal saat pengucapan huruf P dan B). Popping dapat dicegah dengan tidak menempatkan mic sejajar dengan mulut narasumber. Jika mic kita pegang, pastikan tidak bergoyang agar tidak menimbulkan suara-suara yang tidak diinginkan. Jika perlu bawa stand mic (table) atau clip on mic.
  • Jika jawaban bertele-tele atau Out of Topic segera cut pada saat nada berhenti (titik), dan ajukan pertanyaan yang bisa membawa wwawancara kembali ke topik bahasan semula.
  • Jangan minder dan sopan yang terlalu berlebihan. Posisikan diri kita sejajar dengan narasumber.
  • Jangan mengeluarkan suara-suara yang tidak perlu seperti ehe, iya, ooo, mmmm. Cukup berikan respon dengan anggukan.
  • Tidak perlu menyebut nomor pertanyaan.
  • Biasakan selalu mencatat, karena ditengah wawancara bisa saja muncul ide untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan spontan. Selain itu, catatan akan bermanfaat untuk mempermudah proses editing di studio.
Setelah wawancara
  • Jika recorded / rekaman, sekali lagi lakukan cek mutu rekaman, sehingga jika ada hal-hal yang perlu diperbaiki bisa dilakukan pada saat kita masih bersama dengan narasumber.
  • Jawab pertanyaan narasumber dengan baik & benar. Misalnya: kapan akan disiarkan, apakah hasil wawancara ini akan diedit, untuk acara apa? Dan lain sebagainya.
  • Sambil berterimakasih, jangan lupa manfaatkan untuk membangun jaringan, dengan mengumpulkan data siapa saja yang dikenal oleh narasumber dan apakah dia memiliki nomor kontaknya.
Iklan

3 Responses to “Yang sepele dalam wawancara radio”


  1. Mei 28, 2008 pukul 7:13 am

    Saran-saran yang sangat bagus sekali, sangat bermanfaat, terima kasih Mas Alex

    your welcome mas! senang sudah bisa berbagi

  2. Mei 29, 2008 pukul 7:20 pm

    Wah patut diterapkan nih…sebagai pemula thx u so much yaa mas ilmunya Insyaallah berguna bagi saya dan semua orang.

  3. 3 Arleta Fenty
    November 28, 2008 pukul 11:49 pm

    makasih ya mas. huff.. mo wawancara bos kampusku. wish me luck


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 565,119 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: