21
Mei
08

Travel Report

Laut dan langit

Seperti yang sudah direncanakan, Senin 19 Mei 2008 saya mendapat tugas untuk mengunjungi radio di Banyuwangi. Perjalanan berawal jam 07.00 pagi dari Magelang ke bandara Adisucipto di Jogjakarta. Perjalanan 1 jam melewati jalan-jalan yang hampir setiap minggu saya lewati, menuju Adisucipto yang juga hampir setiap minggu jadi pos pemberangkatan saya ke tempat kerja di luar kota.

Sekitar jam 09.00 saya mulai terbang menuju bandara Ngurah Rai Denpasar dalam satu pesawat bersama beberapa bule dan rombongan turis Thailand. Selintas terbayang ke masa lalu saat Indonesia masih berjaya di Asean. Sekarang negara turis-turis itu sudah melewati negara kita. 65 menit perjalanan berakhir 11.05 waktu Indonesia tengah, saat pesawat mendarat di Ngurah Rai. Pak Anto driver dari mobil sewa yang saya gunakan sudah menunggu di depan pintu kedatangan.

Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan mobil menuju pelabuhan penyeberangan Gilimanuk. Sepanjang jalan, pak Anto banyak bercerita tentang Bali dan masyarakatnya. Saya beruntung mendapatkan driver yang sering membawa turis, sehingga bisa mendapatkan lumayan banyak cerita dari pak Anto, seperti kekecewaannya karena “kesan” Bali yang sudah mulai tergusur pembangunan kota Denpasar hingga anjing yang banyak berkeliaran di sepanjang perjalanan menuju Gilimanuk.Anjing

Menurut cerita pak Anto, banyak masyarakat Bali yang masih percaya, bahwa anjing bisa menjadi sarana atau jembatan bagi reinkarnasi ke kehidupan berikutnya sehingga banyak orang Bali yang memelihara anjing dan membiarkannya berkeliaran kemana saja.

Jalan Mulus Bali Saya juga terkesan dengan mulusnya jalan raya di Bali. Memang tidak 100% mulus, tapi kondisinya jauh lebih baik dibandingkan dengan jalan-jalan provinsi di pulau Jawa. Meskipun lebih sempit, hanya 2 jalur saja, tapi tidak terlalu padat. Hanya di Tabanan hingga Negara saja dijumpai jalan yang sedang diperbaiki karena rusak. Gangguan jalan yang tidak begitu mulus bisa terobati dengan pemandangan pantai yang masih asri di sepanjang jalan menuju Negara. Namun pantai ini bukan tujuan wisata favorit wisatawan karena ombaknya yang besar dan berkarang.

Masuk Negara, tepatnya di Pulukan – Medewi, saya semakin jarang menjumpai bangunanJalan mulus  Taman Nasional Bali Barat khas Bali dan Pura. Ternyata daerah ini mayoritas penduduknya beragama Islam. Yang menarik, agama Islam di Pulukan tidak berasal dari pulau Jawa melainkan dibawa oleh pendatang dari Malaysia. Lepas dari Medewi memasuki Melaya, suasana kembali berubah karena di daerah ini banyak penduduk beragama Kristen. Meski banyak agama, tapi tidak pernah rusuh, semuanya tenang. Mungkin karena karakter masyarakat Bali yang sangat menjaga keseimbangan alam dan percaya adanya karma. Perjalanan terus berlanjut semakin mendekati Gilimanuk, melewati jalanan mulus yang membelah hutan Taman Nasional Bali Barat. Di tepi jalan beberapa kali masih saya jumpai Pura di antara rerimbunan pohon.

Gilimanuk port enteranceJalan Rusak Sekitar jam 4 sore waktu Bali mobil yang saya tumpangi sampai di pelabuhan Gilimanuk yang jalannya rusak membuat mobil, bus dan truk sudah bergoyang meski belum terkena ombak. Ongkos menyeberang ke Ketapang sebesar Rp. 90.500 untuk 1 mobil penumpang (bus dan truk lebih mahal), nampaknya belum cukup bagi pemerintah untuk merawat ferry dan menambal jalan berlobang. Setelah antri beberapa waktu, pak Anto yang sudah biasa menyeberangkan penumpangnya melintasi selat Bali, berhasil memilihkan saya ferry ber ac yang sandar di dermaga 3. Lumayan, bisa agak bersejuk-sejuk ditengah panasnya matahari yang mulai condong ke barat.

anak laut1Di atas kapal, ada hiburan menarik dari sekelompok remaja pria setempat yang terjun dari atas ferry saat ada penumpang melemparkan uang koin ke laut. “Seribu!” teriak mereka. Kalau tidak seribu, mereka enggan untuk menyelam mengejar recehan yang turun ke dasar laut. Seorang turis bule jadi sibuk menukarkan lembaran rupiah kertasnya dengan pecahan uang logam seribu rupiah untuk dilemparkan ke anak-anak laut ini. Entah berapa kali bule itu sambil tertawa mencoba melemparkan koinnya jauh-jauh ke tengah laut. Sungguh atraksi yang tidak akan didapatkan di negaranya.

Sampai di Ketapang sekitar 4.30 sore waktu setempat, mobil kembali dipacu melintasi kota Banyuwangi menuju lokasi studio radio yang ternyata berada di luar kota Banyuwangi, tepatnya di kecamatan Purwoharjo kabupaten Banyuwangi. Setelah melewati perjalanan sekitar 1 jam ke arah Jember, sawah dan pohon-pohon di kanan kiri, akhirnya sampai juga di studio di pusat keramaian Purwoharjo. Selesai mengadakan meeting kecil mengumpulkan masalah yang dihadapi di radio tersebut dan mengunduh email, jam 8 malam saya beranjak menuju hotel kecil yang berada di kecamatan Jajag, 15 menit bersepeda motor dari Purwoharjo. Besok pagi masih ada pekerjaan menunggu.

Iklan

1 Response to “Travel Report”


  1. 1 Tri Setyo Wijanarko
    Juli 9, 2009 pukul 4:09 pm

    nice report mas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 565,119 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: