19
Mei
08

Stop Jual Diri dan Profesi!

_40741860_rupiah203Demi uang, sebagian manusia rela berbuat apa saja. Jurnalis / Reporter / Wartawan (juga manusia) juga ada yang bisa ‘dibeli’. Sungguh disayangkan sampai saat ini masih ada jurnalis yang tanpa dosa menerima amplop dari sebuah produk yang baru saja mengadakan jumpa pers, atau menerima transfer dari pihak yang sedang bermasalah supaya berita negatif bisa dibungkam.

Tidak dipungkiri bahwa kita bekerja untuk mencari uang. Hanya saja cara untuk mendapatkannya yang harus kita pilih dengan bertanggung jawab. Kita sendiri yang

menentukan apakah karya kita cukup hanya sekedar dihargai oleh lembaran rupiah. Kadang kita harus menyadari bahwa diluar rupiah, masih banyak hal berarti yang bisa diperoleh dari jerih payah kita dan tidak bisa dihitung dengan rupiah. Kepercayaan, kebahagiaan, harga diri dan lain sebagainya.

Jangan mengambinghitamkan keadaan untuk menghalalkan apa yang seharusnya tidak kita lakukan. Bukan karena terpaksa, bukan karena keadaan, bukan karena gaji kecil yang membuat kita menjadi wartawan amplop. Tapi karena kita sendiri yang menempelkan stigma negatif dengan mengkhianati konsep dasar jurnalistik.

Upi Asmaradhana kontributor Metro TV biro Makassar mengungkap 111 praktik kotor jurnalis Indonesia dalam bukunya ‘Pengkhianatan Jurnalis : Sisi Gelap Jurnalisme Kita’.

Tulisan di Harian Tribun Timur:

Sabtu, 10-05-2008 

Mengungkap 111 Praktik Kotor Wartawan

Buku Pengkhianatan Jurnalis, Sisi Gelap Jurnalisme Kita

Sisi kotor wartawan biasanya dikenal hanya satu, permisif terhadap urusan amplop atau pemberian dari narasumber. Tapi, tahukah Anda, ada 111 praktik kotor yang kerap dilakukan jurnalis dalam menjalankan profesinya. Uniknya, jurnalis di Indonesia, termasuk di Makassar dan Sulsel, sebagian besar tak pusing, bahkan untuk urusan yang jelas-jelas kotor tadi, menerima amplop.

Seorang jurnalis Makassar, Upi Asmaradhana, menuangkan kebobrokan jurnalis itu dalam bukunya yang berjudul Pengkhianatan Jurnalis: Sisi Gelap Jurnalisme Kita. Buku yang cukup menohok kalangan jurnalis ini diluncurkan Sabtu (10/5) hari ini. Upi, sapaan akrab kontributor Metro TV Biro Makassar ini, berusaha jujur pada profesinya sendiri.

Manusia modern sepakat bahwa pers adalah pilar keempat demokrasi. Para pekerja pers atau jurnalis atau wartawan dengan demikian adalah pejuang demokrasi. Tak sedikit memang orang yang mengagumi profesi wartawan sebagai profesi yang mulia. Tapi, dengan gamblang, Upi menunjukkan bahwa tidak seluruh wartawan adalah “malaikat” pengusung idealisme. “Terlalu banyak kegetiran yang telah dilakukan para wartawan Indonesia. Kita pun harus meminta maaf kepada semua pihak atas fakta kotor yang selama ini berusaha kita pungkiri,” demikian penggalan tulisan Upi dalam buku tersebut.

Upi menulis ada 111 dosa wartawan. Mulai dari wartawan amplop, menjadi calo liputan, tukang todong narasumber, wartawan juru kampanye, sampai wartawan tukang kloning berita. Bahkan menurut Upi, ada satu jenis “gratifikasi” kepada wartawan berupa ongkos naik haji. Di mata Upi, semua itu merupakan pengkhianatan jurnalis. Profesionalisme dan idealisme wartawan selalu tampak dalam karya-karyanya. “Jika konsep dasar berjurnalis ini dipegang teguh, wartawan akan mengerti untuk apa ia bekerja,” kata Upi.

Apa yang melatarbelakangi wartawan bersikap mengkhianati profesinya sendiri?
Jika diklasifikasi, pengkhianatan itu lebih dominan didorong faktor ekonomi. Upi sampai pada kesimpulan, kendati bukan satu-satunya, bahwa kebanyakan wartawan di Indonesia tidak sejahtera. Fenomena media massa berorientasi pasar juga ia gugat. Bahkan ada beberapa media massa yang sengaja atau tidak sengaja menjerumuskan wartawannya pada sikap tak profesional. Wartawan dimobilisasi sebagai alat promosi. Tulisannya semata-mata adalah iklan. Sehingga unsur objektifitas terabaikan.

Direktur Institut Studi Arus Informasi (ISAI), Stanley, juga sepakat dengan pemikiran Upi.
Namun sebagai pejuang demokrasi, kebanyakan wartawan mengalami hal yang sangat pahit. Apa itu? Kata Stanley, wartawan tak bisa memperjuangkan nasibnya sendiri ketika berhadapan dengan perusahaannya.

Buku setebal 100 halaman ini diterbitkan oleh ISAI. Tulisannya sangat gamblang. Sayangnya, Upi tidak memaparkan secara terbuka kasus demi kasus. Ia hanya melengkapi tulisannya dengan hasil wawancara beberapa wartawan yang namanya disamarkan. Pada beberapa bagian, tulisan Upi ini bahkan terkesan text book atau seperti pelajaran sekolah. Gagasannya sebenarnya juga terhitung tidak lagi baru. Namun demikian, buku ini cukup bisa membuka jendela, terutama bagi warga umum untuk mengetahui hitam putih dunia jurnalis.

Iklan

1 Response to “Stop Jual Diri dan Profesi!”


  1. 1 ary
    Mei 21, 2008 pukul 1:23 pm

    sedih denger yang gini – gini. masalah yang klasik, tapi gak pernah ada penyelesaian tuntas. kadang, saya merasa dihadapkan pada kondisi sulit memilih. selama ini, saya menikmati kerja sebagai jurnalis radio, karna suka. soal gaji, saya blum bisa bicara banyak.

    maju terus ary! jangan biarkan orang membeli idealisme dan semangatmu!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 559,877 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: