09
Mei
08

Wawancara untuk radio

Berdasarkan lokasi, wawancara bisa digolongkan menjadi dua macam, yaitu di dalam studio dan di luar studio. Masing-masing memiliki kesulitannya sendiri, sehingga jika reporter tidak memahami medan, bisa jadi akan mendatangkan masalah. Apa saja yang termasuk dalam wawancara di luar studio dan apa saja yang digolongkan sebagai wawancara di dalam studio? Apa saja yang perlu diperhatikan?

 

Wawancara di dalam studio

By phone

Wawancara melalui telepon bisa dilakukan oleh penyiar ditengah acara yang sedang berlangsung (live) atau dilakukan oleh interviewer / reporter di ruang rekaman (recorded). Biasanya wawancara melalui telpon dilakukan untuk meminta pendapat atau konfirmasi tentang sebuah peristiwa. Durasinya pun tidak perlu terlalu panjang, idealnya 3 – 5 menit.

Yang perlu diperhatikan:

  • Jika wawancara dilakukan oleh penyiar pada saat siaran langsung, diperlukan gate keeper / operator telpon. Fungsi ini juga bisa dikerjakan oleh producer atau siapapun yang ada di studio atas order dari manager siaran. Tugas gate keeper adalah menghubungi orang yang akan diwawancara dan melakukan seleksi terhadap telpon masuk (caller) yang ingin memberikan pendapat atau informasi
  • Pastikan lawan bicara kita berada di lokasi yang nyaman untuk wawancara, minimal tidak bising dan minta yang bersangkutan untuk menurunkan volume radio atau bahkan mematikannya agar terhindar dari feedback. Jika wawancara dilakukan secara langsung pada saat siaran, point ini menjadi tanggung jawab gate keeper.
  • Agar biaya tidak meledak, jika narasumber berada diluar kota, mintalah nomor telpon meja / fix phone yang bisa kita hubungi. Selain itu juga berguna untuk menghindari sinyal handphone yang mungkin lemah di lokasi narasumber berada

Talkshow

Wawancara / tanya jawab dilakukan dalam durasi yang lebih panjang & lebih kompleks. Dimana tamu bisa hadir di studio maupun melalui telepon. Talkshow bisa dilakukan secara live maupun dalam bentuk rekaman. Durasi ideal adalah sekitar 60 menit dan dapat diselingi commercial break atau lagu agar tidak membosankan. Pada perkembangannya talkshow juga bisa dilakukan di luar studio. Lebih lanjut tentang talkshow bisa klik di sini

Yang perlu diperhatikan:

  • Apakah talkshow ini commercial / produk sponsor atau tidak, karena jika commercial tentunya perlakuannya berbeda.
  • Pastikan untuk melakukan berdiskusi dengan narasumber dan mempersiapkan daftar pertanyaan sebelum talkshow.
  • Lakukan konfirmasi untuk memastikan kehadiran narasumber di studio.
  • Secara tekhnis pastikan perangkat seperti mic hingga line telpon berfungsi dengan sempurna.
  • Perlu dipertimbangkan apakah selama jalannya talkshow akan dilakukan interaksi dengan pendengar atau tidak.
  • Perhatikan radio scene dan jangan melupakan management waktu.

Wawancara di luar studio

On the Spot

Wawancara on the spot adalah yang paling sering dilakukan oleh reporter di lapangan. Mereka biasanya menunggu narasumber datang, dan jika peristiwa yang akan diberitakan ramai dibicarakan, biasanya dilakukan beramai-ramai dengan reporter dari media lain. Hasil dari wawancara on the spot bisa dikemas menjadi liputan dengan durasi antara 3 – 5  menit.

Yang perlu diperhatikan:

  • Reporter harus peka dan responsif, karena wawancara on the spot bersifat seketika, maka reporter dituntut memiliki kemampuan bertanya secara instan. Untuk itu reporter harus menguasai permasalahan.
  • Karena kemungkinan besar dilakukan beramai-ramai, reporter harus berusaha untuk mengajukan pertanyaan, jangan hanya mengikuti pertanyaan dari rekan media lain yang bisa saja ingin mengangkat sudut pandang yang berbeda dengan yang kita inginkan.
  • Jika situasi terlalu riuh, dan reporter kita tidak bisa memperoleh perkataan narasumber dengan baik / tidak sesuai dengan standar audio radio, jangan dipaksakan untuk menyiarkan. Lebih baik kita menunda dan mencari kesempatan lain untuk melakukan wawancara. Atau bisa juga pernyataan dari narasumber tersebut kita rubah menjadi berita baca dan cukup disampaikan oleh penyiar. Jangan mengorbankan kualitas output hanya untuk mengejar idealisme.
  • Hati-hati jangan tertipu oleh reporter nakal yang tidak melakukan wawancara tapi hanya sekedar merekam dari hasil wawancara rekan reporter media lain. Jika trick ini dilakukan tanpa sepengetahuan dan persetujuan news director / manager siaran, bisa saja hasil liputannya tetap kita siarkan, tapi pertimbangkanlah apakah kita perlu memberikan kompensasi kepada reporter tersebut.
By Appointment

Wawancara dilakukan dengan membuat janji terlebih dulu dengan narasumber. Kualitas akan menjadi lebih bagus dan situasi wawancara menjadi lebih nyaman karena dilakukan one on one. Durasi wawancara bebas, hasilnya bisa kemas menjadi satu atau beberapa liputan.

Yang perlu diperhatikan:

  • bikin janji dengan narasumber, pastikan waktu dan tempat wawancara dan apa saja yang akan dibicarakan
  • jangan lupa untuk melakukan konfirmasi ulang terhadap janji wawancara yang sudah disepakati.
  • saat wawancara, siapkan peralatan wawancara yang lebih memadai, agar kualitas audio yang didapat bisa lebih baik.
  • manfaatkan kesempatan bertemu dengan narasumber ini untuk bertanya mengenai apapun yang menarik, terutama jika narasumber termasuk orang sibuk dan susah diwawancarai.
Press Conference

Biasanya diawali dengan undangan meliput penjelasan mengenai peristiwa atau kegiatan sebuah perusahaan atau lembaga. Hasil wawancara bisa dikemas menjadi liputan dengan durasi sekitar 3-5 menit, atau tergantung pembicaraan dengan tim sales jika penyelenggara press conference adalah klien radio kita.

Yang perlu diperhatikan:

  • pastikan apakah press conference ini berkaitan dengan tim sales radio kita atau tidak. Jika yang mengundang adalah klien dari radio kita, berikan service lebih. Minimal reporter harus memperkenalkan nama radio kita agar penyelenggara tahu kita meliput acaranya.
  • usahakan mendapatkan press release, agar lebih memudahkan dalam mendapatkan data pendukung, menyusun pertanyaan dan lain sebagainya
  • di lokasi, reporter harus berusaha mendapatkan posisi yang bagus untuk merekam pembicaraan.
  • jika tidak berhasil mendapatkan suara yang bagus karena suasana riuh atau posisi tidak menguntungkan, usahakan untuk mendapatkan private interview setelah acara selesai. Biasanya narasumber yang mengadakan press conference tidak akan menolak, karena mereka memiliki misi yang harus disampaikan ke public melalui wawancara ini.

Tulisan lain mengenai wawancara bisa klik di sini

Iklan

0 Responses to “Wawancara untuk radio”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 552,371 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: