21
Apr
08

Manja Move My Cheese…

ditulis oleh Yoghie Rezaldy

Who Move My Cheese Seorang manager harus ikut bertanggung jawab atas munculnya sifat manja bawahannya. Manager dituntut untuk tanggap terhadap situasi, harus jeli mengamati hal ini serta cepat memberikan garis-garis kerja yang jelas, supaya crew dapat menjalankan order-order dengan penuh tanggung jawab. Menangani karyawan yang terlalu manja, jelas akan menciptakan kesulitan tersendiri, dan kebiasaan ini biasanya sulit untuk dirubah dengan drastis.

Budaya manja bisa terjadi antara lain karena terlalu besarnya pengertian atau toleransi yang diberikan oleh sang manager dalam memberikan ikatan tanggung jawab dan sangsi. Jika suatu saat manager tersebut digantikan oleh manager baru yang membawa sistem kerja yang lebih ketat, sang manager baru akan menemui hal-hal yang berhubungan

dengan rasa manja ini. Memang budaya manja bisa saja relatif, tergantung seperti apa budaya yang kita – sebagai manager terapkan. Ada yang menurut kita bisa, tapi bagi penerus kita menjadi hal yang luar biasa atau tidak semestinya.

Kita flashback sejenak mengingat pemikiran Spencer Johnson dalam bukunya Who Move My Cheese, sebuah buku motivasi yang sangat mendunia hingga menjadi panduan bagi pebisnis maupun pekerja di penjuru bumi ini. Dikisahkan 2 tikus dan 2 orang kerdil, yang mencerminkan sifat-sifat yang ada pada diri kita. Setiap hari mereka berjalan ke suatu tempat untuk mengambil keju yang berlimpah menumpuk disana. Dalam cerita ini, keju dianalogikan dengan uang, kedudukan, atau kebahagiaan hidup. Keempat mahluk itu mendapatkan keju dengan mudah, tanpa bersusah payah. Semakin lama mereka semakin dimanjakan dengan situasi yang mengenakkan. Akhirnya, rasa manja itu mengagetkan diri mereka sendiri, ketika pada suatu saat keju-keju tersebut dipindahkan ke tempat lain yang tidak mereka ketahui. Rasa manja membuat mereka kelabakan saat harus mengejar keju yang senantiasa berpindah tempat.

Sebenarnya rasa manja ada dalam diri setiap orang, namun tergantung dari masing-masing pribadi bagaimana menyikapinya. Apakah dia akan menumbuh kembangkan sifat ini, ataukah justru akan menekan sekuatnya sehingga jangan sampai muncul ke permukaan. Sifat manja dapat tumbuh subur jika apa yang kita inginkan bisa didapatkan dengan mudah, atau ada seseorang yang bisa memenuhinya dengan mudah. Dalam kondisi ini, kita lupa bagaimana harus berjuang untuk mencapai apa yang kita inginkan.

Menurut Dra Nur Jannah Niturah MM psikolog senior sekaligus penasehat Crisis Centre untuk project Aceh, mengelola budaya manja ibarat menjahit baju. Sebelum kita menjahit baju, harus diukur dulu badan orang yang akan memakainya. Kalau tidak sesuai, bisa jadi bajunya akan kelonggaran atau terlalu sempit. Begitu pula jika kita akan memberikan bantuan terhadap seseorang, sebaiknya disesuaikan dulu dengan apa yang mereka butuhkan, agar bantuan kita menjadi lebih efektif.

Hal ini dapat dikaitkan dengan budaya manja yang terjadi di kantor kita. Intinya, perhatian yang kita berikan terhadap anak buah tidak perlu berlebihan. Jika anak buah terbiasa dimanjakan pada situasi yang mudah, tidak ada tantangan, minimnya jiwa persaingan, kontrol yang longgar, akan membuat sifat manja melekat dalam jiwa mereka. Sebenarnya boleh saja rasa manja itu dimiliki, namun jika berlebihan dapat memperburuk etos kerja dan menjadi boomerang bagi kedisiplinan.

Sebagai ilustrasi, sifat manja juga sering kita jumpai pada binatang peliharaan dirumah. Kalau sedang ingin diperhatikan si majikan, anjing kita akan melakukan tingkah-tingkah aneh. Sebelum dielus atau mungkin dipeluk, dia tidak akan peduli dengan apa yang sedang kita kerjakan. Dia akan terus cari perhatian, tidak peduli seberapa penting yang kita kerjakan. Kalau sudah begini, biasanya bukan elusan dan pelukan yang dia dapat, tapi justru dihardik oleh sang majikan. Boleh saja manja, tapi lihat-lihat situasi šŸ™‚

Iklan

0 Responses to “Manja Move My Cheese…”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 565,244 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: