17
Apr
08

Peran Spanduk dan Radio dalam Pilgub Jawa Barat

ditulis oleh Yoghie Rizaldy

Minggu 13 April 2008 Jawa Barat untuk pertama kalinya melakukan pemilihan calon gubernur dan wakilnya secara langsung. Dari hasil perhitungan cepat yang dilakukan oleh berbagai Lembaga Suvey (LSI, LSN, dan Puskaptis) diketahui bahwa pasangan Heryawan – Dede Yusuf (Hade) lebih unggul dibanding pasangan lainnya.

Sehari setelah pesta rakyat itu digelar, Bandung menjadi meriah dengan munculnya spanduk-spanduk berisi ucapan selamat kepada pasangan Hade. Namun tidak disangka sama sekali, hal itu justru  memicu kemarahan puluhan organisasi massa pendukung CaGub Agum dan  Nu’man. Mereka merazia spanduk2 tersebut dan membakarnya  di jalan Anggrek kawasan Gandapura Bandung.

Ada yang menarik dari peristiwa ini. Sebelum terjadi razia spanduk, bahkan sebelum pilkada, tepatnya pada masa kampanye, semua peserta pilkada bersaing memasang spot iklan di radio yang isinya ajakan untuk mencoblos mereka.  Alhasil spot masing-masing kandidat gubernur dan wakilnya cukup gencar disiarkan di radio. Meski saling bersaing melalui radio, tidak ada satu peristiwa negatifpun yang terjadi. Spot iklan kampanye melalui radio sepertinya tidak terasa membuat telinga lawan menjadi merah.

Namun apa yang terjadi ketika ada spanduk-spanduk bertuliskan selamat untuk pasangan yang menang? Kenapa justru membuat keributan tersendiri? Nampaknya masih ada sejumlah oknum yang belum bisa dewasa menerima kekalahan dengan lapang dada. Sportifitas, masih menjadi hal yang langka. Ini bukan budaya Indonesia yang terkenal sebagai budaya timur, dimana apapun yang terjadi masih memegang erat etika dan perasaan.

Efeknya akan berbeda jika ucapan selamat itu dialirkan lewat media radio dan bukan melalui spanduk. Orang mendengarkan radio sudah dialiri niat untuk rileks, hiburan, dan tidak berpikiran macam-macam. Berbeda dengan spanduk mencolok yang pemasangannya di jalan-jalan umum, siapa yang melintas tidak terduga. Semua bisa membacanya dan jika suasana masih belum tepat maka akan menimbulkan peristiwa seperti diatas. Saya tidak menyalahkan pemasangan spanduk berisi ucapan selamat, saya juga memaklumi barisan orang yang merazia spanduk-spanduk tersebut, cuma saya tidak setuju pembakaran spanduk tersebut karena itu tindakan anarkis.

Yang terpenting dari peristiwa ini kehidupan adalah persaingan, tetapi jika kita terlalu menunjukan kemenangan kita kepada semua orang akan berdampak bermacam macam, karena tidak semua orang cocok dengan diri kita dan tidak semua orang mengerti apa kemauan kita. Jadi sebaiknya jangan menari diatas penderitaan orang lain. Jangan over exposed dan tetap berempati.

PEROLEHAN SUARA SEMENTARA PILKADA JABAR

Peserta
Danny – Iwan
Agum – Nu’man
Heryawan – Dede
Jumlah suara
89.797
96.772
118.543
Persen (%)
29
32
39
Iklan

1 Response to “Peran Spanduk dan Radio dalam Pilgub Jawa Barat”


  1. 1 onad
    April 17, 2008 pukul 4:52 pm

    Bener mas yoghie kalo ini masalah sportifitas, tp kalo dianalisa lebih jauh sebenarnya bukan masalah pemilihan media, tapi masalah waktu, dimana pendukung kandidat yang kalah dalam hitungan quick count, tidak terima kalau ucapan selamat diberikan pada saat hasil resmi dari KPUD diumumkan. Kalau pada masa kampanye, spanduk masing2 kandidat saya yakin juga terpasang dan tidak menjadi masalah, lah karena memang waktunya berpromosi koq….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 551,968 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: