08
Apr
08

Kenapa YouTube yang diblokir?

Sejak akhir pekan lalu pengguna layanan internet di Indonesia tidak bisa lagi mengakses situs video online YouTube. Hal ini terjadi karena ulah menkominfo Mohammad Nuh memerintahkan 126 Internet Service Provider di Indonesia untuk memblokir You Tube.

Keputusan mantan rektor ITS yang juga profesor di bidang Digital Control System ini disayangkan oleh para pengguna internet. Meskipun berbagai masukan sudah disampaikan oleh para blogger yang bertemu dengannya beberapa waktu lalu, nampaknya pak menteri lebih suka mengacak-acak kandang ayam, daripada mencari sebutir telur busuk yang ada didalam kandang itu. Jika tidak berdaya membalas atau menyerang Belanda atau Geert Wilders, apakah lalu media yang harus dikorbankan? Bagaimana dengan kepentingan rakyat untuk mendapatkan informasi?

(Kutipan Tempo Interaktif) Menurut Dewan Pengawas Asosiasi Warung Internet Indonesia (AWARI) Judith MS Lubis, tindakan pemerintah melakukan pemblokiran adalah salah satu wujud dari pembatasan informasi. Gara-gara akan memblokir YouTube, sejumlah situs lainnya ikut terblokir. Ketua Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) Sylvia Sumarlin mengatakan, itu terjadi akibat ketidaksengajaan broadcast sehingga pengguna internet tak bisa mengakses YouTube dan situs lainnya. Sekretaris menteri Komunikasi dan Informatika, Son Kuswadi megatakan, “”Kami (pemerintah -red) berusaha MENGEDUKASI mereka (YouTube -red) supaya jangan menyinggung perasaan atau keyakinan orang lain.” 

Dengan pemblokiran ini apakah benar pemerintah akan bisa mengedukasi YouTube? Kenapa YouTube-nya yang diserang? Bukankah YouTube hanya sarana saja dan bukan pembuat tayangan yang menyinggung orang lain? Apakah dengan memblokir YouTube, Indonesia akan bebas dari tayangan yang menyinggung orang lain? Entah itu tayangan melalui internet ataupun hal-hal nyata yang seringkali terjadi di sekitar kita secara nyata?

Nampaknya kasus ini mirip dengan pembredelan yang marak menimpa media di jaman orde baru. Apakah trend ini akan terulang lagi di Indonesia? Sekali lagi, media yang jadi korban. Pemerintah nampaknya lupa atau belum paham atau masih berpandangan bahwa YouTube hanya berisi video iseng belaka. Kalangan dunia pendidikan memanfaatkan YouTube sebagai bahan pembelajaran bagi siswanya. Dari kalangan bisnis, banyak yang menggunakan YouTube untuk melakukan tes produk, tayang kreativitas, riset selera, dan segmentasi pasar.

Kalau mau memblokir Fitna, kenapa tidak diblokir link Fitna-nya saja? Kenapa seluruh akses ke http://www.YouTube.com harus ditutup? Kenapa harus melebar ke http://www.rapidshare.com – yang seringkali saya dan teman-teman gunakan untuk mengupload file-file rekaman wawancara dan sample spot iklan? Coba anda masukkan keyword Fitna dalam mesin pencari Google. Anda akan menemukan 1.5700.000 halaman website! Apakah Google juga bisa dianggap bersalah dan harus diblokir juga? Kalau sudah begini apa bedanya dengan Geert Wilders pembuat Fitna? Sama-sama main generalisir, sama-sama menyamaratakan. Come on..Behave!

Klik disini untuk mengetahui cara alternative membuka situs yang diblokir pemerintah.

Anda butuh tempat untuk mengumpat sebelum mengumpat itu dilarang? Klik di sini  🙂

Iklan

1 Response to “Kenapa YouTube yang diblokir?”


  1. 1 andrea
    April 11, 2008 pukul 5:01 pm

    coba gunakan ask toolbar firefox mas lebih simple, youtube, multiply, myspace, rapidshare bisa diakses kok


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 565,119 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: