29
Feb
08

Saat langit beda pendapat dengan langit diatasnya

WesWayang Perbedaan pendapat dengan atasan baru saja dialami oleh seorang rekan yang saat ini menjadi manager siaran sebuah radio di Jawa Tengah. Ada yang menarik dari keluh kesah yang dikirim melalui email itu untuk dibagikan dalam blog ini demi kemajuan bersama.

“…(deleted)…tapi sudahlah namanya saja bekerja harus mengikuti aturan…(deleted)…Situasi ini membuat saya jadi kurang comfort karena disini saya sudah tegas tapi disisi lain bos memanjakan si subyek…(deleted)…”

Sedikit potongan email diatas – yang sudah saya hapus bagian-bagian tertentu untuk menjaga privacy – bisa memberikan sedikit gambaran kepada kita, situasi seperti apa yang sedang terjadi dan sangat mungkin bisa terjadi pada siapapun.

Yang menarik perhatian saya adalah penggunaan kata “sudahlah” yang mencerminkan kepasrahan dan ketiadaan semangat. Sikap ini biasa muncul jika kita berhadapan dengan orang yang posisinya ada diatas kita dan lebih memiliki wewenang. Sadar atau tidak, diakui atau tidak, hingga saat ini gaya feodal masih banyak dijumpai di berbagai perusahaan di Indonesia, termasuk di radio siaran. Mungkin karena pengaruh dari lingkungan atau budaya yang sejak kecil tertanam dalam pikiran bawah sadar kita. Terlihat masih adanya ketakutan dan penghormatan kepada layer atas yang berlebihan, keinginan mendapatkan pengakuan yang berlebihan dari layer bawah, juga pemaksaan pendapat melalui kekuasaan bukan dengan menggunakan kebenaran yang logis. Masih ada pemikiran, bahwa yang membedakan status kita dalam lingkungan kerja adalah jabatan, dan bukan fungsi. Padahal sebenarnya, kita bekerja bukan karena apa yang kita jabat, tetapi lebih karena fungsi kita yang diperlukan agar sebuah tim kerja bisa berjalan dengan baik.

Saat ini sudah tidak seharusnya lagi kita menghadapi kesulitan untuk mengungkapkan sesuatu yang menurut kita benar kepada atasan. Selalu komunikasikan dan presentasikan pendapat kita dengan baik dan lengkapi dengan data dan fakta. Jika apa yang kita sampaikan masuk akal, tidak mungkin pendapat kita ditolak. Biasanya sebuah ide dan pendapat gagal diterima hanya karena tidak terkomunikasikan dengan baik, sehingga mungkin saja atasan tidak paham dengan benar apa yang kita sampaikan.

Jangan lupa, kebenaran ide dan pendapat kita tidak bisa diukur hanya dari idealisme dan sudut pandang kita saja.

Iklan

2 Responses to “Saat langit beda pendapat dengan langit diatasnya”


  1. Maret 6, 2008 pukul 8:06 pm

    Wah, nasehat yang menarik, apalagi datang dari langit juga hehehehe… Tapi menurut saya ‘it takes two to tanggo’, mas.. Betul ndak?

  2. Maret 6, 2008 pukul 10:06 pm

    Hahaha..betul mas..intinya, jangan pasrah apalagi kalau kita punya ide cemerlang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 555,661 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: