26
Feb
08

Musik Underground DILARANG

Tragedi konser launching album perdana band metal BESIDE di Bandung 9 Februari 2008 yang mengakibatkan 10 orang penonton meninggal dunia, berbuntut panjang. Seperti yang dilansir website koran Pos Kota, Gubernur Jawa Barat melarang konser musik underground.

Paling tidak ada dua hal yang bisa kita cermati dari berita ini. Yang pertama adalah sikap birokrat yang memberangus kebebasan bermain musik dan opini wartawan yang ikut bermain dalam penulisan berita ini.

Generalisasi oleh birokrat

Karena sebuah kejadian yang memang patut disayangkan, pemerintah Jawa Barat langsung memvonis bahwa konser musik underground sama dengan kekerasan. Padahal pentas dangdut bahkan pilkada sekalipun bisa saja memicu kekerasan. Memang peristiwa itu tidak bisa lepas dari kenekatan panitia menjual 4000 tiket padahal kapasitas gedung hanya mampu menampung sekitar 600 orang, sehingga 10 orang tewas akibat terinjak-injak dan berdesakan. Namun, kegagalan sebuah event organizer dalam menyelenggarakan acara, tidak seharusnya digeneralisir untuk menghakimi event organizer yang lain. Pak Gubernur sepertinya lupa untuk melihat apakah aparat keamanan sudah menjalankan tugasnya dengan sigap untuk meredam kerusuhan dan jumlah korban sampai-sampai ada tiga perwira menengah dan tinggi polisi yang di non aktifkan. Sebelum penyelenggaraan acara, tentunya panitia sudah memegang ijin dan melakukan koordinasi dengan pihak keamanan. Lalu kenapa musik yang dituduh sebagai pembawa maut sehingga harus dilarang.

Judge by the press

Penghakiman oleh pers bisa terjadi jika dalam pembuatan materi berita atau informasi, wartawan mulai bermain dengan opini-opininya. Seharusnya sebagai seorang jurnalis kita selalu berpegang bahwa kitalah media, kitalah alat untuk menyampaikan fakta apa adanya agar masyarakat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Kita lihat dalam tulisannya si wartawan mengartikan musik underground sebagai musik aliran keras. Padahal istilah undergorund dalam musik adalah kategori musik yang tidak terikat dengan label / perusahaan rekaman. Wartawan juga mengungkapkan opininya terhadap komunitas musik underground: ‘Mereka memang banyak yang berpenampilan menakutkan dengan segala aksesorinya.’ Kadang kita tidak menyadari, apa yang kita beritakan bisa mempengaruhi theater of mind dari pendengar kita yang pada saat kejadian tidak berada dilokasi dan percaya sepenuhnya pada apa yang diceritakan oleh wartawan.

Harus diingat, bahwa dalam menyajikan sebuah berita kita harus menghindari bermain dengan opini karena selain bisa mempengaruhi pendengar, belum tentu pendengar sepakat dengan opini kita. Perlu dicatat, bahwa tugas seorang jurnalis adalah menyampaikan fakta, apa adanya. Beritakan saja apa yang kita lihat dan jika ‘tidak tahan’ ingin beropini, carilah narasumber yang bisa mewakili opini anda. Tapi ingat, tetap cover both side!

Dalam tragedi di Bandung ini yang perlu direnungkan, apakah aliran atau jenis musiknya yang harus dipermasalahkan sampai dilarang-larang? Di Indonesia, sekarang sudah lazim kalau mau geger ya geger saja. Mau underground, mau dangdut, mau sepak bola, kampanye dan lain-lain juga bisa geger. Salah musiknya? Acaranya? atau manusianya? Mulai dari EO, penonton, hingga aparat keamanan.

…pissss for indonesia!

Iklan

2 Responses to “Musik Underground DILARANG”


  1. 1 Lex
    Februari 27, 2008 pukul 9:44 am

    Yup, tulisan Pos Kota di atas itu emang terlalu bermuatan dan ngga fair. Warta Kota, koran yang sebelumnya gue pikir berada di ‘level yang sama’ dengan Pos Kota, ternyata bisa bersikap lebih dewasa.

  2. 2 AJO
    April 9, 2008 pukul 4:55 pm

    keberpihakan dalam sebuah media itu adalah hal yang lazim, tapi satu hal yang harus diperhatikan oleh media yaitu berpihaklah pada kelompok atau masyarakat yang menjadi korban, bukan malah berpihak pada penguasa yang menjadi penyebab bencana atau tragedi, media saat ini bukan lagi corong pemerintah seperti dulu…ingaat….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 559,874 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: