09
Feb
08

Majulah Jurnalis Radio (hari pers nasional)

wartawan demo9 Februari 2008 diperingati sebagai hari pers nasional.
Sungguh ironis, meski sudah berusia 62 tahun, jurnalis di Indonesia masih banyak mengalami ketidakadilan.
Jika pada tahun 2006, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat telah terjadi 53 kasus kekerasan terhadap pers di Indonesia, pada tahun 2007 jumlah ini meningkat menjadi 75 kasus.

Bagaimana dengan Jurnalis Radio?

Ditengah banyaknya aksi kekerasan terhadap insan pers dan ancaman tindak pidana karena kebebasan pers yang masih setengah hati, hingga saat ini Jurnalis Radio Indonesia masih harus terima nasib dipandang sebelah mata. Paling tidak itulah yang saya dan rekan-rekan jurnalis radio rasakan.

Banyak narasumber yang kehilangan nafsu bicara ketika reporter datang hanya dengan voice recorder tanpa kamera. Bukan rahasia jika narasumber lebih suka diwawancarai oleh wartawan koran dan televisi.

Selain itu, tidak bisa dipungkiri bahwa radio swasta di Indonesia yang sebagian besar ber-basic musik, belum banyak yang serius menggarap berita dan memiliki reporter yang terlatih. Tak heran jika jurnalis radio di Indonesia masih sering dicibir oleh sesamanya dari media cetak dan televisi.

Masalah lain akan muncul, jika reporter sudah kita latih dengan baik, dalam waktu dekat biasanya akan hengkang ke televisi atau radio asing, yang dinilai lebih menjanjikan.

Meski demikian, jurnalis radio tidak akan pernah mati. Harus diakui bahwa ada kelebihan radio yang tidak dimiliki media lain:

  • It is immediate. News can be reported more quickly on radio than in newspapers or on television, because the technology is simpler.
  • It is accessible. You can tune in to radio wherever you are. You can take a radio to the fields, or listen to it in a car. You can also do other things while you listen.
  • It is inclusive. Radio can reach most people, including the poor, the marginalized and those who cannot read or write.

sumber: IWMF

Teori itu terbukti. Dalam sejumlah peristiwa, radio memberitakan lebih cepat dibandingkan televisi. Seingat saya, jurnalis radio lebih cepat dalam meliput peristiwa kerusuhan Mei 1998, bom hotel JW Marriot Jakarta 2003, bom kedutaan Australia di Jakarta 9 September 2004, kecelakaan Lion Air di Solo 30 November 2004, Tsunami Aceh 26 Desember 2004, banjir di Jakarta dan Solo serta sejumlah peristiwa lainnya.

Akhir-akhir ini, tidak jarang rekan-rekan pemberitaan di televisi melakukan kontak dengan rekan-rekan radio untuk bertukar berita atau meminta bantuan reporter radio sebagai kontributor di daerah.

Majulah Jurnalisme Radio, tetap profesional, sekali di udara tetap di udara.

picture courtesy tempo online

Iklan

7 Responses to “Majulah Jurnalis Radio (hari pers nasional)”


  1. Februari 9, 2008 pukul 1:02 am

    I found your site on google blog search and read a few of your other posts. Keep up the good work. Just added your RSS feed to my feed reader. Look forward to reading more from you.

    – Sue.

  2. Februari 9, 2008 pukul 9:50 am

    Thanks Sue..keep the good work!

  3. 3 dien
    Februari 9, 2008 pukul 11:00 am

    Setuju..!!! terus maju jurnalis radio walaupun pastinya harus lebih banyak berjuang. karena dari beberapa pengalaman, dari birokrat juga jarang kasih fasilitas untuk reporter radio. misal ada kunjungan ke luar negri biasanya media cetak & tv lah yang dapat prioritas. Btw, ingat juga ya, kalo sekarang tv sering liputan via hp ataupun telewicara sehingga mereka juga bisa secepat radio dalam update informasi. ayo berjuang !!!1

  4. Februari 9, 2008 pukul 11:50 am

    dien, sepertinya temen-temen Jurnalis Radio harus semakin waspada nih, buka mata – buka telinga supaya nggak ketinggalan dengan rekan-rekan TV. Tapi masih ada keistimewaan radio. Berita di radio lebih fleksibel bisa muncul kapanpun. Begitu dapat berita kita bisa langsung menyiarkan! Kalau di tv, meski reportase lewat HP, mereka masih harus ‘tunggu waktu’ minta persetujuan yang punya acara dulu, boleh nggak infotainment atau sinetronnya dipotong untuk menyiarkan berita hehehe..

  5. Februari 11, 2008 pukul 11:50 am

    Naah.. masalah klasik dari dulu sampai sekarang. Saya malah mau ngajak introspeksi, sudahkah kita pantas dihargai? Bagi saya, ketika kita sudah menunjukkan kualitas kita, maka orang akan menghargai. Dari segi kecepatan sudah tidak bisa disangkal lagi mas. Radio luar biasa cepatnya. Tinggal kualitas yang harus kita asah terus. Satu hal lagi adalah kepercayaan diri para reporter radio dan cara kita memperlakukan mereka. Tolong koreksi kalau salah, tapi masih ada kesan bahwa reporter di radio itu orang nomor sekian setelah produser dan penyiar. Padahal, buat saya mereka adalah penyiar sekaligus produser di lapangan! Sudahkah mereka menyadari ini dan lantas memperbaiki laporannya dari sekedar membaca dengan cara yang sangat datar menjadi bercerita dan menggambarkan.. 🙂 Ayo radio!!

  6. 6 yosso
    Februari 22, 2008 pukul 7:20 pm

    Mungkin karena masyarakat kita masih beranggapan bahwa radio adalah media hiburan saja jadi mereka kurang yakin terhadap pemberitaan radio.hal lain juga karena pihak radio sendiri kurang tertarik dalam segmentasi pemberitaan.Radio radio daerah cenderung masih menampilkan musik sebagai menu utama ketimbang informasi.Ditambah masih banyak masyarakat indonesia ini yang masih kebingungan ekonomi. Solusinya mungkin bagaimana membiasakan Masyarakat kita mengetahui pentingnya informasi dari Radio/Media.

  7. 7 dwi
    Maret 19, 2009 pukul 12:28 pm

    setuju mas… tapi terkadang memang penganiayan kepada pers sendiri dilakukan oleh preman2 yang tidak bertanggung jawab… klo tanggung jawab ya damai jadinya..hehe
    nah mungkin juga pemerintah memiliki preman, atau pejabat…
    seperti saukani yg punya preman yang sempet mukulin salah satu wartawan waktu di jakarta…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 565,119 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: