06
Feb
08

Eksis di belantara radio

radioMelewati krisis 1998, perkembangan jumlah radio di Indonesia sungguh menakjubkan. Awal ’90an tercatat 451 radio yang menjadi anggota Persatuan Radio Siaran Swasta Indonesia (PRSSNI). Jumlah itu meningkat hampir 2 kali lipat menjadi 847 pada tahun 2007. Jika ditambah dengan radio yang tidak terdaftar sebagai anggota PRSSNI dan radio komunitas, diperkirakan jumlah radio di Indonesia bisa mencapai lebih dari 1200 radio siaran.

Bandingkan dengan jumlah radio komersial di Amerika, yang pada penghujung abad 20 sudah mencapai 11.700 radio. 5000 diantaranya mengudara di gelombang AM, sedangkan sisanya adalah radio FM.

Agar tetap dapat hidup, mereka memainkan format siaran yang tajam. Country yang merupakan format paling popular di Amerika pun terbagi semakin tajam menjadi real country, pop country, progressive country, bluegrass, country gospel dan sebagainya. Format Album Oriented Rock pun kini terbagi dalam format classic rock, new rock, adult album alternative, heavy metal Z-rock dan hard rock. Demikian juga dengan format musik yang lain, seperti urban, adult contemporary dan lain sebagainya.

Persaingan yang ketat, membuat segmentasi siaran menjadi hal yang tidak bisa ditawar, demikian juga di Indonesia. Insan radio sangat sadar, bahwa selain format musik, konsistensi sebuah radio terhadap jenis acara dan target pendengar juga perlu dipertahankan. Namun, akhir-akhir ini, meskipun kita sudah melakukan segmentasi, kompetisi tetap terjadi. Kompetitor ikut mengejar kita melakukan hal yang sama dan ikut bermain di kolam yang sama dengan kita. Apakah kompetisi tidak mungkin dihindari? Bagaimana caranya agar pendengar mengetahui kalau radio kita memiliki banyak hal yang tidak bisa didapatkan di radio lain? Bagaimana caranya agar pemasang iklan tahu bahwa kita memang beda?

Saat ini segmentasi tidak cukup karena segmentasi tidak akan melepaskan kita dari kompetisi. W.Chan Kim and Renée Mauborgne, dua profesor strategi dan manajemen dari sekolah bisnis INSEAD mengajak kita keluar dari lautan persaingan yang berdarah-darah dan berpindah ke laut biru yang tenang melalui konsep Blue Ocean Strategy.

Konsep dasar Blue Ocean Strategy adalah Value Innovation. Bagaimana kita mengalihkan diri dari persaingan di Red Ocean yang sangat kompetitive dan berdarah, menuju pada Blue Ocean yang membuat kompetisi jadi tidak relevan lagi. Value Innovation yang harus kita lakukan tidak selalu berupa inovasi teknologi, tetapi lebih berupa inovasi untuk memberikan peningkatan keuntungan bagi pendengar dan pemasang iklan, yang sebanding dengan biaya – baik material maupun non material – yang mereka keluarkan.

Picture1

Perbedaan Blue Ocean Strategy dengan Red Ocean Strategy:

Red Ocean Strategy

Blue Ocean Strategy

Bersaing di marketspace yang sama

Mengalahkan kompetitor

Mengeksploitasi demand yang sudah ada

Mengikuti Value / Cost trade off

Aliansi sistem & aktifitas pada differensiasi atau low cost

Menciptakan marketspace baru

Kompetisi sudah tidak relevan lagi

Menciptakan & menangkap demand baru

Memecahkan Value / Cost trade off

Aliansi sistem & aktifitas mengejar differensiasi baru dan lowcost

Dengan Blue Ocean Strategy, kita memiliki pasar baru ‘ala’ radio kita sendiri yang karena program dan pelayannya yang khas, akan sulit diikuti oleh kompetitor. Namun harus tetap kita ingat, bahwa setiap strategi baru yang akan kita terapkan di radio kita selalu mempunyai resiko yang harus diperhitungkan dengan seksama. Demikian juga dengan penerapan Blue Ocean Strategy. Formulasi dan eksekusinya harus kita lakukan dengan tepat dan cermat. Lakukan riset, pelajari situasi pasar, kebutuhan pendengar, keinginan pemasang iklan, kemampuan SDM dan tentunya budget. Terakhir, mari kita pikirkan nilai tambah luar biasa apa yang bisa kita berikan kepada mereka yang mendengarkan radio kita dan memasang iklan di radio kita.

Iklan

4 Responses to “Eksis di belantara radio”


  1. Maret 14, 2008 pukul 5:37 pm

    Halo mas…
    Aku baru buka Blog mu… Wuiiih!!! Mantap!!! Four Thumbs Up. Bagus banget. Buat Aku sih teramat sangat bermanfaat. Semoga buat yang lain juga.

    Mas… Aku lagi nyusun buku tentang “Menulis Naskah Radio”, mau bantuin nggak?

    Satu lagi mas, bikin Radio Watch yuk! Banyak radio yang siarannya menyebalkan seperti yang mas tulis di blog ini.

  2. Maret 15, 2008 pukul 11:10 am

    Wah akhirnya ketahuan juga nih nulis blog sama Dodi – orang radio yang doyan nulis! Hehehe…thanks for reading!

  3. 3 tanpabendera
    Maret 18, 2008 pukul 10:00 am

    Salam Damai…
    Salam Perjuangan …

    BLOG nya bagus, semoga bermanfaat buat kita semua …
    jika berkenan kunjungi BLOG kami di :

    http://tanpabendera.wordpress.com/

    terima kasih atas waktu dan cinta anda …

  4. 4 iwang.dk
    Maret 18, 2008 pukul 12:01 pm

    strategi yang bagus…..10 thumbs.hehehe…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 558,143 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: