05
Feb
08

Jakarta dan Banjir

banjir monasTidak heran kalau mendengar Jakarta kebanjiran. 2 Februari 2008, Jakarta kembali tergenang banjir setelah hujan semalaman.Siaran radio di Jakarta juga kebanjiran informasi tentang banjir dan kemacetan lalu lintas. Ada yang menugaskan reporter turun kelapangan, namun akhirnya tidak bisa maksimal karena kendaraan sang reporter tidak kedap air sehingga tidak mampu menjelajah ke sebagian jalanan di Jakarta yang cukup dalam tergenang air.

Pada saat seperti ini, kita harus mencari sumber berita lain, bisa dengan memanfaatkan komunitas pendengar yang kita miliki. Inilah istimewanya radio sebagai media interacitve. Dengan prosedur yang tidak berbelit, pendengar yang memiliki informasi penting dapat dengan mudah ikut memberikan informasi hanya dengan menelpon atau mengirimkan sms ke studio. Yang perlu kita lakukan hanya membiasakan pendengar untuk mau berbagi informasi.

Pada berbagai situasi genting, komunitas pendengar membuat saya kagum! Laporan langsung dari pendengar sangat membantu kita mendapatkan informasi terkini dalam waktu yang sangat cepat. Sebelumnya saya tidak menyangka bahwa pendengar radio PASFM Jakarta yang orang sibuk, pelaku bisnis dan pengusaha, masih mau meluangkan waktu untuk dengan senang hati berbagi berita dan menjadi reporter dadakan. Dengan dimediasi oleh penyiar, pertanyaan tentang situasi terakhir dan lain sebagainya bisa dijawab oleh pendengar lain yang kebetulan berada dilokasi.

Kita juga perlu membiasakan penyiar untuk selalu siap menerima dan menyiarkan berbagai informasi dari pendengar sesegera mungkin. Jika informasi disampaikan oleh pendengar melalui SMS, sebutkan nama dan lokasi pendengar. Nomor handphone pendengar tidak perlu disiarkan untuk menjaga privacy. Jika dirasakan masih ada informasi lain yang kita butuhkan, setelah SMS tersebut dibacakan, kita bisa meminta kesediaan pendengar tersebut untuk kembali melengkapi informasi melalui SMS. Jangan lupa untuk selalu mengucapkan terimakasih kepada pendengar yang sudah memberikan informasi.

Untuk pendengar yang menyampaikan informasi melalui telpon, selalu tanyakan nama dan lokasi dimana pendengar berada. Berikan kesempatan kepada pendengar untuk menyampaikan informasi secara tuntas. Ingatkan penyiar untuk tidak terlalu sering memotong informasi pendengar dengan komentar dan pertanyaan, sehingga pendengar tidak merasa tertekan dan panik. Penyiar justru harus membimbing pendengar dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang bisa membantunya mengembangkan laporan dan mendeskripsikan apa yang dilihatnya. Perlu diingat, pendengar bukan reporter yang sudah dibekali oleh berbagai ilmu jurnalistik.

Kita bisa berkolaborasi dengan pendengar kapanpun. Tidak hanya saat banjir. Dalam peristiwa apapun kita bisa memanfaatkan laporan dari pendengar, mulai dari demo, kemacetan lalu lintas, bahkan konser musik. Melalui berbagai acara interaktif, sense of belonging pendengar terhadap radio kita akan menjadi semakin besar.

Iklan

3 Responses to “Jakarta dan Banjir”


  1. Februari 5, 2008 pukul 3:36 pm

    Inilah kelebihan radio yang tidak dimiliki media lain, adanya ikatan emosional dengan pendengarnya, oleh karena itulah sampai sekarang radio tidak pernah mati, meskipun teknologi secanggih apapun diluncurkan untuk media…

  2. Februari 6, 2008 pukul 9:19 am

    Ini menarik mas. Pas banjir jumat kemarin saya pantau radio terus dan harus diakui kalau pendengar adalah ‘pool reporter’ paling efektif ya. Cuma saja emang masih ada yang cenderung dilepas ngomong kesana kemari tanpa dibimbing akibatnya malah ‘curhat’ hehe..

  3. Februari 6, 2008 pukul 11:54 am

    Mas Rane, Nampaknya para PD atau producer harus lebih serius membriefing penyiar, kemudian juga harus mau mendampingi penyiar saat eksekusi. Kalau dilepas ya jadinya begitu hehehe…Selain itu juga perlu ada gate keeper untuk menyaring call in, dan memberikan pengarahan kepada pendengar yang akan memberikan laporan sebelum on air. Yang paling aman sih membuka line sms saja. Karena sms yang masuk masih bisa kita “edit” redaksionalnya sehingga informasi yang muncul lebih terkendali. Kalo memang banyak pendengar yang “curhat” bisa jadi ide bikin acara curhat soal banjir tuh mas hehehe..ajang keluh kesah karena di tangan “ahlinya” Jakarta masih banjir hehehe…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 558,124 hits

R a d i o p i n i

A r c h i v e s


%d blogger menyukai ini: