Senin 6 Oktober 2008, POPFM Bandung berubah wujud menjadi PASFM Bandung. Meskipun tetap beroperasi pada gelombang 106.3 FM, perombakan yang dilakukan nyaris 100%. Format siaran pun bergeser dari radio hiburan menjadi radio berita. Target audience ikut berubah dari status ekonomi sosial B C D, menjadi A B C. Yang tadinya mengarah mereka yang berusia belasan hingga 40an, sekarang mencoba menembak mereka yang berusia 20an hingga 50an. Format lagu pun berubah dari lagu pop Indonesia dan dangdut, menjadi pemutar lagu barat – Indonesia dan lagu-lagu mandarin khusus di hari Minggu.
Pengait kata (tags) tulisan ‘ siaran
Ganti Rupa
berita yang membosankan
Saya teringat masa sekolah, saat mendapat tugas merangkum siaran berita radio dari guru bahasa Indonesia. Yang pertama muncul di pikiran adalah rasa malas dan enggan mendengarkan berita. Aduh…masa harus mendengarkan orang berbicara membaca berita sih! Membosankan!
Nampaknya ketidak-sukaan mendengarkan berita di saat sekolah menjadi bumerang, karena saat ini saya justru harus membuat berita. Tidak hanya itu, berita yang dibuat tidak boleh membuat orang bosan agar radio yang menyiarkan berita itu tidak ditinggalkan pendengar.
The Others
Sedikit menyontek dan memelintir pepatah lama yang sangat kita kenal, “Gajah dipelupuk mata tak nampak, apalagi kuman diseberang lautan.” Jika kita tidak mampu ‘melihat’ diri kita sendiri, bagaimana kita bisa membawa radio kita menjadi lebih baik, mulai dari sisi crew secara pribadi hingga organisasi kita secara keseluruhan.
Seringkali seorang station manager, program director, hingga produser mengeluhkan sulitnya menghindarkan staff, crew dan air talent dari kesalahan. Di lapangan kesalahan demi kesalahan terjadi, semakin lama menjadi masalah yang terus menggunung. Hal ini akan terus terjadi jika kita hanya bisa menyalahkan bawahan.
|
|
|
| The One Who Won My Heart – Christian Bautista | Walau Habis Terang – Peterpan |
Review, video clip, podcast, lyric:
Memble aje
Membaca komentar mas Rane pada salah satu posting saya, saya jadi tergelitik untuk mengamini bahwa evolusi tidak hanya terjadi pada makhluk hidup. Trend dan istilah pun terus berganti dengan hal baru. Ada istilah yang dulu ada dan menjadi trend, namun sekarang tenggelam. Namun ada juga istilah-istilah yang mengalami pergeseran arti.
Demikian juga dengan istilah-istilah yang sekarang sedang menjadi trend diucapkan, dalam beberapa waktu kedepan akan tergeser dengan istilah-istilah baru yang biasanya diciptakan oleh trend setter metropolitan termasuk media.
Piramida Berita
Dalam buku Here’s the News – A Radio News Manual yang diterbitkan oleh Asia Pacific Institute for Broadcasting Development disebutkan, bahwa bentuk tulisan dalam sastra konvensional menggunakan teori piramida sastra. Tulisan dimulai dengan pendahuluan, kemudian isi tulisan dan diakhiri dengan klimaks yang ditulis dalam kesimpulan.
Sedangkan untuk menyusun naskah pemberitaan radio, digunakan teori piramida terbalik, dimana klimaks dari sebuah pemberitaan justru diletakkan di bagian awal / atas piramida.
Dengan demikian kita ketahui bahwa: dalam sastra, peristiwa terpenting terletak di bagian akhir, sedangkan dalam pemberitaan, bagian terpenting harus diletakkan di awal.
Siaran yang berTataKrama
Dalam sebuah kesempatan, seorang penyiar senior mengatakan keinginannya untuk meletakkan mic agar bisa fokus pada bisnis yang sudah lama dia geluti. Sebenarnya saya menyayangkan keputusannya, tapi apa boleh buat. Dia merasa tidak bisa melawan umur, merasa sekarang sudah bukan “era” nya lagi.
Di tengah perbincangan, ada 1 istilah yang menggelitik telinga saya. Rekan saya ini mengatakan, “Banyak penyiar yang tidak memiliki tatakrama siaran”. Penggunaan kata tatakrama membuat saya bertanya, apa yang dia maksud dengan istilah itu. Selama ini kita mengenal arti tatakrama sebagai sopan santun, etika, unggah-ungguh. Jadi apakah siaran yang tidak bertatakrama bisa diartikan sebagai penyiar yang tidak bisa diatur, semaunya sendiri, tidak tahu sopan santun? Ternyata bukan. Lalu bagaimana agar seorang penyiar bisa dikatakan telah memiliki tatakrama siaran?
Memaksimalkan peran produser

Suatu hari di radio Antah Berantah FM seorang penyiar berdialog dengan bos kecil-nya.
DJ (penyiar): Pak, saya pulang dulu ya…
PD (manager siaran): Lho bukannya jam 14 – 17 nanti giliranmu menjadi produser?
DJ : Tenang pak, tadi semua sudah saya cek dan pastikan beres. Nanti siaran saya pantau dari rumah.
PD : ????
Di radio yang berbeda, seorang bos kecil sedang disidang oleh bos besar karena talk show yang pagi tadi disiarkan secara langsung tidak sesuai dengan standar siaran yang sudah ditentukan.
SM (Station Manager) : Kenapa talk show tadi pagi pembicaraannya melenceng dari yang sudah disepakati? Apa penyiarnya tidak mempersiapkan question list? Kenapa narasumber menyapa pendengar dengan call listener kompetitor? Apa narasumber tidak dibriefing dulu? Continue reading ‘Memaksimalkan peran produser’
I Have No Choice (yes you have!)
Seringkali kita berucap, “aku terpaksa melakukan ini karena tidak ada pilihan”. Tanpa kita sadari, pada saat mengatakan “aku tidak punya pilihan”, kita berusaha mencari pembenaran atas apa yang kita pilih.
Bicara mengenai pilihan (=choice), saya teringat film Spiderman 3, dimana Peter Parker dihadapkan pada pilihan untuk tetap menggunakan costum merah birunya atau costum black spidey. Masing-masing pilihan ada resikonya. Peter Parker sempat memilih menggunakan costum black spider yang membuatnya lebih nyaman dan lebih kuat. Namun ada resiko dibalik itu semua, yaitu resiko menjadi sosok Spiderman yang agresif dan brutal. Diceritakan, costum black spidey berasal dari parasit luar angkasa yang mampu mengeksploitasi sisi buruk induk semangnya.
Ditulis oleh: 











Recent Comments