Tulisan ini adalah pandangan subyektif saya pribadi saat menonton pemberitaan mengenai bencana di televisi. Performance sejumlah reporter dalam memberikan laporan bencana, khususnya bencana letusan Gunung Merapi, seharusnya bisa lebih dimaksimalkan. Apakah mungkin reporter-reporter yang diturunkan untuk meliput bencana adalah reporter yunior? Ada beberapa hal yang seharusnya segera dievaluasi dan bisa di jadikan contoh bagi jurnalis radio agar hal yang sama tidak terulang.
1. Tidak runtut dalam menyampaikan laporan
Laporan yang dituturkan tidak rapi atau kadang penuturan berulang-ulang menyampaikan sesuatu yang sudah disampaikan dalam 2 – 3 kalimat sebelumnya. Penuturan semakin berantakan saat reporter harus menyampaikan laporan disaat yang bersangkutan mengalami kepanikan. Hal ini seharusnya bisa dihindari jika reporter mau meluangkan waktu beberapa saat sebelum waktu siaran langsung yang sudah disepakati bersama untuk Continue reading ‘Meneropong Liputan Bencana’

Di saat terjadi peristiwa besar yang terjadi seketika dan di luar dugaan, seperti penangkapan teroris atau kecelakaan kereta api beberapa waktu lalu, media radio tidak ketinggalan mengirimkan tim peliputan untuk memberikan laporan mengenai apa yang terjadi di lapangan.
Sejak terjadi ledakan bom di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Jakarta, 17 Juli 2009, media menjejali kita dengan berbagai berita mengenai teror ini. Hingga akhir pekan 08 Agustus 2009 lalu, beberapa stasiun televisi membombardir kita dengan menyiarkan secara langsung selama hampir 20 jam drama penyergapan safe house mereka yang diduga menjadi penyebar teror di negeri ini.
Di lapangan, seorang reporter yang kurang persiapan akan bingung dan bahkan tidak mengetahui apa yang harus dilakukan. Untuk menghindari hal ini, maka seorang reporter sangat dianjurkan untuk melakukan persiapan sebelum terjun ke lapangan. Salah satu persiapan yang perlu dilakukan adalah melalui “penggalian berita”.
Sebagian dari kita tentu sudah pernah mengalami bagaimana rasanya ditolak. Bisa jadi respon dari kita adalah kecewa, putus semangat, jengkel dan berbagai perasaan negatif lainnya. Tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari, penolakan juga sering kita alami pada saat kita menghadapi sumber berita.
Konferensi pers adalah salah satu sumber berita kita. Seringkali konferensi pers digunakan oleh perusahaan, birokrat, organisasi, bahkan siapapun termasuk selebriti yang makin sering mengadakan konferensi pers untuk menceritakan urusan rumah tangganya, atau politisi yang sedang gencar mencari suara untuk menghadapi pemilu 2009.
Ditulis oleh: 














Recent Comments