Sejak terjadi ledakan bom di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Jakarta, 17 Juli 2009, media menjejali kita dengan berbagai berita mengenai teror ini. Hingga akhir pekan 08 Agustus 2009 lalu, beberapa stasiun televisi membombardir kita dengan menyiarkan secara langsung selama hampir 20 jam drama penyergapan safe house mereka yang diduga menjadi penyebar teror di negeri ini.
Melihat hal ini, saya sepakat dan salut akan kecepatan televisi dalam menyajikan informasi. Namun yang menjadi pemikiran saya, apakah hal ini diperlukan? Sebuah langkah strategis yang sedang dilakukan oleh pihak kepolisian, yang seharusnya dirahasiakan demi keberhasilan operasi tersebut, justru dijadikan konsumsi publik dalam bentuk siaran langsung. Apakah benar akan membawa manfaat bagi masyarakat? Atau, jangan-jangan pemberitaan ini hanya sekedar terpicu oleh pemikiran emosional untuk menghadirkan informasi secepat mungkin. Jika demikian, bagaimana dengan akurasi berita yang disajikan? Tidak heran jika KPI dan Polri sampai meminta agar televisi tidak mendramatisir berita yang disajikan.
Banyak hal yang bisa dipetik dari contoh kasus siaran langsung ini untuk kita terapkan di radio, agar jika diperlukan untuk menyiarkan secara langsung sebuah peristiwa besar yang tidak direncanakan sebelumnya, kita bisa menyajikannya dalam kemasan yang lebih tertata dengan isi yang bermanfaat bagi pendengar.















Recent Comments