Paruh kedua tahun 2009, media di Indonesia banyak mendapat makanan empuk berupa berita-berita besar yang terjadi di negeri ini. Mulai dari peledakan bom JW Marriott dan Ritz Carlton Jakarta hingga penangkapan teroris, berbagai kasus korupsi hingga intrik KPK yang tak kunjung usai dan gempa bumi yang mengguncang Sumatera Barat di akhir September – awal Oktober 2009.
Radio, televisi, media cetak dan internet berlomba menyajikan berita paling cepat dan paling eksklusif. Eksklusifitas sebuah berita yang kita peroleh kadang membuat kita – secara emosional – ingin menunjukkan bahwa kita ‘lebih’ dibandingkan media kompetitor. Hal ini tidak salah dan merupakan kebanggaan yang perlu kita bagikan kepada pendengar / penonton. Harus diakui bahwa kecepatan dan eksklusifitas berita yang kita peroleh dipastikan dapat membantu meningkatkan jumlah pendengar / penonton kita. Continue reading ‘Eksklusifitas: emosi atau kebutuhan’
Sejak terjadi ledakan bom di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Jakarta, 17 Juli 2009, media menjejali kita dengan berbagai berita mengenai teror ini. Hingga akhir pekan 08 Agustus 2009 lalu, beberapa stasiun televisi membombardir kita dengan menyiarkan secara langsung selama hampir 20 jam drama penyergapan safe house mereka yang diduga menjadi penyebar teror di negeri ini.
Di lapangan, seorang reporter yang kurang persiapan akan bingung dan bahkan tidak mengetahui apa yang harus dilakukan. Untuk menghindari hal ini, maka seorang reporter sangat dianjurkan untuk melakukan persiapan sebelum terjun ke lapangan. Salah satu persiapan yang perlu dilakukan adalah melalui “penggalian berita”.
Berita di bawah ini harus menjadi tantangan bagi kita praktisi media untuk putar otak adu kreativitas baik dalam menciptakan program siaran yang menarik, paket penjualan yang menarik pemasang iklan dan bersama-sama mengencangkan ikat pinggang agar kemarau tidak memakan korban.
“Ribuan massa melakukan aksi unjuk rasa….Mereka memaksa masuk gedung dewan hingga terjadi aksi saling dorong…Di tengah aksi sekelompok massa melakukan aksi teatrikal…Aksi ini diakhiri dengan aksi bakar ban”
“Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.” 









Recent Comments