Sejak akhir Desember 2008 lalu terjadi konflik di jalur Gaza antara Israel dan Palestina yang sampai hari ini telah mengakibatkan lebih dari 600 korban meninggal dan tidak terhitung yang luka-luka. Sebagai media, entah sedikit entah banyak, tentunya radio kita juga menyiarkan informasi ini.
Apa sebenarnya yang disebut sebagai jalur Gaza? Mengapa ada konflik antara Hamas dan Israel?
Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos dalam tulisannya mencoba berbagi informasi mengenai wilayah yang sedang terlibat perang ini. Semoga bisa menambah wawasan rekan-rekan broadcaster dan membantu dalam menyampaikan informasi untuk pendengar kita.
Berita di bawah ini harus menjadi tantangan bagi kita praktisi media untuk putar otak adu kreativitas baik dalam menciptakan program siaran yang menarik, paket penjualan yang menarik pemasang iklan dan bersama-sama mengencangkan ikat pinggang agar kemarau tidak memakan korban.
“Ribuan massa melakukan aksi unjuk rasa….Mereka memaksa masuk gedung dewan hingga terjadi aksi saling dorong…Di tengah aksi sekelompok massa melakukan aksi teatrikal…Aksi ini diakhiri dengan aksi bakar ban”
“Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.”
Selama ini radio mengklaim bisa menjadi media yang tercepat dalam menyajikan berita. Statement ini memang didukung dengan proses produksi berita radio yang jauh lebih simple dibandingkan dengan media yang lainnya. Hanya dengan bermodalkan alat rekam dan telpon genggam, seorang reporter radio bisa menginformasikan sesegera mungkin sesaat setelah sebuah peristiwa terjadi. Penyiarannya pun bisa dilakukan kapan saja, dengan hanya mempertimbangkan tingkat urgency dan kepentingan dari laporan tersebut.
Very Idam Heryansyah alias Ryan - tersangka sejumlah pembunuhan - beberapa kali menjalani 





Recent Comments