Tulisan ini adalah pandangan subyektif saya pribadi saat menonton pemberitaan mengenai bencana di televisi. Performance sejumlah reporter dalam memberikan laporan bencana, khususnya bencana letusan Gunung Merapi, seharusnya bisa lebih dimaksimalkan. Apakah mungkin reporter-reporter yang diturunkan untuk meliput bencana adalah reporter yunior? Ada beberapa hal yang seharusnya segera dievaluasi dan bisa di jadikan contoh bagi jurnalis radio agar hal yang sama tidak terulang.
1. Tidak runtut dalam menyampaikan laporan
Laporan yang dituturkan tidak rapi atau kadang penuturan berulang-ulang menyampaikan sesuatu yang sudah disampaikan dalam 2 – 3 kalimat sebelumnya. Penuturan semakin berantakan saat reporter harus menyampaikan laporan disaat yang bersangkutan mengalami kepanikan. Hal ini seharusnya bisa dihindari jika reporter mau meluangkan waktu beberapa saat sebelum waktu siaran langsung yang sudah disepakati bersama untuk Continue reading ‘Meneropong Liputan Bencana’

Di lapangan, seorang reporter yang kurang persiapan akan bingung dan bahkan tidak mengetahui apa yang harus dilakukan. Untuk menghindari hal ini, maka seorang reporter sangat dianjurkan untuk melakukan persiapan sebelum terjun ke lapangan. Salah satu persiapan yang perlu dilakukan adalah melalui “penggalian berita”.
Ditulis oleh:
Sudah menjadi kebiasaan, sekian hari menjelang hari Lebaran sampai sekian hari sesudah Lebaran, pemudik akan beramai-ramai meninggalkan kota yang selama ini menjadi tempat untuk mencari nafkah menuju kampung halamannya. Jumlah pemudik yang tidak sedikit akan memenuhi jalan-jalan raya di sepanjang pulau Jawa, baik di jalur pantai utara maupun jalur pantai selatan.
Mulai 8 hingga 24 Agustus 2008
Tulisan
23 Mei 2008 pemerintah akan mengumumkan kenaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi sebesar 28.7%. Seperti sudah diketahui, kebijakan pemerintah ini memicu berbagai demo yang tersebar diberbagai tempat di Indonesia. Mulai dari aksi damai hingga demo yang diakhiri bentrok.















Recent Comments