Sudah menjadi kebiasaan, sekian hari menjelang hari Lebaran sampai sekian hari sesudah Lebaran, pemudik akan beramai-ramai meninggalkan kota yang selama ini menjadi tempat untuk mencari nafkah menuju kampung halamannya. Jumlah pemudik yang tidak sedikit akan memenuhi jalan-jalan raya di sepanjang pulau Jawa, baik di jalur pantai utara maupun jalur pantai selatan.
Seorang rekan wartawan dari sebuah majalah otomotif baru-baru ini mengirimkan email, yang berisi beberapa pertanyaan wawancara mengenai kesiapan radio dalam menyampaikan liputan mengenai arus mudik dan arus balik. Pertanyaan-pertanyaan dalam email itu memicu munculnya pertanyaan di benak saya “Masih perlukah sebuah radio menyiarkan informasi kepadatan arus mudik dan arus balik?”.
Nasib dari berita atau informasi yang kita tawarkan kepada pendengar, sangat tergantung pada segerombolan kata-kata yang membentuk tautan kalimat di awal berita kita. Semakin menarik pemilihan, penggunaan dan penyusunan kata-katanya, peluang berita kita untuk didengar oleh masyarakat akan menjadi semakin besar.
Selama ini radio mengklaim bisa menjadi media yang tercepat dalam menyajikan berita. Statement ini memang didukung dengan proses produksi berita radio yang jauh lebih simple dibandingkan dengan media yang lainnya. Hanya dengan bermodalkan alat rekam dan telpon genggam, seorang reporter radio bisa menginformasikan sesegera mungkin sesaat setelah sebuah peristiwa terjadi. Penyiarannya pun bisa dilakukan kapan saja, dengan hanya mempertimbangkan tingkat urgency dan kepentingan dari laporan tersebut.
Very Idam Heryansyah alias Ryan – tersangka sejumlah pembunuhan – beberapa kali menjalani
Survey pendengar, sudah lazim dilakukan. Biasanya kita melakukan riset untuk mengetahui acara favorit, penyiar favorit, jenis lagu yang disuka hingga peta kompetisi radio di kota kita. Namun masih jarang radio yang melakukan survey untuk mengetahui berita seperti apa – baik isi maupun bentuk penyajiannya – yang ingin didengar oleh masyarakat.
Satu lagi radio di Jakarta memposisikan dirinya sebagai radio yang menyiarkan musik lebih banyak dibandingkan dengan MJ (mp3 jockey) talk. Jika pada akhir tahun 2007 Radio One berubah menjadi Gen 98.7 FM dengan komposisi siaran musik hingga 70% – 80%, pada bulan Juni 2008 giliran Ramako ganti rupa menjadi Lite FM.










Recent Comments