Paruh kedua tahun 2009, media di Indonesia banyak mendapat makanan empuk berupa berita-berita besar yang terjadi di negeri ini. Mulai dari peledakan bom JW Marriott dan Ritz Carlton Jakarta hingga penangkapan teroris, berbagai kasus korupsi hingga intrik KPK yang tak kunjung usai dan gempa bumi yang mengguncang Sumatera Barat di akhir September – awal Oktober 2009.
Radio, televisi, media cetak dan internet berlomba menyajikan berita paling cepat dan paling eksklusif. Eksklusifitas sebuah berita yang kita peroleh kadang membuat kita – secara emosional – ingin menunjukkan bahwa kita ‘lebih’ dibandingkan media kompetitor. Hal ini tidak salah dan merupakan kebanggaan yang perlu kita bagikan kepada pendengar / penonton. Harus diakui bahwa kecepatan dan eksklusifitas berita yang kita peroleh dipastikan dapat membantu meningkatkan jumlah pendengar / penonton kita. Continue reading ‘Eksklusifitas: emosi atau kebutuhan’
Saya ingin manambahkan sedikit ilustrasi saat penyiar melakukan tugasnya. Dalam beberapa tulisan, saya setuju dengan cara penyampaian informasi oleh seorang penyiar secara one by one kepada pendengar. Artinya bahwa penyiar memvisualisasikan dirinya sedang berbicara kepada seorang pendengar atau sekelompok kecil pendengar, bukan kepada banyak pendengar saat berbicara atau menyampaikan informasi kepada pendengar. Hal ini bertujuan untuk menyentuh pendengar secara personal, dan bila ini divisualisasikan, bagi pendengar akan terasa bahwa penyiar sedang berbicara kepada diri pendengar. Dan pendengar pun akan merasa sedang diajak berbicara secara pribadi. Bagi seorang yang sudah menjadi penyiar, hal ini akan mudah dibayangkan.
EMOSI! Itulah perasaan yang biasanya langsung muncul jika mendengar penyiar atau staff kita – apalagi yang terbaik – dibajak oleh radio kompetitor. Sudah capek-capek mendidik, malah diambil orang lain. Setelah masalah ini terlanjur terjadi, barulah kita menyadari bahwa kita ternyata memiliki sumber daya unggul.
Perbincangan atau wawancara di radio harus disajikan dengan menarik agar laku dijual kepada pendengar. Seringkali kita mendapati, sebuah wawancara radio yang berlarut-larut dan membosankan. Jika sudah begini, pendengar akan lebih memilih mendengarkan lagu daripada mengikuti obrolan di radio kita. 














Recent Comments