Ditulis oleh Ariyanto broadcaster sebuah stasiun radio di Solo
Wabah blog terus menyebar dengan cepat dan rasanya nyaris tak terbendung. Dia menjangkiti sejumlah kalangan hingga seolah tak mau terlepas darinya. Seiring dengan itu, situs – situs jejaring sosial pun kini kian beragam. Maka itu, sekarang orang lazim jika mempunyai lebih darin satu blog. Tak mengherankan rasanya, jika ada ada yang mengatakan, “Saya kini tak bisa membagi waktu antara nge-MP dan nge-plurk”. Atau, “Wah, saya kangen juga ama FS ”
Ungkapan – ungkapan itu tentu merupakan isyarat adanya semacam pergeseran pola konsumsi media di masyarakat. Bahkan, pergeseran itu diprediksi akan meluas. Kondisi ini tentu saja akan mempengaruhi terhadap konsumsi terhadap media lain seperti koran, televisi atau radio. Ini tak lain karena sifat blog adalah personal, hingga waktu yang digunakan untuk menjalankan aktivitas ini akan mengurangi waktu membaca media cetak atau menonton televisi.
Lanjutkan membaca ‘Ngeblog sambil denger radio, Mengapa Tidak ?!’

Tiga tahun lebih saya dan kawan-kawan guru berjuang untuk mendirikan Radio Pendidikan Di Balikpapan….
“Ribuan massa melakukan aksi unjuk rasa….Mereka memaksa masuk gedung dewan hingga terjadi aksi saling dorong…Di tengah aksi sekelompok massa melakukan aksi teatrikal…Aksi ini diakhiri dengan aksi bakar ban”
ditulis oleh :
Dikisahkan, di sebuah pesta perpisahan sederhana pengunduran diri seorang direktur. Diadakan sebuah sesi acara penyampaian pesan, kesan, dan kritikan dari anak buah kepada mantan atasannya yang segera memasuki masa pensiun dari perusahaan tersebut.
Saya ingin manambahkan sedikit ilustrasi saat penyiar melakukan tugasnya. Dalam beberapa tulisan, saya setuju dengan cara penyampaian informasi oleh seorang penyiar secara one by one kepada pendengar. Artinya bahwa penyiar memvisualisasikan dirinya sedang berbicara kepada seorang pendengar atau sekelompok kecil pendengar, bukan kepada banyak pendengar saat berbicara atau menyampaikan informasi kepada pendengar. Hal ini bertujuan untuk menyentuh pendengar secara personal, dan bila ini divisualisasikan, bagi pendengar akan terasa bahwa penyiar sedang berbicara kepada diri pendengar. Dan pendengar pun akan merasa sedang diajak berbicara secara pribadi. Bagi seorang yang sudah menjadi penyiar, hal ini akan mudah dibayangkan.
ditulis oleh
Ditulis oleh:
“Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.” 




Recent Comments