Arsip untuk Kategori 'jurnalistik radio'

07
Jan

Ditolak Narasumber

Sebagian dari kita tentu sudah pernah mengalami bagaimana rasanya ditolak. Bisa jadi respon dari kita adalah kecewa, putus semangat, jengkel dan berbagai perasaan negatif lainnya. Tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari, penolakan juga sering kita alami pada saat kita menghadapi sumber berita.

Saat ditugaskan untuk meliput peristiwa penting atau mewawancarai narasumber kunci, reporter kita ternyata kembali dengan tangan kosong karena narasumber yang menjadi target menolak untuk diwawancara. Seperti kita ketahui, bahwa narasumber memiliki hak untuk diam, tidak menjawab, dan menolak diwawancara. Apa yang harus kita lakukan jika kita tidak mendapatkan statement sementara deadline semakin mengejar kita? Apakah kita harus memilih tidak menyiarkan berita ini?

Lanjutkan membaca ‘Ditolak Narasumber’

30
Des

Membantu Newscaster

Tentunya kita pernah mendengarkan seorang penyiar salah dalam membaca berita. Bisa jadi yang bersangkutan kurang berkonsentrasi, menghadapi gangguan atau kesalahan baca justru terjadi akibat naskah yang tidak jelas.

Naskah berita yang tercetak dengan baik dalam tulisan yang jelas akan sangat membantu pembaca berita / newscaster dalam menyampaikan informasi kepada pendengar tanpa harus tersandung-sandung. Sebagai bagian dari sebuah newsroom, seorang newscaster memiliki hubungan yang erat dengan scriptwriter dan editor. Jika terjadi salah-salah baca oleh newscaster, maka editor harus bertanggungjawab. Unuk itu editor harus memeriksa naskah berita yang dibuat scriptwriter sebelum diserahkan ke newscaster. Editor juga harus siap menjawab dan menjelaskan segala pertanyaan newscaster berkaitan dengan berita yang akan disiarkan. Mulai dari runtutan berita yang terjadi, pengucapan bahasa asing dan lain sebagainya.

Lanjutkan membaca ‘Membantu Newscaster’

10
Des

Menjual kejujuran

Saya mengakhiri hari yang melelahkan dengan mengajak berbincang mas Rane melalui fasilitas ‘chatting’ yang disediakan oleh Facebook. Obrolan pun mengalir ke pembicaraan seputar jurnalisme infotainment - yang tumbuh menjamur di televisi - yang kadang menerobos masuk ke ranah pribadi dari tokoh yang sedang hangat-hangatnya di’gosip’kan, etika jurnalistik, perlu tidaknya mengungkapkan urusan pribadi seseorang hingga membuatnya menjadi konsumsi publik dan manfaat dari informasi yang disampaikan bagi masyarakat.

Obrolan mengenai etika membuat saya teringat pada sebuah acara reality show yang sempat saya tonton di salah satu channel televisi. Acara kuis yang diberi nama The Moment of Truth ini memberikan hadiah jika peserta yang berani jujur dihadapan orang-orang dekatnya yang ikut hadir satu panggung dalam acara tersebut.

Lanjutkan membaca ‘Menjual kejujuran’

27
Nov

Indonesian Radio Award 2008

Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) mempersembahkan untuk pertama kalinya, anugrah khusus bagi mereka yang melahirkan mahakarya untuk dunia radio di Indonesia yaitu:

JUSUF RONODIPURO AWARD untuk jurnalistik radio.

Memperebutkan hadiah:

Lanjutkan membaca ‘Indonesian Radio Award 2008′

25
Nov

Meliput konferensi pers

Konferensi pers adalah salah satu sumber berita kita. Seringkali konferensi pers digunakan oleh perusahaan, birokrat, organisasi, bahkan siapapun termasuk selebriti yang makin sering mengadakan konferensi pers untuk menceritakan urusan rumah tangganya, atau politisi yang sedang gencar mencari suara untuk menghadapi pemilu 2009.

Secara umum, konferensi pers tidak bisa dipisahkan dari tujuan mempromosikan sesuatu, entah diri mereka ataupun produk dan gagasan yang mereka miliki. Untuk itu, kta perlu bersikap skeptis dan memutuskan menugaskan reporter untuk meliput sebuah konferensi pers hanya jika memiliki nilai berita.

Perlu diingat, yang akan menjadi berita adalah dampak dari konferensi pers tersebut, bukannya konferens pers itu sendiri.

Lanjutkan membaca ‘Meliput konferensi pers’

17
Nov

Banyak ‘aksi’ di media massa

ditulis oleh: Ariyanto - broadcaster sebuah stasiun radio di SOLO

“Ribuan massa melakukan aksi unjuk rasa….Mereka memaksa masuk gedung dewan hingga terjadi aksi saling dorong…Di tengah aksi sekelompok massa melakukan aksi teatrikal…Aksi ini diakhiri dengan aksi bakar ban”

Begitulah kira – kira kalimat dari paket berita di media massa saat menginformasikan unjuk rasa. Entah mengapa kalimat seperti itu selalu muncul. Saking gerahnya, saya pernah mengirim SMS ke seorang kawan yang menjadi produser paket berita di sebuah stasiun telivisi. Ya, maksud saya agar kalimat seperti itu tidak muncul lagi. Saya pikir dia akan memperingatkan rekannya agar tidak menulis berita seperti itu. Bukannya sok tahu. Tapi, itulah bentuk keprihatinan saya. Dia pun menjawab SMS dengan menulis, “Betul kamu Bang”.

Lanjutkan membaca ‘Banyak ‘aksi’ di media massa’

14
Nov

Words Power

Gejolak finansial belum juga kunjung usai dari bumi Indonesia. Setelah index saham di Bursa Efek Indonesia terhujam lebih dari 10% pada 8 Oktober 2008, sebluan kemudian (4 November 200 8) nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika merosot hingga menembus 11.000. Sore tadi 13 November 2008 terdengar kabar bahwa salah satu bank swasta dinyatakan kalah kliring.

Berita ini sempat membuat masyarakat khawatir musibah yang dialami dunia perbankan Indonesia pada tahun 1998 terulang lagi. Bagaimana tidak, hampir semua orang mempercayakan dananya untuk disimpan di bank. Saat mereka mau menarik dananya, ternyata tidak bisa. Beberapa saat kemudian terdengar berita bahwa banknya mengalami kalah kliring. Otomatis kita langsung terbayang pada kejadian buruk di dunia perbankan 1998.

Lanjutkan membaca ‘Words Power’

09
Nov

Eksekusi Amrozi Cs

image source: herald sun

“At 12.15am, the convicts … were executed by shooting and followed up with an autopsy,” spokesman Jasman Pandjaitan said. (berita selengkapnya dan rekaman berita mengenai eksekusi bisa didapatkan di akhir posting)

Sekitar pukul 00.30 WIB saya mendapat pesan singkat dari rekan-rekan di PASFM Jakarta bahwa terpidana mati Amrozi CS telah dieksekusi sekitar 00.15 WIB.

Sebuah berita, memang tidak kenal waktu. Inilah tuntutan bagi jurnalis radio, untuk siaga 24 jam. Salut untuk rekan Ugi yang tetap terjaga dan langsung melakukan koordinasi dengan saya.

Mendapatkan berita di malam hari memiliki tantangan tersendiri, karena setelah seharian membuang energi menunggu berita, kita harus segera mengejar informasi saat orang lain beristirahat.

Lanjutkan membaca ‘Eksekusi Amrozi Cs’

22
Okt

Hak Tolak

Hari ini saya mendapatkan kesempatan mempraktekkan salah satu teori jurnalistik, yaitu kewajiban untuk melindungi identitas narasumber yang tidak ingin disebutkan namanya. Selain itu, saya juga mendapatkan pelajaran baru, mengenai apa yang disebut sebagai Hak Tolak.

Kasus ini berawal dari adanya kritik dari salah satu pendengar yang disampaikan melalui sebuah radio. Pendengar tersebut mengkritisi kinerja dari salah satu lembaga hukum di kotanya. Berkaitan dengan fakta / data yang disampaikan, si pendengar meminta identitasnya tidak diekspos. Sebagai media, tentunya radio harus berkomitmen untuk melindungi narasumbernya.

Lanjutkan membaca ‘Hak Tolak’

21
Okt

Krisis Amerika

Belakangan, seiring dengan krisis ekonomi yang berawal dari Amerika dan akhirnya melebar melanda dunia, di media sering sekali didengar istilah “Subprime Mortgage”. Makhluk inilah yang disebut-sebut sebagai cikal bakal munculnya krisis keuangan di Amerika. Sayangnya, media hampir tidak ada yang memberikan penjelasan, apakah yang dimaksud dengan “Subprime Mortgage”. Sehingga masyarakat sebagai konsumen informasi terpaksa menelan mentah-mentah atau menduga-duga apa yang dimaksud dengan istilah asing itu.

Menurut teori pemberitaan, agar informasi yang disampaikan tidak sia-sia, media perlu memberikan penjelasan singkat apa arti istilah asing yang mereka beritakan. Media tidak boleh menganggap, konsumennya sudah memahami apa yang akan disampaikannya. Sebaliknya, media juga jangan menganggap audience-nya tidak mengetahui apa-apa. Dengan demikian memang diperlukan insting yang mampu mengkomposisikan informasi secara pas dan benar.

Dalam posting kali ini, saya akan mencoba membagikan apa yang saya ketahui mengenai “Subprime Mortgage”. Bila saja kurang lengkap, mohon ada yang bisa menambahkan.

Lanjutkan membaca ‘Krisis Amerika’




M y F a c e b o o k


Alex Santosa's Facebook profile

R a d i o p i n i

A r c h i v e s

B r o a d c a s t o l o g y

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

Add to Technorati Favorites

Join Radioku Community at MyBloglog!

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 121,166 hits

T r a c k e r




Did You Know?

Visit Yogyakarta / Jogja