Sekali-kali menulis tentang dangdut
Meski Project Pop menggaungkan Dangdut is the music of my country, tetap saja banyak orang memandang dangdut dan pecintanya sebelah mata. Dangduters dinilai – maaf – low class, uneducated atau low buying power. Namun, dari pengalaman saya di dunia radio, nilai-nilai tersebut tidak sepenuhnya benar.
Bagi saya, justru para pesuka dangdut ini memiliki beberapa kelebihan yang bisa ditangkap oleh radio dan pengiklan, antara lain:
- Jika memang benar asumsi bahwa pendengar dangdut “biasanya” adalah mereka yang berstatus sosial ekonomi menengah ke bawah / C – D – E, jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang berada di kelas A dan B. Dari survey yang dilakukan, radio dengan pendengar terbanyak di setiap kota, bisa dikatakan hampir selalu diduduki oleh radio dangdut.
- Status sosial ekonomi menengah ke bawah, yang biasanya dihitung berdasarkan banyaknya rupiah yang dibelanjakan setiap bulannya, tidak bisa selamanya dikatakan sebagai miskin. Meski secara geografis berada di daerah atau pedesaan, tidak sedikit dari mereka yang berprofesi mulai dari pedagang, peternak, wiraswasta hingga pegawai negeri. Dengan demikian, tidak sepenuhnya benar jika dikatakan bahwa dangdut mania tidak memiliki buying power.
- Belakangan terjadi pergeseran usia pecinta dangdut. Usia remaja dari kelas menengah ke bawah ternyata lebih menyukai mendengarkan radio yang memutar lagu pop Indonesia. Sehingga, mereka yang mendengarkan radio dangdut berasal dari kalangan yang lebih dewasa, lebih mapan dan sudah bisa mengambil keputusan.
- Dari sisi loyalitas, bagi saya mereka adalah militan. Kalau sudah suka, mereka akan selalu mendengarkan radio kita dan tidak sedikit yang aktif berinteraksi saat penyiar idolanya sedang siaran. Tidak jarang mereka jauh-jauh datang ke radio (ada juga yang membawa bingkisan) untuk bertemu dengan crew radio atau bertemu sesama pendengar.
- Relatif lebih mudah digerakkan. Saat radio memiliki kegiatan, karena loyalitasnya, pendengar dangdut memiliki semangat untuk berpartisipasi. Tidak heran jika berbondong-bondong ribuan pendengar menghadiri acara yang kita buat untuk mereka. Selain itu, biaya yang diperlukan untuk membuat kegiatan bagi penggemar dangdut tidak sebesar kegiatan yang kita buat untuk pendengar yang berasal dari kelas menengah ke atas.
- Mereka ternyata tidak terlalu gagap tekhnologi. Tidak sedikit radio dangdut yang menerima ribuan bahkan belasan ribu sms dari pendengar setiap harinya. Jika penyiar melempar status di Facebook, respon pendengar bisa mencapai puluhan bahkan ada yang ratusan. Saat radio melempar games melalui Facebook, jumlah penggemar yang bergabung menunjukkan peningkatan. Bisa disimpulkan, pendengar dangdut yang semula tidak mengenal Facebook mau bersusah payah untuk belajar ber-Facebook. Hal ini terjadi karena didukung mudah dan murahnya alat, dalam hal ini handphone yang memungkinkan untuk digunakan mengakses internet / Facebook.
Saya rasa masih banyak kelebihan lain dari para pecinta dangdut yang bisa dimanfaatkan sebaik mungkin oleh pengelola radio dan tentunya pengiklan. Jangan remehkan mereka. Waspadai potensi positif dari mereka – para Dangdut Militan. Salam Goyang Jempol!
*)Tentang foto: Keunikan Dangdut mengusik Profesor Andrew N Weintraub menulis buku Dangdut Stories – A Social and Musical History of Indonesia’s Most Popular Music.















0 Tanggapan ke “Waspadai Dangdut Militan”