Ditulis oleh Ariyanto broadcaster sebuah stasiun radio di Solo
Wabah blog terus menyebar dengan cepat dan rasanya nyaris tak terbendung. Dia menjangkiti sejumlah kalangan hingga seolah tak mau terlepas darinya. Seiring dengan itu, situs – situs jejaring sosial pun kini kian beragam. Maka itu, sekarang orang lazim jika mempunyai lebih darin satu blog. Tak mengherankan rasanya, jika ada ada yang mengatakan, “Saya kini tak bisa membagi waktu antara nge-MP dan nge-plurk”. Atau, “Wah, saya kangen juga ama FS ”
Ungkapan – ungkapan itu tentu merupakan isyarat adanya semacam pergeseran pola konsumsi media di masyarakat. Bahkan, pergeseran itu diprediksi akan meluas. Kondisi ini tentu saja akan mempengaruhi terhadap konsumsi terhadap media lain seperti koran, televisi atau radio. Ini tak lain karena sifat blog adalah personal, hingga waktu yang digunakan untuk menjalankan aktivitas ini akan mengurangi waktu membaca media cetak atau menonton televisi.
Kondisi seperti inilah yang antara lain membawa media – media mainstream memperkuat jaringan media yang sudah ada di dunia maya. Orang bilang media konvergensi. Seolah menjadi keharusan, jika kini media mainstream yang mempunyai situs atau media on line dilengkapi dengan video dalam pemberitaan mereka. [:seolah tak mau ketinggalan mereka juga menyediakan ruang untuk ngeblog]. Sedangkan, stasiun televisi melengkapi dengan program on demand untuk pemirsanya yang tidak sempat menyaksikannya melalui layar kaca. Langkah serupa juga dilakukan stasiun radio dengan radio on demand atau dengan podcast yang marak di negara – negara Eropa, di samping live streaming.
Meski demikian, ini tak mengubah beberapa karakter yang melakat dari awal. Untuk radio, misalnya, teknologi ini menggugurkan karakter radio yang bersifat selintas dengar. Hal itu terjadi karena siaran radio dapat ‘diputarulang’ di internet, meski ini juga membawa konsekuensi lain yaitu menghilang sifat interaksinya secara langsung, manakala orang hanya mengikuti lewat radio on demand di internet.
Namun, karakter radio yang lain, sebagai a companion – atau sebagai kawan masih tetap menyertainya. Karakter ini memungkinkan pendengar tetap menyimak siaran radio sambil menjalankan aktivitas lain – termasuk ngeblog. Karakter ini pula lah yang menjadi peluang radio untuk tetap eksis di gegap gempitanya era blog. Radio tetap mampu melakukan penetrasi untuk menyampaikan pesan bagaimana pun aktivitas pendengarnya dan bersifat personal.





0 Tanggapan ke “Ngeblog sambil denger radio, Mengapa Tidak ?!”