ditulis oleh: Ariyanto - broadcaster sebuah stasiun radio di SOLO
“Ribuan massa melakukan aksi unjuk rasa….Mereka memaksa masuk gedung dewan hingga terjadi aksi saling dorong…Di tengah aksi sekelompok massa melakukan aksi teatrikal…Aksi ini diakhiri dengan aksi bakar ban”
Begitulah kira – kira kalimat dari paket berita di media massa saat menginformasikan unjuk rasa. Entah mengapa kalimat seperti itu selalu muncul. Saking gerahnya, saya pernah mengirim SMS ke seorang kawan yang menjadi produser paket berita di sebuah stasiun telivisi. Ya, maksud saya agar kalimat seperti itu tidak muncul lagi. Saya pikir dia akan memperingatkan rekannya agar tidak menulis berita seperti itu. Bukannya sok tahu. Tapi, itulah bentuk keprihatinan saya. Dia pun menjawab SMS dengan menulis, “Betul kamu Bang”.
Namun, seiring waktu harapan saya itu belum juga terwujud. Mungkin, kawan saya masih terlalu sibuk dengan tempat kerjanya yang baru hingga masih butuh penyesuaian. Maklum, saja saat saya mengirim SMS itu, dia baru sekitar satu atau dua bulan bekerja di stasiun televisi yang berusaha menjadi ‘televisi berita’. Saya pingin dia menyampaikan kepada rekannya yang menulis berita bahwa kalimat dalam yang dibuat dan kemudian disiarkan begitu banyak pengulangan atau dalam ilmu bahasa sering disebut repetisi. Misalnya, pada kalimat pertama ada kata ‘ribuan’ ada pula kata ‘massa’. Massa berarti sekelompok orang, dan ribuan mengacu pada jumlah pengunjuk rasa. Jika dua kata itu digabung ‘ribuan massa’…wah berapa banyak orang ya…Bukankah cukup ditulis ribuan orang atau massa saja ?
Belum lagi kata – kata ‘melakukan aksi unjuk rasa’ yang sebenarnya cukup ditulis ‘berunjuk rasa’. Kemudian, ‘aksi saling dorong’…ah apakah kata ‘aksi’ di situ diperlukan ? Lalu ‘aksi teatrikal’…apa ya sebenarnya makna dari kalimat itu. Kata – kata yang dimaksudkan untuk menggambarkan pertunjukkan mirip teater yang dilakukan saat berunjuk rasa. Kalimat itu, bagi saya terkesan sangat ‘teknis’ yang perlu dicari padanannya agar terasa lebih akrab, atau sebaiknya dihilangkan saja. Sebenarnya, saya ingin ingin kembali mengirim SMS kepada teman saya. Tapi, saya rasa itu tak cukup. Saya ingin mengirimkan e-mail atau menelponnya saja. Namun, saat akan mengetik tiba – tiba dari televisi terdengar berita :
“Ribuan massa melakukan aksi unjuk rasa….Mereka memaksa masuk gedung dewan hingga terjadi aksi saling dorong…Di tengah aksi sekelompok massa melakukan aksi teatrikal…”
Saya pun tertegun karena berita itu bukan berasal dari stasiun televisi tempat teman saya bekerja…





Mas Alex…
Diriku sudah bangun dari “tidur” panjang nihhh, hehehe
maap baru mampir, habis ngerjain PR berat… tapi dah mo selesai kok.
Apa khabar.
Anyway, about your post, ini keknya bukan posting mas alex yahhh… Well, emang benar banyak aksi di media massa… sampai bingung juga.
Trus kalo berita banyak “aksi” ini bukan dari stasiun TV tempat teman anda bekerja… lalu AKSI siapa itu?… hihihihi
Salam kenal buat penulisnya
Silly
lam kenal juga untuk mbak silly. mbak, artinya setiap kali menyusun berita jurnalis dari berbagai media massa nyaris sama. kurang ekplorasi kata dan terjebak hanya pakai kalimat yang itu - itu saja - termasuk menggunakan kalimat yang kurang efektif. yang disorot tidak hanya bukan ‘aksi’- nya, melainkan pengunaan kata ‘aksi’. lebih lengkap kunjungi di blog-ku yah..[baca komennya juga] tinggal diklik aja udah dilink ama mas alex. -ary-