Apa yang terjadi jika kita sedang menderita sakit gigi, oleh dokter diberi obat batuk? Tentunya rasa sakit yang kita derita tidak akan sembuh. Sebelum saya melanjutkan menulis kaitan ilustrasi ini dengan dunia radio, saya ingin berbagi cerita mengenai sakit yang pernah saya derita. Beberapa tahun yang lalu saya pernah mengalami sakit perut parah, yang nyerinya serupa dengan sakit maag. Saat rasa sakit itu datang, tidak ada hal lain yang bisa saya lakukan kecuali membungkuk sambil memegang perut.
Dari dokter internist yang saya kunjungi, diduga saya menderita sakit maag. Namun meskipun obat yang diresepkan dokter sudah habis saya minum, sakit perut yang saya derita belum sembuh juga. Akhirnya saya mencoba untuk memeriksakan penyakit saya ke dokter yang lain. Setelah melalui pemeriksaan laboratorium dan USG, dokter memberitahukan bahwa didalam kantong empedu saya ada beberapa butir gumpalan kalsium yang biasa disebut dengan batu empedu. Sehingga setiap saya mengkonsumsi makanan berminyak seperti goreng-gorengan dan masakan yang mengandung santan akan terasa sakit.
Lalu apa kaitannya batu empedu dengan makanan berminyak? Dari kantong empedu akan dikeluarkan cairan empedu yang dihasilkan oleh hati. Cairan empedu berguna dalam penyerapan lemak dan beberapa vitamin, seperti vitamin A, D, E, dan K. Sehingga jika kita mengkonsumsi makanan berminyak, kantong empedu akan mengeluarkan cairan empedu. Jika saluran keluar cairan empedu tersumbat, akan menimbulkan rasa nyeri akibat peradangan yang disebut dengan Cholecystitis.
Menurut dokter, batu empedu saya masih kecil sehingga bisa dihancurkan dan tidak perlu menjalani operasi. Beberapa bulan saya menjalani proses pengobatan untuk menghancurkan batu empedu itu, memang efeknya terasa. Sakit yang menyerang menjadi lebih jarang. Namun, suatu ketika entah karena apa mendadak perut saya diserang sakit yang luar biasa. Dokter mengatakan, tidak ada jalan lain kecuali mengangkat kantong empedu saya melalui pembedahan Laparoskopik. Mendengar keputusan ini saya langsung terbayang bahwa saya akan menjadi manusia tanpa empedu
.
Saya putuskan untuk mencari second opinion sebelum menyetujui menjalani laparoskopik. Datanglah saya ke sebuah rumah sakit swasta yang letaknya tidak jauh dari Simpang Lima Semarang. Begitu diperiksa, saya diminta sekali lagi menjalani test laboratorium dan USG. Dan ternyata hasilnya, tidak ada batu sama sekali di empedu saya! Yang terjadi adalah, empedu saya mengalami infeksi dan cairan empedunya terlalu kental. Sehingga selain memberikan obat penyembuh infeksi, dokter juga memberikan obat untuk mencairkan cairan empedu saya. Makanya selama ini sering sakit dan diberi obat apapun - bahkan sempat tersiksa karena terpaksa mengkonsumsi obat yang katanya ekstrak empedu beruang - tidak sembuh-sembuh juga, karena yang diberikan bukan obat untuk menyembuhkan infkesi tetapi obat untuk menghancurkan batu.
Setelah mendapatkan perawatan yang tepat dan meminum obat yang seharusnya diminum, dalam waktu 3 hari menjalani rawat inap empedu saya pulih kembali dan puji Tuhan, tidak pernah mengalami sakit lagi meskipun saya mengkonsumsi makanan-makanan berminyak.
Dari pengalaman ini saya mendapat pelajaran, semanjur apapun obatnya, namun kalau tidak diberikan untuk penyakit yang tepat, tidak akan bisa menyembuhkan penyakit yang diderita oleh pasien. Demikian juga dalam pekerjaan sehari-hari, tentunya tidak bisa lepas dari problem, entah yang berkaitan dengan pekerjaan kita sendiri ataupun yang dihadapi oleh crew dan anggota team yang lain.
Sebagai person yang mendapat tugas sebagai problem solver, kita diharapkan bisa memberikan solusi terhadap masalah-masalah yang muncul di kantor kita. Diharapkan kita bisa memberikan obat yang tepat untuk menyembuhkan penyakit yang dihadapi oleh kantor kita. Memberikan obat yang salah, selain tidak bisa menyembuhkan penyakit, kadang justru bisa menimbulkan masalah baru. Point ini perlu kita perhitungkan dengan hati-hati. Sebagai contoh misalnya, suatu ketika kita menemukan penyiar yang siarannya tidak memenuhi standar. Apakah obatnya yang tepat? Apakah dengan mengganti dengan penyiar lain yang kita anggap lebih handal? Atau melakukan pembinaan terhadap penyiar yang tidak standar itu?
Kadang seringkali kita berpikir instan mengambil solusi dengan mengganti penyiar tersebut dengan penyiar yang kita anggap lebih baik. Untuk sementara, memang solusi ini terasa sebagai obat yang manjur pada saat itu, namun tidak akan bisa mengobati permasalahan sesungguhnya. Meskipun kita ganti dengan penyiar terbaik, radio kita masih memiliki masalah yang sama, yaitu masih ada penyiar kita yang tidak standar. Karena masalah sebenarnya terletak pada penyiar yang tidak standar, obat yang tepat adalah dengan melatih dan membimbing penyiar itu agar bisa mencapai standar yang telah ditetapkan.
Kunci yang perlu kita miliki agar bisa memberikan obat yang tepat adalah: mengetahui dan memahami apa sebenarnya yang menjadi inti permasalahan melalui pengamatan dan penelitian. Setelah mendapatkan inti masalah, barulah kita bisa mencari solusi apa yang terbaik untuk menyembuhkan persoalan yang sedang di hadapi. Tidak ada salahnya untuk meminta pendapat dan berbagi pengalaman dengan mereka yang lebih senior. Bisa jadi dari pengalaman, mereka memiliki cara-cara jitu untuk menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi. Dengan obat yang tepat kita bisa mengobati langsung ke sumber rasa sakit, tanpa buang waktu, biaya, energi dan terhindar dari resiko yang merugikan.





mas alex…
kenalan…
nama saya fikri
boleh tanya2 gimana cara jadi penyiar radio?
sekian mas ya…
ehm wanna great info…saya suka artikel ini