Beberapa waktu yang lalu satu radio siaran internasional, Radio Singapura International (RSI), terpaksa menghentikan siaran dengan alasan penggunaan gelombang pendek / short wave (SW) dinilai sudah tidak effektif lagi.
RSI bukanlah radio gelombang SW pertama yang turun dari udara. Mengutip tulisan di suarane.org, sebelumnya tercatat Swiss International Radio, Slovak Radio, Finnish Public Broadcasting di Finlandia, serta Deutsche Welle yang menutup siaran Bahasa Jermannya untuk Amerika dan Kanada. Bahkan BBC pun sudah perlahan mematikan beberapa siaran internasionalnya, seperti Siaran Bahasa Melayu, disusul transmisi mereka ke Amerika Utara dan kabarnya perlahan akan mematikan pemancar untuk wilayah Eropa.
Tidak hanya gelombang SW. Tanpa disadari perkembangan tekhnologi juga mulai “menggerus” keberadaan radio AM di Indonesia. Di tahun 80 an hingga awal 90 an, masih banyak radio yang beroperasi dengan menggunakan gelombang AM, terutama di daerah. Sekarang jika mencoba scanning gelombang AM di radio, kita akan menemukan banyak frekwensi yang tidak berpenghuni. Sangat berbeda dengan kepadatan frekwensi pada gelombang FM. Saat ini mungkin hanya tersisa sekitar 100 hingga 200 radio AM di Indonesia. Padahal di Amerika, yang notabene perkembangan tekhnologi kepenyiarannya lebih maju dari Indonesia, hingga Agustus 2007 tercatat 4779 radio AM dan 9159 radio FM(data Federal Communications Commision).
Di Indonesia sebagian besar radio meninggalkan gelombang AM dan hijrah ke gelombang FM yang mampu menghasilkan kualitas audio yang lebih bagus. Kondisi ini didukung oleh faktor komersial, dimana pemasang iklan cenderung lebih suka memasang iklan di radio FM. Harga iklan di radio FM yang jauh lebih mahal ketimbang radio AM tidak menjadi masalah, karena radio FM memang lebih banyak diminati oleh pendengar.
Karena tidak dilirik oleh pendengar dan pengiklan, kondisi radio swasta yang beroperasi di gelombang AM untuk saat ini bisa dikatakan hidup segan mati tak mau. Meskipun berupaya menciptakan acara sekreatif mungkin, tetap saja mereka akan menghadapi kesulitan dalam menjaring penghasilan. Untuk pindah ke gelombang FM, saat ini kondisinya sudah sulit, dimana kepadatan okupansi gelombang FM membuat pemerintah tidak gampang mengeluarkan ijin hijrah.
Jika kondisi ini terus terjadi, tidak menutup kemungkinan radio AM yang hidupnya hanya mengandalkan iklan akan mengalami nasib seperti radio SW. Hilang tanpa kesan dan tanpa ada yang merasa kehilangan.





tapi radio dangdut masih banyak pakai gelombang AM, apa ijinnya enggak sama antara pakai AM dan FM?
Mungkin ini berkaitan dengan pesatnya perkembangan teknologi yg lebih praktis dalam beberapa hal. Secara teknis saya tidak tahu soal perakitan dan pemeliharaan alat radio siaran, meskipun saya inisiator dari sebuah Radio Komunitas di Kabupaten Parigi Moutong Propinsi Sulawesi Tengah.
Berdasar pada beberapa kesaksian teman-teman yang pernah merakit AM, FM relatif lebih mudah mencari komponennya sehingga agak praktis membangunnya. Demikian pula pengoperasian dan perawatannya. Dari pengalam saya, FM banyak peminatnya, karena para pendengar/pemirsa umumnya ingin agar lebih bisa menikmati suara yg dihasilkannya, berbeda ketika saya bekerja di komersial yang AM tahun 1991 saat belum ada stasiun FM (pada akhirnya juga teman saya, pemilik radio, ‘banting stir juga’ ke FM).
Saat saya ambil inisiatif dirikan FM untuk komunitas petani, pemirsa pindah ke radio kami. Ya, alasan mereka sederhana saja, menikmati suara. Kelebihan AM dapat melompat rintangan yg menghalang, gunung misalnya (lagi-lagi menurut teman saya yang memasang alat radio kami) di daratan Teluk Tomini.
Radio, khususnya yg berorientasi mencari keuntungan, dalam hal ini komersil, tentu saja musti menjaga konstituen/pendengar. Saya pun ketika inisiasi radio komunitas tak lepas dari pilihan seperti itu, dimana kaum tani tak hanya mendengar berita dan berita atau sepanjang hari konten siaran serius. Meskipun hanya radio komunitas, kami sadari akan hal itu, perlu menyuguhkan muatan yang memungkinkan konstituen terus mendengar walau sambil bekerja dan menikmati sajian siaran yg serius karena kualitas suara dan isinya baik untuk mereka, membumi karena lokalitasnya.
Yang sulit atau lemahnya radio komunitas, umumnya, dikarenakan skill dan tenaga yang terbatas, khususnya berkaitan teknisi serta pembiayaan.
Adakah dari kawan yg bisa berbagi?
Salam (Gustavo)
gustavo@gmail.com
di indonesia, radio am pergi karena tergilas teknologi. orang lebih suka dengerin radio fm.
radio sekarang banyak yang ngawur…. ijin blm ada dah pada siaran//pdhal dulu aja mau dirikan radio prosesnya lama dan gak brani langsung on air (tertib bossss walau pemberitaannya di kebiri)//selain itu program serta kualitas penyiarnya juga dipersiapkan dengan matang//gak kayak sekarang /asal bisa rakit fm dah brani bikin radio…saya jadi enek kalo dengerin radio yang kayak gitu